Tanggapi Keluhan Masyarakat Terkait Pelayanan di Rumah Sakit, DPRD Hearing Besama RSUD Trenggalek
DPRD Trenggalek soroti antrean panjang dan keterbatasan dokter spesialis di RSUD dr Soedomo. Komisi IV desak penambahan SDM guna tingkatkan pelayanan masyarakat.
Trenggalek, (afederasi.com) – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Trenggalek mendesak manajemen RSUD dr Soedomo segera melakukan evaluasi pelayanan menyusul banyaknya keluhan masyarakat. Salah satu sorotan utama adalah antrean panjang di poli spesialis jantung dan layanan farmasi.
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Trenggalek menggelar rapat dengar pendapat (hearing) dengan manajemen RSUD dr Soedomo pada Rabu (20/5/2026). Pertemuan ini menjadi langkah tindak lanjut legislatif atas berbagai keluhan masyarakat terkait kualitas pelayanan medis di rumah sakit tersebut.
Ketua Komisi IV DPRD Trenggalek, Sukarodin, mengungkapkan bahwa salah satu persoalan krusial adalah penumpukan pasien di poli spesialis jantung yang mencapai lebih dari 200 orang setiap harinya. Ironisnya, pemeriksaan hanya ditangani oleh satu orang dokter spesialis pada sore hari, karena dokter tersebut harus bertugas di Ponorogo pada pagi harinya.
"Ini seharusnya tidak boleh terjadi. Permasalahan ini wajib diselesaikan dengan penambahan sumber daya manusia (SDM)," ujar Sukarodin usai rapat.
Menurut Sukarodin, beban kerja yang terlalu tinggi berisiko menurunkan kualitas diagnosa. Ia menyarankan agar pihak rumah sakit menerapkan sistem pembagian beban kerja yang proporsional. Jika jumlah pasien melebihi ambang batas tertentu, maka jumlah dokter spesialis yang bertugas harus ditambah.
"Kalau pasien di atas 40, dokter spesialisnya harus dua. Kalau mencapai 90 pasien, harus tiga dokter. Diagnosa akan jauh lebih akurat dibandingkan satu dokter harus menangani 100 lebih pasien yang bisa memicu kepanikan," tambahnya.
Selain masalah poli jantung, antrean panjang juga terjadi di layanan apotek. Komisi IV DPRD Trenggalek merekomendasikan agar manajemen menambah tenaga SDM di bagian farmasi dan memperluas ruang pelayanan agar proses distribusi obat menjadi lebih efisien. Sukarodin menegaskan, jika kendala anggaran menjadi hambatan dalam rekrutmen ASN, pihak RSUD disarankan menggunakan sistem kontrak melalui mekanisme Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).
Di sisi lain, Sukarodin menyampaikan kabar baik bagi masyarakat Trenggalek. Mulai bulan depan, RSUD dr Soedomo akan mengoperasikan layanan cuci darah dengan kapasitas 30 pasien sekali jalan. "Ini memudahkan masyarakat agar tidak perlu lagi melakukan cuci darah ke luar daerah," tuturnya.
Terkait kendala administrasi dengan pihak BPJS Kesehatan, di mana RSUD kerap mengalami kesulitan akibat kebijakan pembatasan durasi rawat inap pasien, DPRD berjanji akan menjadi penengah. Pihaknya berencana memfasilitasi forum diskusi yang mempertemukan pihak rumah sakit, Dinas Kesehatan, dan pihak BPJS Kesehatan.
"Karena BPJS ini merupakan kebijakan nasional, kami akan duduk bersama untuk mencari solusi agar rumah sakit tidak keteteran dalam melayani pasien," pungkasnya.(pb/dn)
What's Your Reaction?



