Harga Telur Anjlok, Pakan Meroket: Peternak Jombang Terjepit di Dua Sisi

20 Jul 2026 - 10:41
Harga Telur Anjlok, Pakan Meroket: Peternak Jombang Terjepit di Dua Sisi
Karyawan peternak ayam petelur saat panen telur di kandang di Desa Mojotengah Kecamatan Bareng Kabupaten Jombang, Senin (20/07/2026). (Foto:Santoso/afederasi.com)

Jombang, (afederasi.com) – Para peternak ayam petelur di Kabupaten Jombang saat ini sedang dilanda situasi sulit. Dalam beberapa pekan terakhir, harga telur di tingkat kandang menunjukkan tren penurunan, sementara biaya produksi, terutama pakan, justru terus merangkak naik. 

Kondisi ini membuat margin keuntungan peternak petelur di Jombang semakin tipis dan terancam merugi, Senin (20/07/2026).

Seorang peternak asal Desa Mojotengah, Kecamatan Bareng, Eko Murdiyanto, mengungkapkan bahwa harga jual telur di kandangnya saat ini berada di angka Rp20.500 hingga Rp22.500 per kilogram. 

Padahal, untuk bisa menutup biaya operasional dan mendapatkan keuntungan yang layak, harga ideal yang dibutuhkan peternak adalah sekitar Rp25.000 per kilogram .

"Sebelumnya harga sempat di angka Rp18.000 hingga Rp18.500. Sekarang memang mulai naik sedikit, tapi masih sangat jauh dari kata normal," keluh Eko saat ditemui di kandangnya, Kamis (20/7/2026) .

Eko menjelaskan bahwa anjloknya harga ini mulai terasa sejak masa libur sekolah, di mana permintaan pasar berkurang drastis. Akibatnya, stok telur menumpuk di kandang maupun gudang pedagang .

Untuk menghindari kerugian yang lebih besar karena telur busuk, sebagian peternak terpaksa melepas produknya dengan harga di bawah harga pokok produksi (HPP) yang diperkirakan mencapai Rp22.300 per kilogram .

"Biasanya harga masih di atas Rp25 ribu per kilogram. Harusnya minimal Rp25 ribu supaya masih ada untung. Sekarang bukan untung, malah terus tekor," ungkapnya dengan nada prihatin .

Di tengah harga jual yang rendah, peternak justru dibebani kenaikan biaya pakan. Harga pakan jadi saat ini mencapai Rp7.800 per kilogram . Sementara itu, harga konsentrat pabrik disebut naik dari Rp385.000 menjadi Rp420.000 per sak.

Komponen lokal seperti jagung pipil juga ikut melambung ke angka Rp6.500–Rp6.600, dan dedak (katul) naik dari Rp4.800 menjadi Rp5.600 per kilogram .

Peternak menduga bahwa anjloknya harga telur dipicu oleh beberapa faktor. Selain melemahnya permintaan saat libur sekolah, kelebihan populasi ayam petelur (overpopulasi) dinilai menjadi penyebab utama.

Maraknya peternak baru yang bermunculan, didorong oleh tingginya permintaan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) beberapa waktu lalu, turut menyebabkan pasokan telur melimpah di pasaran .

Lebih lanjut, Eko mengatakan isu di media sosial yang menyebutkan bahwa Program MBG akan mengganti telur dengan bahan pangan lain seperti kentang turut memicu kepanikan dan memperburuk situasi di tingkat peternak.

"Akibat penurunan permintaan yang signifikan, persaingan di tingkat peternak menjadi tidak sehat dan memaksa mereka untuk banting harga, "pungkasnya 

Para peternak berharap agar pemerintah dapat segera meringankan beban mereka dan menyelamatkan usaha peternakan di Jombang dari ancaman gulung tikar. (san)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow