Perebutan Tuan Rumah Muktamar ke-35 NU Mengerucut, Lirboyo dan Jakarta Jadi Kandidat Terkuat

Dukungan terhadap Pondok Pesantren Lirboyo dalam penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU datang dari berbagai tokoh Nahdlatul Ulama. Ketua PWNU Kepulauan Bangka Belitung, KH Masmuni Mahatma, menilai Lirboyo memiliki legitimasi sejarah, kekuatan tradisi keilmuan, dan posisi penting dalam perjalanan organisasi. Menurutnya, memasuki abad kedua NU membutuhkan penguatan spiritualitas dan identitas jam'iyah yang berakar dari lingkungan pesantren.

07 Jul 2026 - 08:18
Perebutan Tuan Rumah Muktamar ke-35 NU Mengerucut, Lirboyo dan Jakarta Jadi Kandidat Terkuat
Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Jawa Timur. (Istimewa) 

Jakarta, (afederasi.com) - Pelaksanaan Muktamar ke-35 NU semakin mendekati babak penentuan setelah Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama 2026 di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, menetapkan agenda muktamar berlangsung pada 1–5 Agustus 2026. Meski lokasi belum diputuskan, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) telah mengirim tim survei untuk menilai kesiapan sembilan pondok pesantren di lima provinsi sebagai calon tuan rumah.

Proses penjaringan lokasi Muktamar ke-35 NU kini memunculkan dua nama yang paling banyak dibicarakan, yakni Pondok Pesantren Lirboyo di Kediri dan DKI Jakarta. Kedua wilayah dinilai memiliki peluang kuat, meski masing-masing menawarkan keunggulan yang berbeda, mulai dari aspek historis, kapasitas penyelenggaraan, hingga dukungan infrastruktur, sebagaimana yang dilansir nuonline.

Dukungan terhadap Pondok Pesantren Lirboyo dalam penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU datang dari berbagai tokoh Nahdlatul Ulama. Ketua PWNU Kepulauan Bangka Belitung, KH Masmuni Mahatma, menilai Lirboyo memiliki legitimasi sejarah, kekuatan tradisi keilmuan, dan posisi penting dalam perjalanan organisasi. Menurutnya, memasuki abad kedua NU membutuhkan penguatan spiritualitas dan identitas jam'iyah yang berakar dari lingkungan pesantren.

Masmuni juga mengusulkan agar rangkaian pembukaan Muktamar ke-35 NU dapat dilaksanakan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas atau Pondok Pesantren Mambaul Ma'arif Denanyar di Kabupaten Jombang. Di sisi lain, ia mempertanyakan kesiapan organisasi PWNU DKI Jakarta yang hingga kini masih menjalani masa perpanjangan kepengurusan sehingga dinilai belum sepenuhnya ideal apabila dipercaya sebagai penyelenggara.

Pandangan serupa mengenai lokasi Muktamar ke-35 NU disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar 2 Sarang, Rembang, KH Abdullah Ubab Maimoen atau Gus Ubab. Ia menyebut Lirboyo sebagai pesantren yang konsisten melahirkan ulama dan kiai sehingga dianggap memiliki legitimasi moral sekaligus pengalaman dalam menjaga tradisi keilmuan Nahdlatul Ulama.

Rais Syuriyah PWNU DKI Jakarta, KH Muhyidin Ishaq, juga memandang Pondok Pesantren Lirboyo layak menjadi lokasi Muktamar ke-35 NU. Menurutnya, pesantren tersebut memiliki nilai simbolik karena menjadi tempat terbangunnya rekonsiliasi di tengah dinamika internal PBNU yang sempat mencuat beberapa waktu lalu. Ia menilai suasana persatuan yang lahir dari Lirboyo menjadi modal penting untuk menggelar muktamar yang membawa semangat kebersamaan.

Meski demikian, dukungan terhadap penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU di DKI Jakarta tidak kalah besar. Sebanyak 17 Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dari berbagai provinsi telah menyatakan dukungan dalam rapat virtual yang digelar pada akhir Juni 2026. Mereka menilai Jakarta menawarkan kemudahan akses sekaligus kesiapan sarana yang diperlukan untuk menggelar forum organisasi terbesar NU tersebut.

Sebagai bagian dari persiapan Muktamar ke-35 NU, Tim Survei PBNU telah meninjau tiga pesantren di Jakarta, yaitu Pondok Pesantren Al-Hamid di Cipayung, Pondok Pesantren Darur Rahman di Kebayoran Baru, serta Pondok Pesantren Asshiddiqiyah di Kebon Jeruk. Dari hasil peninjauan awal, Pondok Pesantren Al-Hamid dinilai paling memenuhi sejumlah indikator teknis, mulai dari akses transportasi, pengalaman menjadi tuan rumah kegiatan nasional, hingga letaknya yang berada di kawasan perbatasan Jakarta dengan Depok dan Bekasi.

Ketua PWNU DKI Jakarta, KH Samsul Ma'arif, menegaskan bahwa prioritas utama bukan semata lokasi Muktamar ke-35 NU, melainkan memastikan agenda lima tahunan organisasi itu dapat berlangsung sesuai jadwal tanpa penundaan lagi. Ia menegaskan PWNU DKI Jakarta siap menerima keputusan apa pun yang nantinya ditetapkan PBNU, sekaligus siap apabila dipercaya menjadi penyelenggara.

Dukungan terhadap Jakarta sebagai lokasi Muktamar ke-35 NU juga datang dari Ketua PWNU Lampung, Puji Raharjo. Menurutnya, ibu kota memiliki keunggulan berupa jaringan transportasi yang lengkap, fasilitas akomodasi yang memadai, serta efisiensi biaya perjalanan bagi peserta dari berbagai daerah. Faktor-faktor tersebut dinilai menjadi pertimbangan penting mengingat waktu persiapan yang relatif singkat.

Penentuan lokasi Muktamar ke-35 NU dijadwalkan diputuskan dalam Rapat Gabungan Harian Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU di Gedung PBNU, Jakarta. Ketua PBNU KH Ulil Abshar Abdalla menjelaskan bahwa hasil survei terhadap sembilan pesantren di Jawa Timur, DKI Jakarta, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, dan Sumatera Barat akan menjadi dasar pengambilan keputusan. PBNU berharap lokasi yang dipilih nantinya mampu menjamin kelancaran penyelenggaraan muktamar sekaligus memperkuat persatuan warga Nahdliyin memasuki abad kedua organisasi. (jae) 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow