Muktamar ke-35 NU di Jombang, Kiai Junaidi: Momentum Kembali ke Khittah Perjuangan

20 Jul 2026 - 10:56
Muktamar ke-35 NU di Jombang, Kiai Junaidi: Momentum Kembali ke Khittah Perjuangan
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Aqobah International School (AIS) Jombang, KH A. Junaidi Hidayat, Senin (20/07/2026).(Foto: Istimewa)

Jombang, (afederasi.com) – Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang akan digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada 27-31 Agustus 2026, berbagai tokoh pesantren mulai menyampaikan harapan terkait arah kepemimpinan NU ke depan.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Aqobah International School (AIS) Jombang, KH A. Junaidi Hidayat, menilai muktamar di Jombang merupakan anugerah dan momentum penting untuk mengembalikan organisasi kepada nilai-nilai dasar yang diwariskan para pendiri (muassis) .

Menurutnya, Jombang memiliki hubungan historis yang sangat kuat dengan kelahiran NU karena sejumlah tokoh pendirinya berasal dari Kota Santri tersebut. "Alhamdulillah akhirnya Muktamar ke-35 NU dilaksanakan di Kabupaten Jombang, khususnya di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas. 

Ini merupakan sebuah anugerah dan saya kira sangat wajar karena para pendiri Nahdlatul Ulama banyak berasal dari Jombang," ujar Kiai Junaidi kepada awak media, Senin (20/7/2026) .

Ia menyebut nama-nama besar seperti Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari, KH Abdul Wahab Chasbullah dan KH. Bisri Syansuri sebagai tokoh utama yang memiliki peran besar dalam lahirnya Nahdlatul Ulama. 

"NU lahir dari pemikiran dan perjuangan para ulama besar Jombang. Karena itu muktamar di Jombang memiliki makna historis yang sangat kuat bagi perjalanan organisasi," katanya .

Ketika ditanya mengenai sosok ideal yang layak memimpin PBNU pada periode mendatang, Kiai Junaidi menegaskan bahwa pemimpin NU harus memiliki kapasitas keilmuan yang kuat (alimun) sekaligus mampu memahami perkembangan masyarakat yang terus berubah (bashirun bi ahli zamanihi). 

"Kalau di NU, pemimpin harus alimun, memiliki keilmuan yang kuat tentang agama dan kehidupan. Selain itu juga harus bashirun bi ahli zamanihi, artinya memiliki kepekaan terhadap perkembangan dan dinamika masyarakat pada zamannya," jelasnya.

Ia menilai kemampuan membaca kebutuhan masyarakat menjadi salah satu syarat penting karena NU saat ini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks. 

"Pemimpin NU harus mampu mengikuti perkembangan kebutuhan masyarakat. Jadi bukan hanya kuat dalam ilmu agama, tetapi juga mampu menjawab tantangan zaman dan memberikan solusi terhadap persoalan yang dihadapi umat," katanya.

Terkait munculnya wacana mengenai figur-figur yang saat ini menjabat sebagai menteri atau memiliki latar belakang politik untuk memimpin PBNU, Kiai Junaidi mengaku tidak mempermasalahkan hal tersebut. Menurutnya, yang terpenting adalah niat, integritas, dan komitmennya untuk mengabdi kepada Nahdlatul Ulama dan bangsa Indonesia. 

"Saya kira dari mana pun asalnya tidak terlalu penting. Mau dari menteri, non-menteri, dari struktur atau non-struktur, yang penting memiliki komitmen untuk membawa NU menjadi lebih baik dan niatnya benar-benar untuk kemaslahatan Nahdlatul Ulama serta bangsa Indonesia," ujarnya.

Ketika dimintai tanggapan mengenai kelayakan pengurus PBNU saat ini untuk kembali maju, Kiai Junaidi memilih menyerahkan sepenuhnya kepada forum muktamar. Menurutnya, evaluasi terhadap kepemimpinan PBNU merupakan hak para muktamirin yang memiliki kewenangan menentukan arah organisasi. 

"Itu biar menjadi kewenangan muktamirin. Mereka yang berada di struktur dan memiliki hak dalam forum muktamar tentu lebih berwenang untuk melakukan evaluasi dan memberikan penilaian," katanya .

Kiai Junaidi juga menilai NU tidak pernah kekurangan kader yang memiliki kapasitas untuk memimpin organisasi. Bahkan menurutnya, banyak tokoh NU dari berbagai daerah yang memiliki kemampuan dan pengalaman memadai. 

"NU ini gudangnya pemimpin. Banyak sekali tokoh yang layak. Di Jombang saja ada Gus Kikin, ada Gus Irfan, Gus Salam dan masih banyak tokoh lain di berbagai daerah yang memiliki kapasitas kepemimpinan," ujarnya. 

"Semua harus berjalan dengan niat yang ikhlas untuk Nahdlatul Ulama, untuk bangsa dan negara. Itu yang paling penting," tegasnya . Ia berharap proses pemilihan berjalan demokratis dan menghasilkan sosok terbaik yang mampu membawa NU semakin maju . (san)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow