Wingko Lamongan Jadi Buruan Pemudik, Omzet Produsen Melejit Tiga Kali Lipat
"Kalau hari normal produksi hanya sekitar dua sampai tiga kilogram adonan, sekarang bisa sampai 25 kilogram,” ujar Bambang saat ditemui, Selasa (24/3/2026) sore,
Lamongan, (afederasi.com) – Wingko Lamongan kembali mengukuhkan posisinya sebagai primadona oleh-oleh khas jalur Pantura Lamongan selama masa mudik dan balik Lebaran 2026. Tingginya antusiasme pemudik membuat para produsen wingko kewalahan memenuhi pesanan yang melonjak drastis.
Peningkatan permintaan ini dirasakan langsung oleh salah satu produsen lokal, Toko Wingko Sedap Mantab. Bambang Subirawan, pemilik toko tersebut, mengungkapkan bahwa volume produksi meningkat hingga berkali-kali lipat demi memenuhi kebutuhan konsumen yang didominasi para pelancong lintas kota.
“Kalau hari normal produksi hanya sekitar dua sampai tiga kilogram adonan, sekarang bisa sampai 25 kilogram,” ujar Bambang saat ditemui, Selasa (24/3/2026) sore,
Menurut Bambang, lonjakan permintaan mulai terasa signifikan sejak hari H Lebaran. Berbeda dengan momentum akhir pekan biasa, arus mudik dan balik tahun ini membawa gelombang pembeli yang datang silih berganti tanpa henti.
Meskipun permintaan pasar sangat tinggi, proses produksi tidak bisa dilakukan secara instan. Bambang menjelaskan bahwa menjaga kualitas rasa memerlukan waktu pemanggangan yang cukup lama.
“Produksi sudah kami tingkatkan, tapi tetap antre karena proses memasaknya memang tidak bisa cepat. Untuk menghasilkan wingko yang matang sempurna, dibutuhkan waktu sekitar 45 hingga 60 menit,” jelasnya.
Dari berbagai pilihan rasa yang ditawarkan seperti nangka, durian, hingga pandan, varian ketan hitam menjadi yang paling banyak diburu. Rasa unik yang jarang ditemukan di daerah lain menjadi alasan utama pembeli memilih varian tersebut.
Soal harga, pihak toko tetap mematok harga yang kompetitif di tengah tingginya permintaan. Satu boks berisi 10 buah wingko dibanderol seharga Rp27.000. Konsumen yang datang pun tidak hanya berasal dari wilayah Jawa Timur seperti Malang dan Surabaya, namun juga merambah hingga mancanegara seperti Malaysia dan Thailand.
Kekhawatiran akan adanya pengalihan arus lalu lintas sempat membayangi para pedagang. Namun, nyatanya banyak pemudik yang rela menempuh rute lebih jauh demi mendapatkan penganan gurih ini. Salah satunya adalah Rohman, pemudik asal Jakarta.
“Saya sengaja mampir, bahkan dari Surabaya balik lagi ke Gresik untuk naik tol, sekalian beli oleh-oleh buat teman-teman di Jakarta dan saudara di sana,” kata Rohman.
Sebagai pelanggan setia setiap tahun, Rohman mengaku cita rasa wingko Lamongan memiliki keunikan tersendiri yang sulit digantikan, terutama pada dominasi rasa gurih kelapa pada varian originalnya.
“Memang rasanya beda. Walaupun banyak yang jual wingko di daerah sini, tapi saya lebih terbiasa beli di sini saja,” pungkasnya. (yan)
What's Your Reaction?



