BUMDes Alasbuluh Banyuwangi Sulap Telur Lokal Jadi Senjata Lawan Stunting

24 Feb 2026 - 23:02
BUMDes Alasbuluh Banyuwangi Sulap Telur Lokal Jadi Senjata Lawan Stunting
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani saat meninjau lokasi peternakan. (roni/afederasi.com)

Banyuwangi, (afederasi.com) - Inovasi pengentasan kemiskinan dan kerentanan gizi terus bermunculan dari tingkat akar rumput. Salah satu gebrakan datang dari Desa Alasbuluh, Kecamatan Wongsorejo, yang tidak hanya menjadikan peternakan ayam petelur sebagai sumber pendapatan asli desa, tetapi juga mengintegrasikannya secara langsung ke dalam program intervensi gizi masyarakat.

Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) setempat kini mengelola kandang berkapasitas lebih dari seribu ekor ayam. Unit usaha yang diresmikan beroperasi penuh pada awal Desember 2025 itu menjadi laboratorium hidup bagi konsep "ekonomi melayani". Pasalnya, aliran telur dari kandang tidak sepenuhnya mengalir ke pasar, namun sebagian dialokasikan secara khusus untuk warga yang membutuhkan.

Kepala Desa Alasbuluh, melalui Pendamping Desa Eko Mulyono, menjelaskan bahwa skema ini dirancang untuk menjawab dua tantangan sekaligus.

"Kami ingin BUMDes tidak hanya untung secara materi, tetapi juga hadir dalam aspek sosial. Dari hasil musyawarah desa, kami sepakat bahwa telur sebagai sumber protein hewani harus bisa diakses oleh ibu hamil dan balita yang terindikasi kurang gizi," ujar Eko di sela pendistribusian telur untuk kegiatan posyandu, Selasa (24/2/2026).

Dari kandang seluas 120 meter persegi yang dibangun dengan anggaran desa sebesar Rp300 juta, dihasilkan sekitar 15 kilogram telur per hari. Dari jumlah itu, sebagian langsung disisihkan untuk keperluan sosial.

"Setiap bulan, dalam kegiatan posyandu, kami bagikan sepuluh butir telur per sasaran. Mekanismenya terintegrasi dengan data penerima manfaat dari dinas kesehatan, jadi tepat sasaran," imbuh Eko.

Saat meninjau lokasi peternakan, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengapresiasi model pembangunan desa yang inklusif tersebut. Menurutnya, praktik seperti ini adalah wujud nyata dari kolaborasi pembangunan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga kualitas sumber daya manusia.

"Ini contoh baik bagaimana desa hadir di tengah warganya. Tidak sekadar membangun infrastruktur, tetapi juga membangun ketahanan pangan berbasis kebutuhan lokal. Ketika desa punya usaha sendiri, maka intervensi terhadap masalah seperti stunting tidak perlu menunggu bantuan dari luar, karena solusinya sudah dikelola secara mandiri oleh desa," kata Bupati Ipuk.

Bupati Ipuk menambahkan, penguatan pangan desa melalui badan usaha milik desa adalah fondasi penting. "Telur dari kandang ini bukan hanya komoditas, tapi juga 'obat' untuk mencegah stunting. Dampaknya langsung dirasakan oleh peningkatan gizi anak-anak dan ibu hamil di sini. Ini ujung tombak kemandirian pangan kita," tandasnya.

Produksi yang dipasarkan ke warga sekitar dan wilayah Kecamatan Wongsorejo pun mendapatkan respons positif. Warga tidak hanya mudah mendapatkan telur segar, tetapi juga turut serta dalam menjaga keberlangsungan usaha desa. Model sirkular ini diharapkan dapat direplikasi oleh desa-desa lain di Banyuwangi sebagai strategi terpadu dalam mengentaskan kemiskinan dan masalah gizi kronis. (ron)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow