Jeritan PMI Situbondo di Tengah Dentuman Bom Timur Tengah, Pemkab Buka Posko Darurat
"Ada warga kita di Oman yang melaporkan langsung saat saya live TikTok. Dia terdampak perang di sana. Atas dasar itu, saya perintahkan Kepala Dinas segera membuat posko pengaduan," ujar pria yang akrab disapa Mas Rio
Situbondo, (afederasi.com) - Eskalasi konflik bersenjata antara Iran dan Israel di kawasan Timur Tengah memicu kekhawatiran mendalam bagi keselamatan warga negara Indonesia di sana. Merespons situasi genting tersebut, Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo, bergerak cepat dengan menginstruksikan pembentukan posko pengaduan darurat bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Situbondo yang terjebak di zona merah.
Langkah taktis ini diambil Pemerintah Kabupaten Situbondo melalui Dinas Tenaga Kerja tepat pada Kamis (5/3/2026). Keberadaan warga yang terancam ini diketahui setelah Bupati menerima laporan menyayat hati dari keluarga PMI saat melakukan siaran langsung di aplikasi TikTok.
"Ada warga kita di Oman yang melaporkan langsung saat saya live TikTok. Dia terdampak perang di sana. Atas dasar itu, saya perintahkan Kepala Dinas segera membuat posko pengaduan," ujar pria yang akrab disapa Mas Rio tersebut dengan nada tegas.
Salah satu potret pilu datang dari Sri Wahyuningsih (40), tenaga kerja asal Desa Sletreng, Kecamatan Kapongan. Sri dikabarkan tengah mendekam di sebuah penampungan di wilayah Oman bersama empat rekan lainnya. Lokasi penampungan tersebut dinilai sangat rawan karena berada di jalur terdampak konflik.
"Kami menerima informasi bahwa yang bersangkutan berada di penampungan bersama empat orang lainnya," tambah Bupati Rio.
Hingga saat ini, otoritas setempat mencatat sedikitnya tiga PMI asal Situbondo yang berada dalam zona bahaya. Namun, angka ini diprediksi akan terus bertambah seiring aktifnya pendataan di lapangan. Mas Rio menegaskan bahwa dirinya telah meminta jajaran dinas untuk menyisir informasi lebih luas karena diyakini masih banyak warga Situbondo yang mengadu nasib di Timur Tengah tanpa terdata secara resmi.
Kesaksian mencekam pun datang dari pihak keluarga. Hosniyah, kakak dari salah satu PMI, mengaku hanya bisa berkomunikasi secara pasif dan sering mendengar suara ledakan di balik sambungan telepon adiknya.
"Kondisinya sudah sangat mencekam. Kalau saya telepon, suara ledakan itu terdengar sangat keras," ungkap Hosniyah dengan mata berkaca-kaca. Ia menambahkan bahwa adiknya sering menangis ketakutan dan memohon agar segera dipulangkan ke tanah air.
Menanggapi situasi tersebut, Pemkab Situbondo berkomitmen penuh untuk memfasilitasi proses evakuasi. Komunikasi intensif terus dibangun dengan Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (PPMI), serta perwakilan diplomatik di KBRI dan KJRI setempat.
"Besok saya berencana menemui Menteri PPMI. Komunikasi antarnegara memang wewenang pusat, tapi daerah siap mendukung penuh, termasuk urusan tiket kepulangan," jelas Mas Rio.
Bupati menekankan bahwa dalam situasi darurat seperti ini, birokrasi dan status keberangkatan para pekerja tidak lagi menjadi penghalang bagi negara untuk hadir. Fokus utama pemerintah saat ini adalah keselamatan nyawa.
"Bagi saya ini bukan lagi soal status legal atau ilegal. Warga Situbondo ada di luar negeri dan nyawanya terancam perang, ini murni soal kemanusiaan," pungkasnya.(vya/dn)
What's Your Reaction?



