Warga Tulungagung Keluhkan Harga Bright Gas Naik, Tabung 12 Kg Kini Tembus Rp228 Ribu
Harga gas LPG nonsubsidi di Tulungagung resmi naik per April 2026. Simak rincian kenaikan harga Bright Gas 5,5 kg, 12 kg, hingga tabung 50 kg di sini.
Tulungagung, (afederasi.com) – Tren kenaikan harga energi mulai menyentuh level daerah. Sejak Sabtu (18/4/2026) lalu, harga Liquefied Petroleum Gas (LPG) nonsubsidi di wilayah Tulungagung dan sekitarnya resmi mengalami lonjakan signifikan, terutama untuk ukuran 5,5 kilogram hingga 50 kilogram.
Kenaikan yang diputuskan langsung oleh Pertamina ini menyasar seluruh lini produk Bright Gas dan gas industri. Manajer Agen PT Gas Elpindo Jaya, Agung Ari, mengonfirmasi bahwa penyesuaian harga ini mulai berlaku serentak untuk merespons dinamika pasar energi nasional.
"Kenaikan harga terjadi sejak 18 April 2026. Ini berlaku untuk tabung gas LPG 5,5 kg, 12 kg, hingga 50 kg," ujar Agung saat memberikan keterangan di kantornya, Selasa (21/4/2026).
Rincian kenaikan harga tergolong cukup tajam. Untuk tabung Bright Gas 5,5 kg, harga melonjak sekitar 19 persen atau naik Rp17 ribu, dari harga semula Rp90 ribu menjadi Rp107 ribu per tabung. Kondisi serupa terjadi pada ukuran 12 kg yang terkerek naik Rp36 ribu menjadi Rp228 ribu dari harga awal Rp192 ribu.
Lonjakan paling drastis terlihat pada kategori gas industri ukuran 50 kg. Tercatat, kenaikan mencapai 28 persen atau sebesar Rp234 ribu. Saat ini, konsumen harus merogoh kocek hingga Rp1.073.000 dari harga sebelumnya yang hanya Rp839 ribu.
"Kenaikan harga nonsubsidi memang sudah cukup lama tidak terjadi, terakhir sekitar tahun 2022 atau 2023. Khusus untuk gas 50 kg, harganya memang akan selalu diperbarui setiap bulan," tambah Agung.
Meski angka kenaikan cukup tinggi, Agung mengklaim bahwa sejauh ini belum ada penurunan permintaan yang signifikan dari konsumen. Ia juga menjamin bahwa ketersediaan stok gas di wilayah Tulungagung dan Trenggalek masih berada dalam posisi aman untuk memenuhi kebutuhan pasar.
"Sejauh ini kenaikan harga belum berpengaruh pada permintaan masyarakat," jelasnya singkat.
Selama ini, pasar utama gas nonsubsidi di wilayah tersebut didominasi oleh pelaku usaha kuliner skala besar, sektor kesehatan, hingga peternakan. Agung menyebutkan bahwa pelanggan setianya rata-rata berasal dari restoran, rumah sakit, peternak ayam, hingga dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Kami melayani outlet di Tulungagung dan Trenggalek. Permintaan terbanyak memang datang dari sektor restoran dan rumah makan skala besar," pungkasnya.(riz/dn)
What's Your Reaction?



