Harga Minyak Goreng Curah di Lamongan Melonjak Tajam, Pedagang Kecil Terdampak

Minyak curah sebelumnya Rp19.000, sekarang jadi Rp21.000. Minyak kemasan lain seperti merek Rizki juga naik dari Rp16.000 ke Rp18.000," ujar Rama saat ditemui di lapaknya.

11 Apr 2026 - 11:05
Harga Minyak Goreng Curah di Lamongan Melonjak Tajam, Pedagang Kecil Terdampak
Minyak Goreng Curah Alami Kenaikan Paling Signifikan Sehak Beberapa Pekan Terakhir (Iyan Farikh/afederasi.com)

Lamongan, (afederasi.com) – Harga komoditas minyak goreng di Pasar Sidoharjo, Kabupaten Lamongan, terpantau mengalami kenaikan signifikan pada Sabtu (11/4/2026). Kenaikan ini diduga tidak hanya dipicu oleh tingginya permintaan pasar, tetapi juga dampak tidak langsung dari situasi geopolitik global.

Selain tingginya permintaan menjelang periode tertentu, sejumlah pedagang menduga ada keterkaitan antara kenaikan harga minyak goreng dengan eskalasi konflik di Timur Tengah. Ketegangan tersebut ditengarai memicu kenaikan biaya logistik dan harga bahan baku penunjang, seperti plastik untuk kemasan.

Rama Rendy Saputra, salah satu pedagang di Pasar Sidoharjo, mengungkapkan bahwa kenaikan harga terjadi merata. MinyaKita ukuran 800 ml yang sebelumnya dibanderol Rp16.000 kini melonjak menjadi Rp18.000. Sementara itu, minyak goreng curah mengalami kenaikan paling mencolok.

"Minyak curah sebelumnya Rp19.000, sekarang jadi Rp21.000. Minyak kemasan lain seperti merek Rizki juga naik dari Rp16.000 ke Rp18.000," ujar Rama saat ditemui di lapaknya.

 

Rama menduga kenaikan ini dipengaruhi oleh tingginya permintaan serta ongkos produksi kemasan yang membengkak.

"Sepertinya imbas konflik Timur Tengah juga, Mas. Itu buat bahan baku seperti plastik naik, ditambah lagi mungkin permintaan dari masyarakat memang sedang tinggi," tambahnya.

 

Kondisi ini membuat Rama mengeluhkan penurunan omzet karena banyak pelanggan yang mulai membatasi pembelian.

Dampak kenaikan minyak goreng pun langsung menghantam para pelaku usaha kecil. Said, seorang penjual gorengan, mengaku sangat terbebani dengan kondisi harga yang tidak stabil ini.

Said yang setiap harinya rutin berbelanja minyak goreng curah dengan modal Rp50.000, kini harus menerima kenyataan volume minyak yang didapatnya terus berkurang.

"Biasanya Rp50.000 itu dapat 2 kilo lebih, sekarang ya berkurang. Untuk jualan jadi agak sulit, untungnya jadi tipis banget," tutur Said.

Meskipun biaya produksi meningkat akibat harga minyak dan kemasan yang mahal, Said memilih untuk tidak menaikkan harga dagangannya.

"Enggak ada niatan naikkan harga gorengan, nanti pembeli malah kabur. Harapan saya ya pemerintah bisa turun tangan nurunin harga, biar kami pedagang kecil bisa tetap jalan," pungkasnya. (yan)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow