Inovasi Daun Kenikir, Ibu Rumah Tangga di Jombang Raup Omzet Jutaan Rupiah
Jombang, (afederasi.com) – Daun kenikir yang biasa dikenal sebagai lalapan atau sayur urap, kini disulap menjadi camilan renyah bernilai ekonomi tinggi oleh seorang ibu rumah tangga di Kabupaten Jombang.
Di sudut Dusun Sukoharjo, Desa Penggaron, Kecamatan Mojowarno, aroma gurih keripik mengepul dari dapur sederhana milik Suharmini Wati (53). Perempuan gigih ini sukses mengangkat potensi lokal melalui usaha rumahan Penggaron Chips yang memproduksi keripik kenikir sebagai produk unggulan.
Ide kreatif tersebut berawal secara tak sengaja pada tahun 2020. Saat itu, Suharmini lebih dulu memproduksi keripik pare dan keripik bonggol pisang. Dari sanalah muncul gagasan untuk melakukan eksperimen dengan bahan berbeda.
"Karena pare saja bisa jadi keripik, saya kepikiran kenikir mungkin juga bisa," tuturnya saat ditemui di kediamannya, Minggu (15/2/2026).
Setelah melalui percobaan berulang kali, hasilnya pun di luar dugaan. Keripik kenikir buatannya hadir dengan tekstur renyah, tidak pahit, dan tetap mempertahankan cita rasa khas daun kenikir.
Produk inovatif ini bahkan mulai dilirik oleh kalangan dinas pemerintahan setempat dan kerap menjadi pilihan untuk berbagai kegiatan.
Dalam sekali produksi, Suharmini mampu mengolah sekitar 5 hingga 8 kilogram kenikir segar. Bahan baku diperoleh dari petani langganan, atau membeli dari pedagang sayur terpercaya jika stok sedang habis.
Saat ini, keripik kenikir Penggaron Chips masih tersedia dalam varian rasa original. Produk dikemas dalam standing pouch ukuran 90 gram, dengan harga terjangkau mulai Rp5.000 hingga Rp10.000 per kemasan. Untuk keperluan pameran atau event tertentu, Suharmini menggunakan kemasan foil agar tampil lebih menarik.
Meski berbasis rumahan, produk Penggaron Chips tak hanya dipasarkan di wilayah Jombang, tetapi juga telah merambah Pacet Mojokerto, Pasuruan, hingga Malang. Bahkan dalam sebuah pertemuan pendeta di Jombang, produknya sempat diborong sebagai bagian dari promosi UMKM lokal.
Dari dapur sederhananya, usaha ini kini mampu menghasilkan omzet sekitar Rp3,5 juta per bulan. Angka yang menjadi bukti bahwa kreativitas dan keberanian mencoba hal baru bisa membuka peluang ekonomi menjanjikan.
Meski produk mulai dikenal, Suharmini mengakui tantangan terbesar masih pada aspek pemasaran. Ia berharap produknya bisa semakin dikenal luas, tidak hanya sebagai keripik pare atau bonggol pisang, tetapi juga sebagai pelopor keripik kenikir dari Penggaron.
"Harapannya ke depan, orang kalau dengar Penggaron Chips langsung ingat keripik pare, bonggol pisang, dan juga keripik kenikir," katanya penuh semangat.
Di tangan Suharmini, daun kenikir bukan lagi sekadar pelengkap lalapan. Ia telah menjelma menjadi simbol ketekunan, inovasi, dan harapan dari sebuah usaha kecil di sudut Jombang. (san)
What's Your Reaction?



