Banjir Wilayah Kota Pacitan Dipicu Sampah Sungai, Termasuk Kasur dan Sofa

30 Mar 2026 - 10:40
Banjir Wilayah Kota Pacitan Dipicu Sampah Sungai, Termasuk Kasur dan Sofa
Petugas Dinas PUPR lakukan pengecekan penjaring sampah di aliran sungai wilayah Pacitan, yang dipenuhi sudah dibersihkan dari limbah rumah tangga. (Foto: Feri/Afederasi)

Pacitan, (afederasi.com) – Banjir yang kerap terjadi di wilayah kota Pacitan disebut banyak dipicu oleh sampah yang menyumbat aliran sungai dan drainase. 

Tidak hanya sampah alami, material rumah tangga seperti kasur dan sofa juga ditemukan terbawa arus saat banjir.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Pacitan, Suparlan, mengatakan penyumbatan saluran menjadi faktor utama air meluap hingga ke jalan dan permukiman warga.

“Sering kami temui saat banjir, bukan hanya sampah tanaman, tapi juga kasur, sofa, dan barang lainnya. Itu yang membuat saluran menjadi buntu,” ujarnya, Senin (30/3/2026).

Ia menjelaskan, ketika aliran air terhambat, volume air akan meningkat dan meluap keluar dari saluran.

“Kalau saluran buntu, air naik lalu meluber sampai ke jalan. Akhirnya muncul anggapan pemerintah tidak bisa mengatasi banjir, padahal penyebabnya dari kita semua,” katanya.

Menurutnya, temuan sampah berukuran besar tidak hanya terjadi di hulu, tetapi juga tersangkut di sejumlah titik aliran, termasuk jaringan pipa air di kawasan kota.

Selain itu, sampah yang terbawa hingga hilir juga berpotensi memperparah kondisi di muara sungai.

Suparlan menyebut, sejumlah wilayah seperti Jalan Ahmad Yani dan Letjen Suprapto relatif lebih aman. 

Namun, risiko banjir tetap tinggi di kawasan lain apabila sampah masuk ke saluran tertutup dan tidak segera dibersihkan.

“Kalau sampah masuk ke saluran tertutup, seperti di Pucangsewu, bisa menyebabkan luapan,” jelasnya.

Ia menegaskan, persoalan banjir tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga berkaitan erat dengan perilaku masyarakat dalam menjaga lingkungan.

“Ini soal kebiasaan. Memang tidak mudah mengubah perilaku, tapi harus dimulai dari diri sendiri dan saling mengingatkan,” ujarnya.

Pihaknya juga mendorong peran pemerintah desa, linmas, hingga Babinsa untuk turut memberikan pemahaman kepada masyarakat agar tidak membuang sampah ke sungai.

Menurutnya, perubahan perilaku membutuhkan waktu dan tidak bisa dilakukan secara instan, namun tetap harus diupayakan secara bersama.

“Tidak harus selalu formal, yang penting ada kesadaran bersama untuk menjaga lingkungan agar banjir bisa diminimalisir,” pungkasnya. (fer)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow