Perajin Tenun Ikat Parengan Lamongan Kebanjiran Pesanan Saat Ramadan

27 Feb 2026 - 06:58
Perajin Tenun Ikat Parengan Lamongan Kebanjiran Pesanan Saat Ramadan
Perajin Tenun Ikat di Desa Parengan Lamongan. (Iyan Farikh/afederasi.com)

Lamongan, (afederasi.com) – Memasuki Pertengahan bulan suci Ramadan dan menjelang Hari Raya Idul fitri 1447 H, industri tenun ikat di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, mulai meraup berkah. Para perajin mengaku adanya lonjakan pesanan yang signifikan, bahkan mencapai dua kali lipat dibandingkan hari-hari biasanya. Jumat, (27/2/2026).

Kondisi ini dirasakan oleh Miftahul Khoiri, pemilik usaha kerajinan tenun ikat di Desa Parengan, Kecamatan Maduran, Kabupaten Lamongan. Sejak awal Ramadan, rumah produksinya tidak pernah sepi dari aktivitas pemenuhan pesanan.

Menurut Miftahul, pesanan tidak hanya datang dari lokalan Lamongan atau Jawa Timur saja, melainkan merambah hingga ke seluruh provinsi di Indonesia melalui platform pasar daring (online). Meski demikian, banyak pula pelanggan yang memilih datang langsung ke lokasi untuk melihat kualitas kain secara mendetail.

"Memasuki bulan Ramadan ini, omzet penjualan tenun ikat meningkat hingga dua kali lipat dibanding bulan biasanya," ujarnya.

Miftahul merinci bahwa kenaikan paling tajam terjadi pada produk sarung songket. Jika pada bulan biasa ia hanya mampu menjual sekitar 6 kodi, kini permintaannya melonjak drastis hingga menyentuh angka 15 kodi.

Tak hanya sarung, kain tenun ikat khas Lamongan juga mengalami tren positif dengan kenaikan sekitar 25 persen. Dari yang biasanya terjual 900 potong per bulan, kini meningkat menjadi 1.200 potong.

"Untuk harga sarung songket, kami jual mulai dari Rp500 ribu hingga Rp3 juta per potong. Sedangkan untuk baju ikat khas Lamongan, harganya berkisar antara Rp175 ribu sampai Rp850 ribu," tambahnya. Ia menjelaskan bahwa variasi harga tersebut sangat bergantung pada tingkat kesulitan motif saat proses pembuatan serta kualitas bahan baku yang digunakan.

Tingginya minat pembeli bukan tanpa alasan. Ahmad Nur Latif, salah satu pembeli yang datang langsung ke Desa Parengan, mengaku selalu berlangganan di tempat tersebut karena kualitas tenunnya yang terjaga namun tetap dengan harga yang kompetitif.

"Saya sengaja datang untuk membeli kain tenun ikat khas Lamongan buat Lebaran nanti. Saya selalu beli di sini karena kualitasnya bagus dan harganya cukup terjangkau bagi kami," katanya.

Sentra tenun ikat di Desa Parengan memang telah lama dikenal sebagai ikon kerajinan tangan khas Lamongan yang mampu bertahan di tengah gempuran tekstil modern, terutama karena proses produksinya yang masih mempertahankan alat tenun bukan mesin. (yan)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow