Unisda Lamongan Jadi Tuan Rumah Delegasi BARMM Filipina, Perkuat Kurikulum Madrasah Asia Tenggara

"Unisda menyambut dengan hangat kehadiran delegasi BARMM di Lamongan. Kami berharap kegiatan ini menjadi sarana saling belajar, berbagi pengalaman, dan memperkuat kerja sama dalam pengembangan pendidikan madrasah yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman," ujar Hafidh Nashrullah saat membuka acara di Managib Hall Unisda, Senin (20/07/2026).

20 Jul 2026 - 13:46
Unisda Lamongan Jadi Tuan Rumah Delegasi BARMM Filipina, Perkuat Kurikulum Madrasah Asia Tenggara
Rektor Unisda Lamongan, Muhammad Hafidh Nashrullah, saat memberikan sambutan dalam acara Courtesy Call bersama delegasi Kementerian Pendidikan BARMM Filipina di Managib Hall Unisda, Senin (20/7/2026). Forum ini fokus pada pengembangan kurikulum madrasah nonformal di Asia Tenggara. (Iyan Farikh/afederasi.com)

Lamongan, (afederasi.com) – Universitas Islam Darul ‘Ulum (Unisda) Lamongan kembali menunjukkan tajinya di kancah internasional. Kali ini, kampus hijau di Lamongan tersebut dipercaya menjadi tuan rumah dalam agenda penting berskala regional Asia Tenggara.

Unisda menyambut hangat kedatangan delegasi dari Kementerian Pendidikan Dasar, Tinggi, dan Teknikal Bangsamoro Autonomous Region in Muslim Mindanao (BARMM), Filipina. Kunjungan strategis ini dikemas dalam agenda Benchmarking Pengembangan Kurikulum Madrasah Nonformal BARMM yang berlangsung selama empat hari, yakni mulai 20 hingga 23 Juli 2026.

Mengusung tema “Madrasah Education Partnership Forum”, kolaborasi ini bertujuan untuk merumuskan serta membangun sistem pendidikan madrasah yang unggul, inklusif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman di wilayah konflik Muslim Mindanao.

Rektor Unisda Lamongan, Muhammad Hafidh Nashrullah, dalam sambutannya menyampaikan rasa hormat dan apresiasi setinggi-tingginya atas kepercayaan yang didelegasikan oleh BARMM Filipina kepada Unisda.

"Unisda menyambut dengan hangat kehadiran delegasi BARMM di Lamongan. Kami berharap kegiatan ini menjadi sarana saling belajar, berbagi pengalaman, dan memperkuat kerja sama dalam pengembangan pendidikan madrasah yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman," ujar Hafidh Nashrullah saat membuka acara di Managib Hall Unisda, Senin (20/07/2026).

Hafidh menambahkan, agenda internasionalisasi seperti ini merupakan langkah konkret Unisda dalam mendongkrak kualitas tri dharma perguruan tinggi, yang meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Melalui jargon “Unisda for South East Asia”, kampus berkomitmen memberi kontribusi nyata bagi dunia pendidikan Islam global.

"Ini adalah momentum penting. Lewat kemitraan global yang terus dibangun, kami ingin menghadirkan kontribusi nyata bagi pengembangan pendidikan Islam, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di tingkat regional dan internasional," imbuhnya menekankan.

Pantauan di lokasi, rangkaian kegiatan hari pertama diisi dengan pemaparan komprehensif mengenai peta jalan dan sistem pendidikan madrasah di Indonesia. Materi ini disampaikan langsung oleh para akademisi, praktisi, serta menghadirkan narasumber otoritatif dari Kementerian Haji (Kemenhaj) Republik Indonesia serta jajaran dosen ahli dari Unisda.

Memasuki hari kedua dan seterusnya, para delegasi asal Filipina ini akan diajak menyelami teori pengembangan kurikulum guna menyusun profil ideal pelajar madrasah nonformal di BARMM. Tidak hanya berkutat di dalam aula, rombongan juga dijadwalkan melakukan studi lapangan (field trip) ke sejumlah madrasah dan pesantren unggulan di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Matholiul Anwar Lamongan.

Di sana, para delegasi akan melihat langsung bagaimana integrasi kurikulum, manajemen tata kelola pesantren, hingga program kemandirian lembaga diaplikasikan secara nyata demi mencetak lulusan yang berdaya saing tinggi.

Puncak dari forum internasional ini nantinya adalah penandatanganan dan penyusunan draf final kerangka kurikulum madrasah nonformal BARMM. Hasil kolaborasi taktis antara tim perumus Unisda dan delegasi Filipina tersebut diharapkan mampu menjadi dokumen rujukan utama bagi reformasi pendidikan Islam di wilayah Bangsamoro, sekaligus mempererat hubungan diplomatik akademik antara Indonesia dan Filipina. (yan)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow