Tulungagung Masuk 5 Besar Angka Kecelakaan Tertinggi di Jatim, Tiga Insiden Terjadi Setiap Hari
Angka kecelakaan di Tulungagung tembus 357 kasus hingga April 2026. Satlantas Polres Tulungagung catat 29 orang meninggal dunia dan imbau waspada di jam rawan pagi hari.
Tulungagung, (afederasi.com) – Angka kecelakaan lalu lintas di wilayah hukum Polres Tulungagung menunjukkan tren yang mengkhawatirkan sepanjang awal tahun 2026. Terhitung sejak 1 Januari hingga 20 April 2026, tercatat sebanyak 357 kasus kecelakaan terjadi, yang berarti rata-rata terdapat tiga insiden di jalan raya setiap harinya.
Kanit Gakkum Satlantas Polres Tulungagung, Ipda Gerry Permana, mengungkapkan bahwa dari ratusan insiden tersebut, sebanyak 29 orang dinyatakan meninggal dunia. Selain itu, terdapat satu korban luka berat dan 708 orang mengalami luka ringan, dengan total kerugian material menembus angka Rp338 juta.
"Angka ini menempatkan Kabupaten Tulungagung sebagai salah satu daerah dengan tingkat kecelakaan lalu lintas yang cukup tinggi di Jawa Timur, bahkan konsisten berada di lima besar," ujar Ipda Gerry, Senin (20/4/2026).
Ipda Gerry menjelaskan bahwa lonjakan kasus mulai terasa signifikan pasca-momentum Lebaran Idul Fitri pada Maret lalu. Hal ini disinyalir berkaitan dengan menurunnya intensitas pengawasan di lapangan seiring berakhirnya Operasi Ketupat yang sebelumnya melibatkan pengerahan personel secara masif.
Faktor perilaku pengendara tetap menjadi pemicu dominan dalam rentetan kecelakaan ini. Minimnya konsentrasi, pelanggaran rambu lalu lintas, serta kebiasaan tidak mengurangi kecepatan saat melintasi persimpangan menjadi catatan utama pihak kepolisian. Uniknya, perbaikan infrastruktur jalan yang semakin baik justru memberikan dampak sampingan berupa kecerobohan pengendara.
"Kondisi jalan yang semakin baik justru memicu euforia pengendara untuk melaju lebih cepat, yang akhirnya meningkatkan risiko kecelakaan," paparnya.
Data kepolisian menunjukkan bahwa waktu paling rawan terjadinya kecelakaan berada pada rentang pagi hari, yakni pukul 06.00 hingga 09.00 WIB. Jam tersebut merupakan puncak mobilitas masyarakat saat berangkat kerja dan sekolah. Hingga Maret 2026, kendaraan roda dua masih mendominasi keterlibatan insiden dengan total 565 unit sepeda motor yang terlibat laka lantas.
Mengenai lokasi rawan atau *black spot*, kawasan Desa Rejoagung di Kecamatan Kedungwaru menjadi titik yang paling menonjol. Sebagai langkah antisipasi, pihak kepolisian kini tengah memperketat patroli pada jam-jam sibuk guna menekan potensi kecelakaan di wilayah tersebut.
"Kami mengimbau masyarakat untuk tetap disiplin, baik ada maupun tidak adanya petugas di lapangan. Kepatuhan terhadap rambu dan pengendalian kecepatan adalah kunci utama," pungkas Ipda Gerry.(riz/dn)
What's Your Reaction?



