Puasa Ramadan Berkah bagi Perajin Sarung Tenun Goyor Jombang

20 Feb 2026 - 13:27
Puasa Ramadan Berkah bagi Perajin Sarung Tenun Goyor Jombang
Siti Khoiriumah (41) saat menunjukan hasil sarung tenun goyor buatannya di Dusun Pengaron Desa Pengaron Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang Jawa Timur, Jumat (20/02/2026). (Foto: Santoso/afederasi.com)

Jombang, (afederasi.com) – Bulan suci Ramadan tahun ini membawa berkah tersendiri bagi para perajin sarung tenun goyor di Dusun Pengaron, Desa Pengaron, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Di tengah hiruk-pikuk persiapan menyambut Idul Fitri, tangan-tangan terampil para perajin terus bergerak cepat menenun benang menjadi sarung yang siap menemani ibadah umat Muslim.

Suara gemeretak alat tenun tradisional terdengar nyaring menyapa siapa saja yang berkunjung ke rumah produksi milik Siti Khoiriumah (41). Berbeda dari hari-hari biasa, suasana di tempat pembuatan sarung tenun goyor miliknya terlihat lebih sibuk karena banyaknya pesanan.

Siti Khoiriumah, pemilik usaha sarung tenun goyor, tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya. Di tengah pandemi yang sempat melumpuhkan ekonomi, Ramadan tahun ini justru membawa angin segar bagi usahanya yang telah dirintis sejak puluhan tahun lalu.

"Alhamdulillah, berkah Ramadan tahun ini luar biasa. Permintaan naik hingga 200 persen dibandingkan hari biasa sebelum puasa. Banyak pesanan yang harus kami selesaikan tepat waktu sebelum Lebaran," ungkap Siti saat ditemui di lokasi produksinya, Jumat (20/02/2026).

Menurutnya, lonjakan pesanan tidak hanya datang dari pasar lokal, tetapi juga dari berbagai daerah di Indonesia. Sarung tenun goyor buatannya telah dikenal memiliki kualitas yang baik dan motif yang khas.

"Paling banyak pesanan dari pondok pesantren dan perusahaan-perusahaan. Biasanya mereka memesan untuk dijadikan parcel atau bingkisan Lebaran untuk para santri, karyawan, atau mitra bisnis," jelas perempuan ramah itu.

Ia menyebutkan, pesanan datang dari berbagai penjuru, seperti Kalimantan, Banyumas, dan tentu saja dari berbagai pondok pesantren di sekitar Kabupaten Jombang.

Untuk harga, Siti membanderol sarung tenun goyor buatannya mulai dari Rp 250 ribu per potong. Harga tersebut terbilang sebanding dengan kualitas dan proses pembuatan yang membutuhkan ketelitian tinggi.

Proses pembuatan sarung tenun goyor ini memang tidak bisa dilakukan secara instan. Dibutuhkan waktu rata-rata 2 hingga 3 hari untuk menyelesaikan satu sarung, tergantung pada kerumitan motif dan kondisi cuaca.

"Kalau cuaca panas, proses pengeringan benang lebih cepat, jadi produksi bisa lebih lancar. Tapi kalau cuaca mendung atau hujan, ya agak lambat karena benang butuh waktu lebih lama untuk kering," terang Siti.

Dengan lonjakan permintaan yang signifikan, Siti dan para pekerjanya harus lembur untuk mengejar target. Dalam sehari, mereka mampu mengerjakan sekitar 15 potong sarung tenun goyor. Namun, dengan banyaknya pesanan yang masuk, mereka harus bekerja ekstra keras.

"Biasanya kami kerja dari pagi sampai sore, sekarang sampai malam. Lembur sudah biasa di bulan Ramadan ini karena banyak pesanan yang harus segera diselesaikan," imbuhnya.

Sarung tenun goyor bukan sekadar kain penutup aurat. Di balik setiap helainya, tersimpan nilai-nilai tradisi dan budaya yang dijaga turun-temurun oleh masyarakat Pengaron. Keistimewaan sarung ini terletak pada teknik menenunnya yang khas dan bahan baku yang digunakan.

"Keistimewaan sarung tenun goyor ini, kalau dipakai terasa adem meskipun cuaca panas. Sebaliknya, kalau cuaca dingin juga tetap hangat. Jadi nyaman dipakai kapan saja," ujar Siti sambil menunjukkan salah satu hasil produksinya.

Selain itu, ciri khas lain dari tenun goyor adalah motifnya yang bolak-balik sama. Artinya, motif pada bagian luar dan dalam sarung memiliki corak yang identik, menunjukkan kualitas pengerjaan yang tinggi.

Tak heran jika sarung tenun goyor dari Jombang ini menjadi primadona, terutama di kalangan santri. Selain nyaman dipakai untuk beribadah, sarung ini juga dianggap sebagai simbol identitas dan kebanggaan.

Di tengah maraknya produk tekstil pabrikan yang diproduksi massal dengan harga miring, keberadaan sarung tenun goyor buatan tangan tetap memiliki pangsa pasar tersendiri. Para konsumennya adalah mereka yang menghargai nilai seni, kualitas, dan sentuhan tradisional dalam setiap produk.

Siti mengaku tidak pernah kesulitan memasarkan produknya. Dari mulut ke mulut dan kepercayaan pelanggan menjadi kunci utama usahanya bertahan hingga kini. Meski terkadang harus bersaing dengan produk pabrikan, ia percaya bahwa kualitas tidak akan mengkhianati peminatnya.

"Orang yang sudah pernah pakai sarung tenun goyor pasti akan kembali lagi. Mereka tahu bedanya. Memang harganya lebih mahal, tapi sepadan dengan kenyamanan dan kualitasnya," tegasnya.

Bagi Siti Khoiriumah dan para perajin tenun goyor di Jombang, Ramadan tahun ini benar-benar menjadi bulan penuh berkah. Lonjakan permintaan tidak hanya meningkatkan pendapatan, tetapi juga menjadi suntikan semangat untuk terus melestarikan warisan budaya leluhur.

Ia berharap, ke depannya usaha tenun goyor di desanya bisa terus berkembang dan dikenal lebih luas lagi. Dengan dukungan dari berbagai pihak, ia optimis kerajinan tradisional ini tidak akan tergerus zaman dan tetap menjadi kebanggaan masyarakat Jombang.

Menjelang Magrib, suara alat tenun mulai mereda. Para pekerja bersiap pulang untuk berbuka puasa bersama keluarga. Namun, besok pagi, mereka akan kembali lagi dengan semangat yang sama: menenun benang menjadi sarung, merajut tradisi, dan menuai berkah di bulan yang suci. (san)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow