Tekan Stunting, ID FOOD Salurkan Bantuan Telur dan Daging Ayam Selama 3 Bulan ke 7 Provinsi
Pemerintah terus melanjutkan upaya penyaluran bantuan pangan dalam rangka penanganan stunting.
Bogor, (afederasi.com) - Pemerintah terus melanjutkan upaya penyaluran bantuan pangan dalam rangka penanganan stunting. Langkah ini kembali diambil dalam tahap kedua program tersebut, yang direncanakan akan berlangsung selama tiga bulan ke depan. Hal ini sejalan dengan tujuan untuk mendukung percepatan penurunan angka stunting serta menjaga stabilitas harga telur, terutama di tingkat peternak mandiri kecil. Direktur Utama ID FOOD, Frans Marganda Tambunan, mengungkapkan hal ini usai mendampingi kunjungan kerja Presiden RI dalam pemeriksaan stok beras dan penyaluran bantuan pangan di Gudang Bulog Dramaga dan Kelapa Gading.
"Pada tahap kedua ini, pendistribusian akan dilakukan mulai tanggal 11 September 2023 hingga tiga bulan ke depan di 7 provinsi, yakni Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Sulawesi Barat," ujar Frans Marganda Tambunan seperti yang dilansir pada Selasa (12/9/2023).
Langkah berikutnya adalah peluncuran tahap kedua program penanganan stunting di mana bantuan pangan disalurkan langsung kepada keluarga yang berisiko stunting. Pada acara peluncuran tersebut, 153 Keluarga Risiko Stunting (KRS) di Kelurahan Katulampa, Kota Bogor, dan 85 KRS di Desa Babakan Dramaga, Kabupaten Bogor, menerima bantuan pangan.
"Untuk Jawa Barat sendiri pada tahap kedua ini telah terdaftar 406.579 KRS, dengan jumlah paling banyak berada di wilayah Jawa, khususnya Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur," tambahnya.
Frans menjelaskan bahwa penyaluran bantuan penanganan stunting tahap kedua ini akan dilaksanakan dengan cara yang sama seperti tahap pertama. Setiap KRS akan menerima paket bantuan pangan berupa 1 ekor karkas dengan berat sekitar 1 kg dan 1 tray telur ayam, atau sekitar 10 butir telur setiap bulannya selama tiga bulan ke depan. Total anggaran yang disiapkan oleh Badan Pangan Nasional untuk program ini mencapai sekitar 400 miliar rupiah.
Selain manfaat kesehatan yang diharapkan untuk penurunan stunting, Frans juga berharap bahwa program ini akan berdampak positif pada stabilitas harga telur di tingkat peternak mandiri kecil, baik itu peternak layer maupun broiler, sesuai dengan arahan dari Presiden.
"Program ini memastikan penyerapan telur dan daging ayam di peternak dapat berlangsung dengan harga yang stabil, karena kami membelinya dengan harga acuan yang ditetapkan oleh pemerintah, bahkan jika harga di pasar turun. Ini memberikan jaminan bagi peternak untuk menjaga harga mereka tetap sesuai dengan biaya produksi," jelasnya.
Frans juga menekankan komitmen ID FOOD untuk mendukung peternak mandiri kecil, dengan bekerja sama dengan kelompok koperasi dan ratusan peternak di berbagai provinsi, seperti Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Barat, dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Mayoritas peternak yang terlibat telah menjalin kemitraan dengan ID FOOD sejak tahap pertama program ini diluncurkan.
Lebih lanjut, Frans mengungkapkan bahwa untuk menjaga kualitas produk dan kelangsungan program penyerapan, ID FOOD bersama PT Berdikari, PT Perusahaan Perdagangan Indonesia, dan PT Rajawali Nusindo sebagai bagian dari ID FOOD secara aktif terlibat dalam proses seleksi dan penyerapan telur serta daging ayam dari para peternak.
"Saat ini kita lagi susun planning bersama Badan Pangan Nasional supaya (Program) ini berkelanjutan tidak putus, sehingga ada kepastian juga untuk keluarga risiko stunting serta peternaknya. Langkah ini bagian dari upaya memperkuat ekosistem peternakan nasional," tandasnya.
Sementara itu, Deputi 2 Bidang Kerawanan Pangan dan Gizi Badan Pangan Nasional, Nyoto Suwignyo, yang hadir dalam acara peluncuran dan penyerahan bantuan pangan penanganan stunting tahap kedua di Kabupaten Bogor, menyampaikan bahwa bantuan tersebut disalurkan berdasarkan data Keluarga Risiko Stunting (KRS) yang berasal dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Data ini diperbarui setiap bulan, sehingga bantuan pangan dapat disalurkan kepada mereka yang membutuhkan secara tepat.
Nyoto Suwignyo juga menegaskan pentingnya memanfaatkan bantuan pangan ini dengan baik, terutama bagi ibu hamil, balita, dan anak-anak dalam masa pertumbuhan, agar dampaknya dapat dirasakan secara maksimal.(mg-2/mhd)
What's Your Reaction?



