Bantu Pulihkan Ekonomi Korban Laka, Satlantas Polres Tulungagung Berikan Unit Bentor Baru untuk Kuli Angkut
"Kami berikan bentor baru agar Pak Hartoyo bisa kembali bekerja. Ini untuk membantu aktivitas angkut barang dari pikap ke dalam pasar, karena itulah sumber penghasilannya," ujar Kasat Lantas Polres Tulungagung, AKP Taufik Nabilla
Tulungagung, (afederasi.com) – Dunia Hartoyo (62) seakan runtuh saat becak motor (bentor) kesayangannya hancur terseret mobil sejauh 15 kilometer pada Minggu dini hari, 8 Februari 2026 lalu. Namun, siapa sangka, di balik musibah yang nyaris merenggut nyawanya di depan Pasar Ngemplak itu, terselip jawaban atas doa yang ia langitkan di sujud Jumat.
Pada Selasa (17/2/2026) pagi, senyum haru merekah di wajah legam kuli angkut asal Kelurahan Tertek ini. Jajaran Satlantas Polres Tulungagung menyambangi kediamannya bukan sekadar untuk urusan birokrasi, melainkan membawa kado penyambung hidup sebuah unit bentor baru.
Bagi Hartoyo, bentor yang hancur dalam insiden tabrak lari oleh pengemudi Isuzu Panther tersebut bukan sekadar mesin. Ada tetesan keringat dan memori panjang di sana.
"Saya mulai kerja menurunkan dagangan ikan pindang di Pasar Ngemplak sejak 1989. Dulu pakai becak kayuh, belinya nyicil 40 bulan, Rp15.000 per bulan," kenang Hartoyo dengan suara lirih.
Baru dua tahun terakhir ia beralih menggunakan mesin motor karena faktor usia. "Lutut saya sudah tidak kuat lagi mengayuh, makanya pakai bentor," tambahnya.
Tak heran jika ia sempat menitikkan air mata saat melihat kendaraan yang menemaninya puluhan tahun itu hancur tak berbentuk di Unit Laka.
Kasat Lantas Polres Tulungagung, AKP Taufik Nabilla, menjelaskan bahwa pemberian bantuan ini didasari rasa empati terhadap kondisi ekonomi korban. Mengingat bentor lama Hartoyo masih dijadikan barang bukti dan kondisinya rusak berat, Hartoyo terancam kehilangan mata pencaharian.
"Kami berikan bentor baru agar Pak Hartoyo bisa kembali bekerja. Ini untuk membantu aktivitas angkut barang dari pikap ke dalam pasar, karena itulah sumber penghasilannya," ujar AKP Taufik.
Meski begitu, pihak kepolisian memberikan catatan khusus. Mengingat regulasi kendaraan modifikasi, bentor tersebut hanya diperbolehkan beroperasi di lingkungan pasar. "Kami berpesan agar tidak digunakan di jalan raya, cukup di area pasar untuk angkut dagangan saja," tegasnya.
Terkait kasus hukumnya, AKP Taufik memastikan bahwa mediasi antara keluarga pelaku (Dimyati, 60) dan korban telah mencapai titik temu. Kedua belah pihak sepakat berdamai secara kekeluargaan.
"Korban menyadari ada unsur ketidaksengajaan dan kekhilafan dari pengemudi yang panik. Jika syarat formil terpenuhi, perkara ini kemungkinan akan kami selesaikan melalui mekanisme restorative justice," jelas Kasat Lantas.
Hartoyo sendiri mengaku telah memaafkan pelaku. Baginya, luka di pinggang dan kakinya yang mulai pulih tidak lebih penting daripada persaudaraan. Ia menerima uang santunan Rp1,5 juta dari pihak pengemudi dengan ikhlas.
Ada kisah religius yang menyentuh di balik insiden ini. Bapak empat anak ini bercerita bahwa tepat sebelum kejadian, usai salat Jumat, ia sempat bermunajat kepada Allah SWT agar diberikan rezeki tak terduga sebelum memasuki bulan suci Ramadhan.
"Saya berdoa agar dapat rezeki yang tidak disangka-sangka. Rupanya rezeki itu datang lewat kejadian ini," ucapnya haru.
Kini, setiap pukul 00.00 WIB tengah malam hingga menjelang subuh, Hartoyo bisa kembali membelah dinginnya malam menuju Pasar Ngemplak. Bukan lagi dengan beban kesedihan, melainkan dengan semangat baru di atas bentor pemberian para petugas berseragam cokelat yang peduli pada nasib rakyat kecil sepertinya. (dn)
What's Your Reaction?



