Jengah Hanya Diberi Tambal Sulam, Warga Sambirobyong Tulungagung Sindir Pemerintah Lewat Poster 'Area Rawa'
Tak hanya pohon pisang, warga juga membentangkan poster bernada satir bertuliskan "Awas Area Rawa-Rawa", sebuah sindiran menohok atas kondisi jalan yang menyerupai kubangan saat hujan tiba.
Tulungagung, (afederasi.com) – Kesabaran Warga Desa Sambirobyong, Kecamatan Sumbergempol, tampaknya telah mencapai batasnya. Sebagai bentuk mosi tidak percaya terhadap lambannya perbaikan infrastruktur oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tulungagung, warga nekat "Menyulap" jalan raya menjadi kebun pisang mendadak, Selasa (17/2/2026).
Sepanjang ruas jalan desa yang menjadi jalur alternatif vital menuju Jembatan Ngujang 2 tersebut, kini dipenuhi belasan batang pohon pisang yang tertanam kokoh di lubang-lubang jalan. Tak hanya pohon, warga juga membentangkan poster bernada satir bertuliskan "Awas Area Rawa-Rawa", sebuah sindiran menohok atas kondisi jalan yang menyerupai kubangan saat hujan tiba.
Ahmad Amirudin (56), salah seorang warga setempat, mengungkapkan bahwa aksi penanaman ini dilakukan secara spontan dan gotong royong oleh warga pada Senin malam (16/2/2026). Menurutnya, ini bukan sekadar aksi protes, melainkan juga bentuk peringatan bagi para pengendara agar tidak terjebak lubang maut.
"Ini murni inisiatif warga yang sudah jengah. Kami tanam pohon-pohon ini sebagai penanda agar pengendara waspada. Kondisinya sudah sangat membahayakan," ujar Amirudin saat ditemui di lokasi aksi.
Kerusakan jalan sepanjang kurang lebih 2 kilometer yang membentang dari Desa Sambirobyong hingga Desa Pulotondo ini disinyalir sudah terjadi selama dua tahun terakhir. Sejak Jembatan Ngujang 2 beroperasi, beban jalan ini meningkat drastis karena menjadi jalur utama pengendara selama 24 jam penuh.
Ironisnya, meski volume kendaraan terus meningkat, perhatian pemerintah dinilai sangat minim.
"Pernah ada perbaikan, tapi hanya tambal sulam yang sifatnya formalitas saja. Tidak bertahan lama, jalan sudah hancur lagi," keluh Amirudin.
Warga mencatat, kecelakaan tunggal akibat lubang jalan sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Mulai dari pengendara yang terjatuh sendiri hingga ibu-ibu yang membonceng anaknya harus menjadi korban akibat aspal yang terkelupas.
Sebelum aksi tanam pohon ini pecah, warga sebenarnya telah berupaya melakukan perbaikan secara mandiri. Menggunakan dana swadaya, mereka menambal lubang dengan semen seadanya. Namun, keterbatasan alat dan terjangan cuaca membuat usaha warga sia-sia.
Kekecewaan warga semakin mendalam mengingat mereka merasa telah menjalankan kewajiban sebagai warga negara yang taat.
"Harapan kami sederhana. Kami tertib bayar pajak, tapi mengapa hak kami untuk mendapatkan jalan yang layak justru diabaikan? Jangan tunggu korban jiwa lebih banyak lagi," tegasnya.
Aksi serupa rupanya tidak hanya terjadi di Sambirobyong. Gelombang protes warga dengan menanam pohon pisang juga dilaporkan terjadi di wilayah Desa Ngunut. Fenomena ini menjadi sinyal merah bagi Pemkab Tulungagung bahwa masyarakat mulai meragukan komitmen pemerintah dalam pemerataan pembangunan infrastruktur di tingkat desa.
Hingga berita ini diturunkan, puluhan pohon pisang masih berdiri tegak di tengah jalan, memaksa pengendara untuk melambat dan berkelok-kelok, sekaligus menjadi monumen protes atas janji perbaikan yang tak kunjung terealisasi.(dn)
What's Your Reaction?



