Eks Napiter Bongkar Trik Rekrutmen Radikalisme di SMAN 1 Dagangan
Madiun, (afederasi.com) - Aula SMAN 1 Dagangan mendadak senyap saat Erfin Wibowo mulai berkisah tentang masa lalunya. Di hadapan puluhan siswa, pria asal Madiun ini bukan sedang memberikan teori akademik, melainkan membedah "luka lama" sebagai mantan narapidana teroris (Napiter) demi menjaga generasi muda agar tidak terperosok ke lubang yang sama.
Kegiatan bertajuk "Fasilitasi Pencegahan Paham Radikalisme" pada Kamis (7/5/2026) ini merupakan langkah proaktif Bakesbangpol Kabupaten Madiun bersama Badan Intelijen Negara (BIN) Binda Jawa Timur.
Dalam diskusi yang dipandu oleh akademisi UIN Ponorogo, Anjar Kususiyanah, M.Hum., Erfin menceritakan titik baliknya yang bermula pada 2016. Kala itu, semangat beragama yang tinggi justru membawanya terjebak dalam deklarasi ISIS di Malang akibat salah memilih guru dan sumber kajian.
"Dulu, saya merasa paling benar dan menganggap siapa pun yang berbeda adalah musuh," ujar Erfin dengan nada getir.
Ia memperingatkan bahwa ancaman saat ini bergerak secara soft (halus) melalui algoritma media sosial dan gim daring. Erfin meminta siswa untuk kritis dan segera berkonsultasi kepada guru atau orang tua jika menerima ajakan kajian yang tidak jelas sumbernya. Menurutnya, hakikat agama seharusnya menyejukkan. "Bukan untuk menzalimi orang lain meski berbeda prinsip. Hargailah keberagaman sebagai kekuatan bangsa," tegasnya.
Antusiasme peserta memuncak saat sesi dialog dibuka. Para siswa dan tenaga pendidik secara kritis mendalami proses doktrinasi kelompok ekstremis. Didampingi Anjar sebagai moderator, Erfin menjawab lugas setiap pertanyaan dengan menekankan bahwa akal sehat serta keterbukaan informasi adalah benteng terkuat agar tidak dimanipulasi narasi kebencian.
Kepala SMAN 1 Dagangan, Muhadi Prayitno, M.Pd., mengapresiasi kehadiran tim Bakesbangpol, BIN, dan UIN Ponorogo. Ia menyebut kegiatan ini selaras dengan peningkatan prestasi sekolah, di mana lulusan yang diterima di UIN Ponorogo jalur SPAN-PTKIN naik 300 persen tahun ini.
"Kegiatan ini menghadirkan narasumber dengan pengalaman nyata agar siswa mendapat pelajaran berharga. Ini bagian dari visi sekolah menguatkan komitmen bela negara demi Indonesia Emas 2045," tutur Muhadi.
Sementara itu, Kaposda BIN Kabupaten Madiun, Andri Setyawan, S.H., M.H., menjelaskan bahwa radikalisme adalah penyakit yang bermula dari virus intoleransi. Ia mengajak siswa mengamalkan Empat Pilar Kebangsaan sebagai kompas dalam berbangsa.
Suasana mencapai puncaknya saat seluruh siswa berdiri serempak dan meneriakkan yel-yel wawasan kebangsaan dengan penuh energi. "Musuh Kita? Radikalisme! Terorisme! Komitmen Kita? NKRI Harga Mati!" teriak mereka dengan lantang. (Adv/hen)
What's Your Reaction?



