Ustadz Achmad Saifullah Syahid Ajak Jemaah Refleksikan Makna Puasa Secara Holistik
Jombang, (afederasi.com) – Bulan Ramadan sering kali dimaknai sebagai momentum peningkatan kesalehan individual. Mulai dari seruan mengurangi porsi makan, menahan hawa nafsu, hingga memperbanyak sedekah, hampir seluruh ceramah dan konten edukasi keagamaan berfokus pada perubahan diri sendiri.
Namun, bagaimana jika pendekatan ini justru melupakan akar persoalan yang bersifat sistemik? Pertanyaan kritis tersebut mengemuka dalam Majelis Ilmu Ngaji Bareng yang diselenggarakan di Mushola Al-Fath, Jagalan, Kepatihan, Jombang, pada Rabu (25/02/ 2026).
Mengisi pengajian rutin bulan Ramadan 1447 H tersebut, Ustadz Achmad Saifullah Syahid menyampaikan pandangan yang mengajak jemaah untuk merefleksikan makna ibadah puasa secara lebih mendalam dan struktural.
Dalam ceramahnya, Ustadz yang akrab disapa Ustadz Saifullah ini mengkritik model pendidikan keagamaan yang selama ini dominan. Ia menganalogikannya dengan konsep banking education yang dikritik oleh pedagog asal Brasil, Paulo Freire.
"Pendekatan yang menabungkan kebajikan ke dalam diri individu, tanpa menyentuh struktur yang memproduksi pemborosan itu sendiri, ibarat versi spiritual dari banking education. Beban perubahan diletakkan sepenuhnya di pundak individu," tegasnya di hadapan puluhan jemaah.
Menurutnya, konsumsi berlebihan yang kerap terjadi di bulan Ramadan bukanlah penyakit, melainkan gejala. "Penyakit sesungguhnya adalah arsitektur sosial-ekonomi yang membuat kata 'cukup' terasa tidak pernah cukup," imbuhnya.
Ia mencontohkan bagaimana sistem distribusi pangan yang timpang, industri makanan yang berorientasi pada kapitalisasi limbah, algoritma digital yang terus memicu hasrat konsumtif, serta budaya kerja eksploitatif yang mencabut kendali manusia atas waktunya sendiri, sering kali luput dari kritik.
Sistem-sistem ini dibiarkan berjalan aman, sementara individu terus-menerus diingatkan untuk bersabar dan menahan diri.
Lebih jauh, Ustadz Saifullah menjelaskan esensi puasa yang sejatinya radikal. "Puasa adalah praktik menunda kepuasan, mengatur ulang ritme biologis, dan mengganggu logika pasar yang serba instan.
Ia adalah latihan reclaiming time—upaya merebut kembali kendali atas ritme hidup dari sistem yang mengekstraksi energi manusia tanpa henti," paparnya.
Ia menyoroti fenomena "ledakan" konsumsi saat berbuka puasa. Menurutnya, hal itu tidak semata-mata karena lapar, tetapi karena sepanjang hari individu hidup dalam sistem kerja yang tidak memberi ruang jeda dan otonomi.
Banyak orang berbuka di sela rapat daring, membalas pesan atasan sambil meneguk air, atau menyantap makanan dalam perjalanan.
"Waktu berbuka menjadi katarsis emosional atas kehidupan yang terkontrol oleh target, deadline, dan tekanan ekonomi.
Mengajak orang 'makan secukupnya' tanpa mengkritik struktur yang membuat ledakan konsumsi menjadi pelampiasan psikologis adalah pedagogi yang tidak lengkap.
Dalam batas tertentu, ia justru melayani status quo dengan memindahkan persoalan sistemis menjadi rasa bersalah individual," kritiknya.
Oleh karena itu, Ustadz Saifullah mengajak jemaah untuk tidak berhenti pada kritik, tetapi bergerak menuju sintesis.
Ia mendorong agar kesalehan personal dikembangkan menjadi structural agency—kemampuan untuk merancang, memengaruhi, dan mereformasi sistem.
Ia memberikan contoh konkret yang bisa dilakukan di bulan Ramadan. "Zakat, misalnya, jangan berhenti pada karitas musiman. Ia harus dikonversi menjadi model pemberdayaan produktif sosial-ekonomi.
Takjil tidak sekadar dibagikan, tetapi didesain melalui pemetaan kebutuhan riil dan pengurangan limbah.
Buka puasa bersama tidak menjadi festival konsumsi, tetapi bisa menjadi forum refleksi kebijakan pangan dan keadilan sosial," tuturnya.
Ia menantang jemaah untuk mulai bertanya secara kritis: Mengapa sistem membuat perilaku boros terasa normal, dan bagaimana kita dapat ikut mendesain ulang sistem itu?
Di akhir ceramahnya, Ustadz Saifullah menegaskan bahwa potensi terbesar Ramadan terletak pada konsentrasi moral, redistribusi ekonomi, dan solidaritas kolektif dalam skala besar—energi sosial yang jarang muncul di bulan lain.
"Jika energi ini hanya dihabiskan untuk memperbaiki diri tanpa memperbaiki struktur, maka ia akan selalu berulang sebagai siklus musiman. Ramadan hanya akan menjadi ritual tahunan yang patuh dan beradaptasi pada sistem nilai yang sama," ujarnya.
Ia mengajak agar Ramadan dapat menjadi prototipe masyarakat alternatif selama tiga puluh hari, yang siap diimplementasikan.
"Tantangan sesungguhnya bukan melawan godaan dari luar semata, tetapi melawan struktur berpikir dari dalam—cara pandang yang membingkai masalah sosial-struktural sebagai masalah moral-individual. Jangan sampai kita merasa cukup beriman tanpa pernah benar-benar mengubah apa pun," pungkasnya.
Pengajian yang berlangsung khidmat tersebut mendapat perhatian serius dari jemaah yang hadir. Banyak di antara mereka yang mengaku mendapatkan perspektif baru dalam memaknai ibadah puasa di tengah kompleksitas kehidupan modern. (san)
What's Your Reaction?



