Tanaman Padi Terdampak Banjir, DPUPR Jombang Turun Bersihkan Sumbatan Sungai

07 Apr 2026 - 07:46
Tanaman Padi Terdampak Banjir, DPUPR Jombang Turun Bersihkan Sumbatan Sungai
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Jombang bergerak cepat. Pemerintah daerah menerjunkan alat berat guna membersihkan tumpukan sampah dan material yang menyumbat aliran air di sejumlah titik jembatan, Senin (06/04/2026). (Foto:Istimewa)

Jombang, (afederasi.com) – Bencana banjir yang melanda Kabupaten Jombang beberapa hari terakhir membawa dampak signifikan terhadap sektor pertanian dan permukiman warga. Sedikitnya 525 hektare tanaman padi dan ratusan rumah warga terendam akibat luapan sejumlah afvoer.

Menanggapi situasi tersebut, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Jombang bergerak cepat. Pemerintah daerah menerjunkan alat berat guna membersihkan tumpukan sampah dan material yang menyumbat aliran air di sejumlah titik jembatan.

Dua Titik Sumbatan Utama Dibersihkan
Kepala Dinas PUPR Jombang, Imam Bustomi, melalui Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Sultoni menjelaskan bahwa penanganan dilakukan secara cepat dengan mengerahkan ekskavator. Berdasarkan identifikasi di lapangan, kondisi Afvoer Watudakon sebelumnya dalam keadaan penuh air.

"Dampaknya bahkan dirasakan hingga Kabupaten Mojokerto, yang mengalami banjir di area persawahan dan hampir masuk ke permukiman warga," terang Sultoni, Senin (06/04/2026).

Petugas membersihkan dua titik sumbatan utama, yaitu di Desa Carangrejo dan Desa Pojokerjo, Kecamatan Kesamben, Jombang. Material penyumbat didominasi oleh ranting bambu dan sampah yang tersangkut di pilar jembatan.

"Beberapa titik sumbatan sudah kami bersihkan dengan ekskavator, ada dua titik. Upaya ini cukup membantu memperlancar aliran air," imbuhnya.

Kendala Akses Hambat Pembersihan Titik Lain
Meskipun upaya pembersihan telah dilakukan, Sultoni mengakui masih terdapat beberapa titik sumbatan yang belum tertangani. Kendala utama adalah keterbatasan akses jalan menuju lokasi.

"Masih ada beberapa sumbatan yang belum ditangani karena aksesnya tidak ada. Kalau dipaksakan menggunakan alat berat, bisa merusak tanggul dan berpotensi meluber. Sementara kami tunda dulu," ungkapnya.

Seiring dengan penanganan yang dilakukan, kondisi genangan air dilaporkan mulai surut di sejumlah wilayah. Di antaranya Desa Carangrejo, Kedungbetik, hingga Podoroto sampai ke bagian hilir.

Normalisasi Sungai Masih Tunggu Tindak Lanjut BBWS Brantas
Ke depan, pihak DPUPR Jombang menilai diperlukan normalisasi saluran secara menyeluruh untuk mencegah kejadian serupa terulang. Namun, pelaksanaannya masih menunggu tindak lanjut dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas.

"Memang butuh normalisasi. Kami sudah bertemu dengan PPK (Pejabat Pembuat Komitmen), tapi karena kondisi air masih tinggi, kemungkinan baru dilakukan beberapa bulan ke depan, menunggu cuaca dan curah hujan," katanya.

525 Hektare Lahan Sawah Terendam Banjir
Sebelumnya, banjir yang melanda Kabupaten Jombang tidak hanya merendam permukiman warga, tetapi juga berdampak berat pada sektor pertanian. Dinas Pertanian Jombang mencatat sekitar 525 hektare lahan sawah terdampak banjir.

Lahan pertanian yang terendam tersebut tersebar di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Kesamben, Ploso, dan Plandaan. Para petani di wilayah tersebut terpaksa merelakan tanamannya yang hampir memasuki masa panen rusak tergenang air.

Dengan adanya pembersihan sumbatan sungai oleh DPUPR Jombang, warga dan petani berharap aliran air dapat kembali normal dan banjir susulan tidak kembali terjadi di kawasan yang sama. (san)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow