PT BMI Lamongan Pastikan Gangguan Injeksi Klorin Sudah Teratasi, Bantah Isu Keracunan Gas
"Benar, sempat ada kendala teknis pada sistem inject desinfektan klorin kami, sehingga kadarnya melebihi batas standar yang biasanya kami jaga ketat di angka 5 ppm. Hal inilah yang kemudian memicu respons jangka pendek berupa rasa perih pada mata para karyawan yang sedang bertugas. Jadi, ini bukan karena keracunan gas," ujar Purnawan saat dikonfirmasi, Sabtu (6/6/2026) pagi.
Lamongan, (afederasi.com) – Manajemen PT Bumi Menara Internusa (BMI) Lamongan memberikan klarifikasi terkait dugaan keracunan gas yang menyebabkan 19 pekerjanya dilarikan ke rumah sakit pada Jumat (5/6/2026). Pihak manajemen menegaskan bahwa keluhan yang dialami sejumlah pekerja shift pagi tersebut bukan disebabkan oleh kebocoran gas beracun, melainkan akibat kendala teknis pada sistem injeksi klorin (chlorine).
Saat ini, gangguan tersebut dipastikan telah berhasil diatasi sepenuhnya dan aktivitas operasional pabrik telah kembali berjalan normal pada Sabtu (6/6/2026).
Berdasarkan investigasi internal di area produksi pabrik pengolahan udang tersebut, gangguan otomatisasi sempat membuat konsentrasi klorin melebihi standar operasional harian perusahaan.
Plant Manager PT BMI Lamongan, Purnawan, menjelaskan bahwa fluktuasi kadar desinfektan itu terjadi dalam waktu singkat dan langsung ditangani oleh tim teknis di lapangan.
"Benar, sempat ada kendala teknis pada sistem inject desinfektan klorin kami, sehingga kadarnya melebihi batas standar yang biasanya kami jaga ketat di angka 5 ppm. Hal inilah yang kemudian memicu respons jangka pendek berupa rasa perih pada mata para karyawan yang sedang bertugas. Jadi, ini bukan karena keracunan gas," ujar Purnawan saat dikonfirmasi, Sabtu (6/6/2026) pagi.
Purnawan menambahkan, sesaat setelah indikasi kelebihan kadar klorin terdeteksi, tim tanggap darurat perusahaan langsung melakukan mitigasi cepat. Aliran injeksi desinfektan segera dihentikan sementara, dibarengi dengan optimalisasi sirkulasi udara melalui ventilasi pabrik serta sterilisasi ruangan.
Upaya cepat tersebut membuahkan hasil positif. Parameter kualitas udara di dalam ruang produksi kembali normal dalam waktu singkat tanpa adanya dampak fatal bagi kesehatan pekerja.
"Saat ini kondisi ruangan sudah sepenuhnya aman dan steril. Seluruh parameter lingkungan kerja telah kembali sesuai standar keselamatan. Ruangan pun sudah mulai digunakan kembali untuk aktivitas kerja seperti biasa," pungkas Purnawan.
Pascakejadian ini, PT BMI Lamongan menegaskan komitmennya untuk terus memperketat pengawasan dan pemeliharaan berkala terhadap seluruh fasilitas produksi serta sistem penunjang keselamatan kerja. Langkah ini diambil guna mengantisipasi agar kejadian serupa tidak terulang kembali, sekaligus menjamin keamanan serta kenyamanan seluruh karyawan dalam bekerja. (yan)
What's Your Reaction?



