Kolaborasi Jadi Kunci, Cargil Dorong 6 Desa di Manyar Cegah Stunting Secara Berkelanjutan

Program ini sejak awal dirancang untuk mendorong pencegahan stunting yang berangkat dari desa, dengan fokus pada penguatan pengetahuan dan peran komunitas,” ujar Admin and Relations Manager PT Cargill Indonesia, Adi Suprayitno.

01 Apr 2026 - 01:48
Kolaborasi Jadi Kunci, Cargil Dorong 6 Desa di Manyar Cegah Stunting Secara Berkelanjutan
Program Promosi dan Pencegahan Stunting berbasis Desa kolaborasi PT Cargil Indonesia dengan Pemkab Gresik (Istimewa/afederasi.com

Gresik, (afederasi.com) – Upaya penurunan stunting tidak cukup hanya mengandalkan layanan kesehatan. Pengalaman di enam desa di Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, menunjukkan bahwa kunci utama ada pada penguatan pengetahuan dan peran komunitas di tingkat desa.

Hal itu menjadi benang merah dalam Program Promosi dan Pencegahan Stunting berbasis desa yang dijalankan PT Cargill Indonesia sejak 2022 melalui skema tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

Memasuki 2026, program tersebut resmi menuntaskan fase kedua dengan memperluas cakupan dan memperdalam pendekatan berbasis komunitas di enam desa, yakni Manyarejo, Manyarsidomukti, Manyarsidorukun, Peganden, Leran, dan Banjarsari.

“Program ini sejak awal dirancang untuk mendorong pencegahan stunting yang berangkat dari desa, dengan fokus pada penguatan pengetahuan dan peran komunitas,” ujar Admin and Relations Manager PT Cargill Indonesia, Adi Suprayitno.

Penutupan program dikemas dalam forum refleksi bertajuk Penutupan Program Promosi dan Pencegahan Stunting di Desa Fase 2, yang dirangkaikan dengan Halal Bihalal di Hotel Horison Gresik, Senin (30/03/2026).

Wakil Bupati Gresik, Asluchul Alif, menegaskan bahwa penanganan stunting harus dilakukan secara kolaboratif lintas sektor.

“Penurunan stunting tidak bisa dilakukan sendiri. Harus melibatkan pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha,” tegasnya.

dr Alif sapaan akrab Wabup juga mengingatkan agar setiap program benar-benar berorientasi pada dampak nyata.

“Program boleh banyak, relawan boleh banyak, tapi kalau tidak berdampak pada penurunan stunting, itu harus dievaluasi,” ujarnya.

Fokus pada Edukasi dan Komunitas

Berbeda dengan pendekatan kuratif, program CSR Cargill lebih menitikberatkan pada upaya promotif dan preventif melalui edukasi serta peningkatan kapasitas masyarakat.

Salah satu strategi utamanya adalah pembentukan Laskar Cegah Stunting, kelompok kader berbasis komunitas yang melibatkan PKK, bidan desa, hingga kader kesehatan.

Sebanyak 42 kader telah dilatih untuk melakukan komunikasi perubahan perilaku dan pendampingan keluarga. Mereka menjadi ujung tombak edukasi di masyarakat melalui berbagai kegiatan seperti kelas ibu menyusui dan parenting balita.

Program ini telah menjangkau sedikitnya 452 ibu menyusui dan 440 balita PAUD di enam desa sasaran.

Selain itu, dibentuk pula forum rembuk stunting desa sebagai ruang kolaborasi antara pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan kader kesehatan untuk menyelaraskan program dengan perencanaan pembangunan desa.

Tantangan di Kawasan Industri

Cargill menilai, tantangan stunting di Kecamatan Manyar tidak lepas dari karakter wilayah sebagai kawasan industri. Mobilitas tinggi serta keterbatasan waktu orang tua dalam pengasuhan menjadi faktor risiko.

Selain itu, masih ditemukan kesenjangan pemahaman terkait gizi seimbang, baik bagi ibu hamil, ibu menyusui, maupun remaja putri.

“Angka hanyalah satu sisi. Di lapangan, tantangan perubahan perilaku dan akses layanan masih nyata,” kata Adi.

Menuju Penurunan Berkelanjutan

Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting nasional turun dari 21,5 persen menjadi 19,8 persen. Di Gresik, angka stunting juga menurun dari 15,4 persen menjadi 15,2 persen.

Meski demikian, upaya penurunan dinilai harus terus diperkuat agar berkelanjutan.

Cargill menegaskan komitmennya untuk tidak sekadar menjadi penyandang dana, tetapi turut mendorong transformasi sosial di masyarakat.

“Kami ingin membangun nilai bersama dan perubahan jangka panjang di komunitas,” tutup Adi.

Ke depan, enam desa di Kecamatan Manyar diharapkan dapat menjadi model penanganan stunting berbasis komunitas yang mampu direplikasi di wilayah lain.(frd)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow