Polres Jombang Ungkap Hasil Autopsi Ibu dan Anak Tewas di Bekas Asrama Polisi, Begini Penjelasannya

20 Mar 2026 - 02:04
Polres Jombang Ungkap Hasil Autopsi Ibu dan Anak Tewas di Bekas Asrama Polisi, Begini Penjelasannya
Polisi sedang melakukan olah TKP penemuan dua jasad di duga ibu dan anak di gedung asrama polisi Ploso Jombang,Rabu (25/02/2026). (Foto: Santoso/afederasi.com)

Jombang, (afederasi.com) – Misteri tewasnya seorang ibu dan anak di bekas asrama polisi Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang akhirnya terungkap.

 Polres Jombang secara resmi menutup penyelidikan kasus ini setelah memastikan bahwa peristiwa tragis tersebut merupakan aksi bunuh diri yang dipicu oleh tekanan psikologis mendalam.

Kapolres Jombang, AKBP Ardi Kurniawan mengungkapkan bahwa identitas kedua korban telah tervalidasi melalui uji DNA dan pemeriksaan forensik. Mereka adalah Sri Kusyanti (36) dan putrinya Naila (6), warga Balongrejo, Kabupaten Nganjuk.

"Rekaman CCTV menunjukkan korban berangkat dari Nganjuk menuju lokasi tanpa pengawalan atau diikuti orang mencurigakan. Mereka bahkan sempat berhenti untuk mengisi bahan bakar secara normal," ungkap Kapolres dalam konferensi pers, Kamis (19/03/26).

Berdasarkan investigasi gabungan bersama Puslabfor dan tim identifikasi Polda Jatim, polisi tidak menemukan bukti adanya keterlibatan pihak ketiga. Tim dokter forensik menemukan fakta mengejutkan dari hasil autopsi kedua korban.

Pada tubuh sang ibu, ditemukan zat kimia pembersih lantai di organ dalamnya. Sementara pada sang anak, terdapat luka bakar di wajah yang diduga berasal dari cairan serupa.

Tim medis menyimpulkan bahwa sang anak meninggal akibat sesak napas (mati lemas) yang diperparah paparan asap, sedangkan sang ibu mengalami kerusakan organ dalam dan pendarahan hebat.

Berdasarkan pendalaman psikologi melalui keterangan keluarga, korban diketahui memiliki kepribadian tertutup dan cenderung memendam persoalan sendirian. AKBP Ardi Kurniawan menyebutkan bahwa ini bukanlah percobaan pertama bagi korban.

"Data dari pihak keluarga menunjukkan adanya perubahan perilaku yang signifikan. Korban sebelumnya juga pernah mencoba melakukan upaya serupa, namun saat itu nyawanya masih bisa tertolong," jelas Ardi.

Polisi menyimpulkan kronologi kejadian bermula saat sang ibu memberikan cairan pembersih kepada anaknya, kemudian melakukan aksi pembakaran yang merenggut nyawa keduanya. 

Dengan tidak ditemukannya unsur pidana atau intervensi pihak luar, maka kasus ini dinyatakan selesai dan ditutup secara resmi.

Kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga kesehatan mental dan tidak memendam masalah sendirian. Keluarga dan kerabat diharapkan lebih peka terhadap perubahan perilaku orang terdekat yang dapat mengindikasikan tekanan psikologis berat.

Jika Anda atau orang terdekat sedang mengalami tekanan mental atau memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri, segera hubungi layanan profesional kesehatan jiwa atau pusat panggilan darurat terdekat. (san)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow