Gus Bahar Menjaga Marwah Pesantren dari Dalam, Bukan Sekadar di Luar

16 May 2026 - 15:55
Gus Bahar Menjaga Marwah Pesantren dari Dalam, Bukan Sekadar di Luar
Gus Bahar dari Pesantren Salafiyyah Seblak Jombang, Jumat (15/05/2026). (Foto: Istimewa)

Jombang, (afederasi.com) – Di tengah hiruk-pikuk narasi publik tentang pesantren, muncul sebuah suara penuh perenungan dari Gus Bahar dari Pesantren Salafiyyah Seblak Jombang,  mengingatkan bahwa menjaga marwah (kehormatan) pondok pesantren bukanlah sekadar aksi membela diri di hadapan publik atau melawan tuduhan dari luar.

Lebih dari itu, menurut Gus Bahar, tugas terberat justru berada di dalam: memastikan seluruh "organ" pesantren tetap sehat, jernih, dan berfungsi dengan semestinya.

"Ada masa ketika semangat membela sesuatu yang dicintai begitu besar, hingga tanpa disadari yang lebih penting justru terlewatkan: menjaga dari dalam," tulis Gus Bahar dalam sebuah refleksi mendalam yang diterima redaksi, Jumat (15/05/2026). 

Pesantren Seperti Tubuh Manusia: Organnya Harus Sehat


Dalam pandangan Gus Bahar, pesantren ibarat tubuh manusia. Ada "kepala" sebagai pusat kebijakan, "hati" sebagai sumber nilai, dan "anggota tubuh" sebagai pelaksana sehari-hari. Ketika semua selaras, tubuh sehat. Namun, ketika satu bagian terganggu, seluruhnya merasakan dampak.

Ia tidak menampik adanya realita pahit. Di beberapa tempat, mulai tampak gejala yang mengusik: penyimpangan perilaku, lemahnya pengawasan, hingga hal-hal yang dulu terasa jauh kini mulai dekat.

"Ini bukan untuk membuka aib, tetapi sebagai cermin bahwa tidak ada lingkungan manusia yang sepenuhnya steril dari ujian," tegasnya.

Dua Kecenderungan yang Salah, Satu Jalan Bijak


Ketika menghadapi "penyakit" internal, Gus Bahar melihat muncul dua kecenderungan yang keliru:

1. Reaksi keras yang ingin meluruskan semuanya dengan panik.

2. Sikap diam yang memilih tidak peduli, enggan berobat.

"Keduanya tidak selalu menjadi jalan terbaik," ujarnya.

Jalan yang lebih bijak adalah merawat dari dalam dengan kesabaran dan kesadaran. Sebagaimana tubuh dirawat agar kembali sehat, pesantren pun membutuhkan perawatan berkelanjutan, bukan sekadar menutupi gejala.

Langkah Sederhana Berdampak Besar: Silaturahmi dan Ziarah
Gus Bahar menawarkan dua amalan sederhana namun dahsyat sebagai "obat" bagi kegelisahan:

Silaturahmi (ibarat aliran darah): Menghubungkan satu bagian dengan bagian lain, membawa nutrisi berupa pemahaman dan semangat.

Ziarah (ibarat penguatan jantung): Mengingat perjuangan para ulah seperti KH Hasyim Asy'ari, membuat semangat kembali berdenyut.

"Dari satu pertemuan, bisa lahir pemahaman. Dari satu perjalanan, bisa muncul kesadaran baru," tulisnya.

Ujian Ikhlas: Ketika Ide Tidak Diakui
Salah satu poin menarik dari renungan Gus Bahar adalah soal ujian keikhlasan. Tidak semua gagasan akan diakui sebagai milik pribadi. Terkadang, ide menjadi bagian dari keputusan bersama tanpa diketahui asalnya.

"Justru di situlah letak ujian keikhlasan. Tetap bergerak meskipun tidak disebut, tetap menjaga meskipun tidak terlihat, dan tetap berharap hanya kepada Allah, bukan kepada pengakuan manusia," pesannya.

Pada akhirnya, menjaga marwah pesantren adalah proses panjang yang membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan kejujuran. Ini bukan pekerjaan yang selesai dalam satu waktu.

Gus Bahar menutup pesannya dengan sebuah prinsip fundamental: Jika "hati" tetap hidup, maka seluruh tubuh akan mengikuti. Jika nilai tetap terjaga, maka bentuk luar akan menyesuaikan.

"Karena menjaga bukan hanya tentang apa yang tampak di luar, tetapi tentang apa yang terus hidup dan dijaga di dalam."

Pesan ini menjadi pengingat bagi seluruh elemen pesantren dan masyarakat bahwa membela di luar itu penting, tetapi menjaga dari dalam adalah harga mati. (san)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow