Harga Ayam di Pasar Sidoharjo Lamongan Masih Tinggi Pasca Lebaran, Warga Mengeluh

"Waktu H-1 itu ayam potong sampai Rp50.000, kalau ayam petelur (ayam merah) Rp60.000 per kilonya," ujar Khusnul saat ditemui di lapaknya.

26 Mar 2026 - 09:17
Harga Ayam di Pasar Sidoharjo Lamongan Masih Tinggi Pasca Lebaran, Warga Mengeluh
Pedagang Daging Ayam di Pasar Sidoharjo Kota Lamongan. (Iyan Farikh/afederasi.com)

Lamongan, (afederasi.com) – Meski perayaan Idul Fitri telah usai, harga komoditas daging ayam di pasar tradisional Kabupaten Lamongan terpantau belum kembali ke harga normal. Di Pasar Sidoharjo, Kecamatan Kota Lamongan, harga daging ayam masih bertengger di angka yang cukup tinggi, memicu keluhan baik dari pedagang maupun konsumen. Kamis, (26/3/2026).

Berdasarkan pantauan di lapangan, penurunan harga memang terjadi jika dibandingkan dengan puncak H-1 Lebaran, namun angka tersebut masih jauh di atas harga rata-rata harian biasanya.

Salah satu pedagang daging ayam di Pasar Sidoharjo, Khusnul Khotimah, mengungkapkan bahwa fluktuasi harga tahun ini cukup signifikan. Menurutnya, harga sempat menyentuh level tertinggi tepat sebelum lebaran.

"Waktu H-1 itu ayam potong sampai Rp50.000, kalau ayam petelur (ayam merah) Rp60.000 per kilonya," ujar Khusnul saat ditemui di lapaknya.

Memasuki masa pasca-Lebaran, harga memang mengalami penurunan tipis, namun tetap dikategorikan mahal. Saat ini, ayam potong dibanderol Rp45.000 dan ayam petelur seharga Rp55.000. Padahal, dalam kondisi normal, harga ayam potong biasanya hanya berkisar di angka Rp35.000 hingga Rp36.000.

Khusnul menduga, selain karena faktor tingginya permintaan hari raya, kendala di tingkat peternak menjadi pemicu utama stok tidak stabil.

"Mungkin karena mau Lebaran, tapi bisa juga karena gagal panen gara-gara faktor cuaca. Jadi kenaikan itu kemungkinan dari petani yang gagal panen itu," tambahnya.

 

Kondisi ini praktis membuat para ibu rumah tangga harus memutar otak lebih keras. Halimah, salah satu pembeli yang sedang berbelanja di Pasar Sidoharjo, tak mampu menyembunyikan kekecewaannya melihat harga yang belum juga melandai.

Ia menyebut kenaikan ini sangat memberatkan kantong masyarakat kecil, terutama di tengah situasi ekonomi yang sedang sulit.

"Alah, harganya kok terlalu mehong (mahal). Ah, terlalu mahal, ini dua kali lipat," keluh Halimah dengan nada kecewa.

Halimah berharap pemerintah daerah segera turun tangan untuk menstabilkan harga pangan agar daya beli masyarakat kembali normal.

"Ya harapannya bisa turun harganya, stabil seperti yang kemarin-kemarin sebelum Hari Raya. Kalau mahal gini sulit, Nak, cari uang," pungkasnya. (yan)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow