Tahun 2026, Ketenagakerjaan di Pacitan Masih Didominasi Sektor Rentan
Pacitan, (afederasi.com) — Memasuki 2026, ketenagakerjaan di Pacitan masih didominasi sektor rentan, meski secara statistik tingkat pengangguran tergolong rendah.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan mayoritas pekerja masih berada di sektor informal dengan tingkat kestabilan pendapatan yang terbatas.
Berdasarkan rilis BPS Agustus 2025, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Pacitan tercatat sebesar 1,40 persen, dengan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) mencapai 80,82 persen.
Angka tersebut menunjukkan sebagian besar penduduk usia kerja terlibat dalam aktivitas ekonomi.
Namun, kondisi itu belum sepenuhnya mencerminkan kualitas pekerjaan yang tersedia.
Lebih dari 78 persen tenaga kerja terserap di sektor informal, seperti pertanian, perdagangan kecil, dan jasa sederhana yang minim perlindungan kerja maupun kepastian penghasilan.
Kepala BPS Pacitan, Kiki Ferdiana, menegaskan rendahnya angka pengangguran tidak bisa menjadi satu-satunya indikator kesejahteraan.
“Angka pengangguran memang rendah, tetapi sebagian besar pekerjaan yang ada masih bersifat informal dan rentan. Ini yang perlu menjadi perhatian bersama,” ujarnya, Rabu (8/4/2026).
Ia menambahkan, dominasi sektor informal membuat sebagian pekerja berada dalam kondisi yang rentan terhadap fluktuasi ekonomi.
“Pekerjaan di sektor informal cenderung tidak memiliki kepastian pendapatan dan perlindungan kerja. Jadi, meskipun terserap, kualitasnya masih perlu ditingkatkan,” jelasnya.
Di sisi lain, pandangan berbeda disampaikan oleh Bidang Kewirausahaan dan Ekonomi PMII Pacitan, Aldi Fatkhanudin.
Ia menilai angka pengangguran yang terlihat rendah belum tentu mencerminkan kondisi riil di lapangan.
“Kalau melihat realitas di bawah, pengangguran itu masih tinggi. Banyak pemuda yang tidak tercatat karena bekerja tidak tetap atau hanya sesekali bekerja, tapi secara data dianggap bekerja,” tegasnya.
Menurut Aldi, dominasi sektor informal justru menunjukkan lemahnya ekonomi daerah, karena masyarakat bekerja berdasarkan keterpaksaan, bukan pilihan.
Ia juga menyoroti meningkatnya urbanisasi pemuda sebagai dampak terbatasnya lapangan kerja di daerah.
“Banyak yang merantau karena di sini tidak ada pilihan kerja. Ini yang tidak terlihat kalau hanya melihat angka pengangguran,” tambahnya.
Kondisi di lapangan pada 2026 pun dinilai belum menunjukkan perubahan signifikan.
Sejumlah warga masih bergantung pada pekerjaan musiman dengan penghasilan yang tidak menentu, terutama di wilayah pedesaan.
Minimnya lapangan kerja formal serta terbatasnya investasi di daerah membuat sektor informal tetap menjadi penopang utama ekonomi masyarakat, meski memiliki risiko tinggi terhadap guncangan ekonomi.(fer)
What's Your Reaction?



