Estimasi Bakal Telan Rp7,2 Miliar, Jembatan Junjung Tulungagung Mulai Dibangun April

Pemkab Tulungagung segera memulai pembangunan ulang Jembatan Junjung yang ambruk sejak 2024. Menggunakan konstruksi balok gerber senilai Rp7,2 miliar, proyek ini ditargetkan rampung November 2026.

09 Apr 2026 - 12:21
Estimasi Bakal Telan Rp7,2 Miliar, Jembatan Junjung Tulungagung Mulai Dibangun April
Warga melihat kondisi jembatan junjung yang rusak lantaran diterjang banjir (ist)

Tulungagung, (afederasi.com) – Setelah menunggu selama lebih dari satu tahun sejak ambruk pada Desember 2024 lalu, pembangunan ulang Jembatan Junjung dipastikan akan segera dimulai pada bulan April 2026 ini. Proyek strategis yang berlokasi di Kecamatan Sumbergempol tersebut kini telah memasuki tahap finalisasi kontrak kerja setelah proses lelang dinyatakan selesai.

Pemerintah Kabupaten Tulungagung melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) menargetkan jembatan tersebut dapat kembali dilintasi masyarakat dalam waktu tujuh bulan ke depan. Pengerjaan fisik diharapkan berjalan secara akseleratif sehingga akses transportasi warga bisa kembali normal sebelum akhir tahun.

Plt Kabid Bina Marga Dinas PUPR Tulungagung, Ahmad Rifai Sodik, menegaskan bahwa pemenang lelang proyek sudah ditetapkan. Pihaknya kini tengah mematangkan administrasi kontrak sebelum alat berat diterjunkan ke lokasi pembangunan.

"Pemenang proyeknya sudah ada, tinggal pembuatan kontrak kerja. Bulan April ini pengerjaan fisik Jembatan Junjung akan mulai dilakukan," ujar Rifai Sodik saat ditemui pada Kamis (9/4/2026).

Rifai menambahkan, pihaknya telah memberikan instruksi khusus kepada kontraktor pelaksana agar bekerja secara efektif. Meski durasi kontrak tersedia selama tujuh bulan, ia berharap jembatan ini bisa fungsional lebih awal dari target yang ditetapkan.

"Kami targetkan selesai kalau bisa sebelum November 2026," tegasnya.

Secara teknis, pembangunan ulang ini tidak hanya sekadar memperbaiki kerusakan, melainkan merombak total konstruksi jembatan. Pemkab Tulungagung memilih menggunakan spesifikasi balok gerber, sebuah konstruksi modern yang lazim diterapkan pada proyek jalan tol. Keunggulan utamanya adalah meniadakan pilar tengah yang selama ini dianggap sebagai titik lemah jembatan saat menghadapi arus sungai.

"Spesifikasi konstruksi akan menggunakan balok gerber atau pondasi tanpa pilar tengah. Konstruksi ini biasa dipakai untuk jalan tol," ungkap Rifai.

Pemilihan model balok gerber ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan evaluasi kerusakan sebelumnya, keberadaan pilar di tengah sungai seringkali mengakibatkan penumpukan sampah material seperti kayu dan eceng gondok saat banjir melanda. Hal inilah yang memicu beban berlebih hingga menyebabkan struktur jembatan lama patah.

"Langkah ini diambil untuk menghindari risiko jika terjadi banjir. Apalagi saat banjir sering kali sampah ikut tersangkut ke pondasi jembatan," imbuhnya.

Untuk merealisasikan infrastruktur yang lebih tangguh ini, Pemkab Tulungagung telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp7,2 miliar yang bersumber dari APBD murni tahun 2026. Dengan komitmen anggaran tersebut, diharapkan masyarakat setempat tidak perlu lagi memutar jauh untuk melakukan aktivitas ekonomi maupun pendidikan.

"Kami harap proyek ini cepat selesai, sehingga warga bisa kembali melintasi jembatan tanpa harus memutar lagi," pungkas Rifai.(riz/dn) 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow