PSSI Lamongan Genjot Kapasitas Pelatih dan Wasit Demi Fondasi Sepakbola Usia Dini

""Hari ini kita belajar bersama dan berdiskusi mengenai perubahan-perubahan aturan sepakbola. Perkembangan yang ada harus kita respons dan ikuti. Harus ada kesepahaman antara wasit, pelatih, pemain, maupun seluruh pihak yang terlibat," ujar Edy Yunan Achmadi saat memberikan keterangan, Sabtu (18/7/2026) siang.

18 Jul 2026 - 12:49
PSSI Lamongan Genjot Kapasitas Pelatih dan Wasit Demi Fondasi Sepakbola Usia Dini
Sejumlah insan sepakbola di Kabupaten Lamongan saat mengikuti agenda penyegaran pemahaman regulasi dan pembinaan yang diselenggarakan oleh Askab PSSI Lamongan di Ruang Rapat Sasana Nayaka, Pemkab Lamongan, Sabtu (18/7/2026). Kegiatan ini bertujuan memperkuat fondasi dan menyamakan persepsi dalam pembinaan sepakbola usia dini. (Iyan Farikh/afederasi.com)

Lamongan, (afederasi.com) – Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Lamongan terus bergerak masif dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) sepakbola di wilayahnya. Langkah strategis ini diwujudkan melalui agenda penyegaran pemahaman regulasi dan pembinaan yang digelar di Ruang Rapat Sasana Nayaka, Pemkab Lamongan, Sabtu (18/7/2026).

Kegiatan ini diikuti secara antusias oleh seluruh elemen insan sepakbola di Kabupaten Lamongan, mulai dari jajaran wasit, match commissioner, pelatih, pemain, hingga perwakilan pengelola klub dan Sekolah Sepakbola (SSB) se-Kabupaten Lamongan.

Demi memberikan pemahaman yang komprehensif dan mutakhir, PSSI Lamongan menghadirkan sejumlah praktisi sepakbola nasional sebagai narasumber. Di antaranya adalah Cahyanto (Match Commissioner Super League), Firman Andik Saputro (Matchcom Championship), Agung Setiawan (Wasit Super League), serta Didik Ludianto (Pelatih berlisensi AFC A).

Sejumlah materi dikupas tuntas dalam pertemuan tersebut, meliputi sosialisasi Laws of the Game (LOTG) terbaru, pemahaman aturan sepakbola modern, pembinaan karakter dan nilai dasar olahraga, hingga penyampaian regulasi teknis terkait Youth Elite Soccer League dan Piala Soeratin.

Ketua PSSI Lamongan, Edy Yunan Achmadi, mengungkapkan bahwa penyegaran ini sangat penting untuk menyamakan persepsi seluruh elemen sepakbola lokal di tengah dinamisnya perkembangan regulasi sepakbola global.

"Hari ini kita belajar bersama dan berdiskusi mengenai perubahan-perubahan aturan sepakbola. Perkembangan yang ada harus kita respons dan ikuti. Harus ada kesepahaman antara wasit, pelatih, pemain, maupun seluruh pihak yang terlibat," ujar Edy Yunan Achmadi saat memberikan keterangan, Sabtu (18/7/2026) siang.

Yunan menekankan bahwa kesamaan persepsi antara pengadil lapangan, perangkat pertandingan, tim pelatih, official, hingga pemain merupakan modal utama dan landasan kokoh agar roda pembinaan usia dini di Lamongan berjalan selaras dengan target yang dicita-citakan.

"Kesempatan hari ini mari kita menyamakan persepsi. Tidak ada kepentingan A, B, C, atau lainnya. Kepentingan kita hanya satu, bagaimana pembinaan sepakbola usia dini di Lamongan berjalan dengan baik, sehingga anak-anak bisa terus berkembang dan nantinya mampu bermain di level nasional bahkan internasional," tuturnya dengan optimis.

Saat ini, lanjut Yunan, fokus utama PSSI Lamongan tertuju pada kelompok usia dini, mulai dari usia 10 tahun, 12, 14, hingga kelompok usia 17 tahun. Komitmen ini diwujudkan lewat penyediaan berbagai panggung kompetisi resmi yang berjenjang dan berkelanjutan di tingkat daerah.

"Kami berharap beberapa tahun ke depan hasilnya bisa kita rasakan. Saat ini fokus kami adalah memupuk dan mendidik pemain sejak usia dini. Karena itu, kami terus menghadirkan kompetisi yang berkesinambungan sebagai wadah pembinaan anak-anak Lamongan," jelasnya.

Sejumlah kompetisi yang terus digulirkan secara konsisten di antaranya adalah Liga Anak Megilan, Youth Elite Soccer League, Lamongan Super League, turnamen antar-pelajar, hingga ajang bergengsi Piala Soeratin.

Lebih lanjut, Yunan memaparkan bahwa pemahaman regulasi merupakan aspek non-teknis yang wajib dikuasai dalam iklim sepakbola modern. Pemain hebat tidak lagi hanya dinilai dari skill olah bola di lapangan, melainkan juga kecerdasan dalam memahami aturan permainan.

"Regulasi menjadi dasar terciptanya pertandingan yang adil dan profesional. Kalau semua sudah memiliki pemahaman yang sama, maka kesalahpahaman di lapangan bisa diminimalkan," tegas pria yang karib disapa Yunan ini.

Di akhir penjelasannya, PSSI Lamongan turut menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh klub lokal dan SSB yang selama ini menjadi garda terdepan dalam membina talenta-talenta muda secara konsisten. Sinergi ini diharapkan mampu menjaga tradisi Kabupaten Lamongan sebagai lumbung pesepakbola profesional tanah air.

"Kami mengapresiasi teman-teman klub dan SSB yang tidak pernah lelah melakukan pembinaan. Tanpa peran mereka, PSSI Lamongan tentu tidak bisa berbuat banyak. Semoga apa yang selama ini dilakukan bisa terus kita pertahankan dan tingkatkan bersama," pungkasnya.

Sebagai informasi, konsistensi pembinaan usia dini di Lamongan terbukti sukses melahirkan sederet nama besar di panggung sepakbola nasional, sebut saja almarhum Choirul Huda, Taufiq Kasrun, Dendy Sulistyawan, Ahmad Nur Hardianto, Birrul Walidain, Risqki Putra Utomo, hingga Muhammad Affani Ubaidillah. (yan)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow