Selama 23 Tahun Dorong Gerobak, Pedagang Es Campur Jombang ini Akhirnya Berangkat Haji Bareng Istri

16 Apr 2026 - 04:39
Selama 23 Tahun Dorong Gerobak, Pedagang Es Campur Jombang ini Akhirnya Berangkat Haji Bareng Istri
Mukti Ali (54), penjual es campur yang akan berangkat haji 2026 saat melayani pembeli, Kamis (16/04/2026). (Foto: Santoso/afederasi.com)

Jombang, (afederasi.com) – Kisah inspiratif datang dari pasangan suami istri pedagang es campur asal Kabupaten Jombang. Mukti Ali (54) dan Anik (60), warga Desa Sumbermulyo, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang membuktikan bahwa kesabaran dan ketekunan berdagang selama 23 tahun mampu mengantarkan mereka ke Tanah Suci. Keduanya kini resmi berangkat haji bersama pada tahun 2026.

Di balik gerobak usang yang setiap hari didorong keliling kampung, tersimpan doa dan air mata perjuangan yang tak pernah putus. Mukti Ali mengaku tidak pernah membayangkan bisa menjadi tamu Allah bersama sang istri.

Dengan segala keterbatasan ekonomi, ia tetap bersyukur atas kesehatan dan rezeki yang cukup untuk melunasi biaya perjalanan haji berdua.

"Alhamdulillah, kami diberi kesehatan dan dimampukan melunasi biaya haji berdua. Sudah 23 tahun kami jualan es campur, sehari-hari dorong gerobak. Tapi Allah berkehendak lain. Kami bisa berangkat bersama. Rasanya tidak terkira," ujar Mukti Ali dengan mata berkaca-kaca, Kamis (16/04/2026).

Sebelum menjadi pedagang es campur, Mukti Ali pernah mengayuh becak untuk menghidupi keluarganya. Namun, penghasilan sebagai tukang becak tidak menentu. Bersama Anik, ia memutuskan beralih profesi menjadi pedagang es campur keliling. Modal seadanya, mereka mulai berjualan dari pintu ke pintu, dari desa ke desa.

"Dulu naik becak, sekarang dorong gerobak. Sama-sama melelahkan, tapi hati kami tenang karena halal. Istri selalu menemani di samping saya, menuangkan sirup, menyusun roti. Tanpa beliau, saya tidak akan kuat," kenangnya.

Kesederhanaan hidup itu terus dijalani tanpa keluhan. Mukti bahkan tidak pernah terbiasa berutang untuk kebutuhan sehari-hari. Prinsipnya, rezeki sudah diatur Allah. Cukup makan, cukup sandang, dan yang terpenting adalah kebersamaan dengan keluarga.

Perjalanan spiritual pasangan ini bermula dari kebiasaan yang tak terduga. Mukti Ali kerap diminta memimpin pembacaan talbiah dalam acara walimatul safar warga yang akan berangkat haji atau umrah. Setiap kali melantunkan talbiah, air matanya tak kuasa tertahan. Hatinya terasa begitu terpanggil.

"Setiap memimpin talbiah, saya selalu menangis. Tidak tahu kenapa. Dari situ saya bicara ke istri, 'Bu, kayaknya kita juga harus nabung untuk haji'. Istri saya hanya mengangguk sambil tersenyum," ceritanya.

Sejak saat itu, pasangan ini mulai menyisihkan pendapatan harian dari berjualan es campur. Tidak banyak, kadang hanya Rp10.000 hingga Rp20.000 per hari. Tapi mereka melakukannya dengan konsisten dan penuh keyakinan.

Mukti Ali lebih dahulu mendaftar haji menggunakan tabungan yang terkumpul perlahan. Empat tahun kemudian, giliran sang istri menyusul setelah tabungan kembali mencukupi. Penantian panjang itu akhirnya berbuah manis ketika keduanya dinyatakan masuk dalam kuota haji reguler Kabupaten Jombang tahun 2026.

"Ini jawaban doa kami selama bertahun-tahun. Kami tidak pernah menyangka bisa berangkat berdua. Bagi kami, ini bukan sekadar perjalanan fisik, tapi bukti bahwa Allah melihat kesabaran hamba-Nya yang paling sederhana sekalipun," ujar Anik, sang istri, dengan suara bergetar.

Kisah Mukti Ali dan Anik menjadi angin segar bagi para pedagang kecil di Jombang dan sekitarnya. Mereka membuktikan bahwa profesi apa pun, sekecil apa pun penghasilannya, tidak menjadi penghalang untuk meraih mimpi besar.

"Jangan pernah malu dengan pekerjaan kita. Jangan pernah menyerah. Rezeki, jodoh, dan maut sudah Allah yang atur. Tugas kita hanya berusaha dan berdoa. Sisanya, Allah yang menentukan," pesan Mukti Ali mengakhiri perbincangan.

Saat ini, Mukti Ali dan Anik tengah mempersiapkan diri secara fisik dan mental. Mereka mengikuti manasik haji di tingkat kecamatan dan kabupaten. Mukti Ali bahkan tetap berjualan es campur di sela-sela persiapan, karena menurutnya, bekerja adalah ibadah.

"Saya tetap jualan sampai nanti benar-benar berangkat. Istri saya di rumah menyiapkan perlengkapan. Kami tidak ingin banyak utang. Yang penting niat kami lurus karena Allah," tegasnya.

Dari lorong-lorong desa, dari gerobak es campur yang sederhana, hingga lantunan talbiah yang basah oleh air mata, pasangan ini membuktikan bahwa cinta, kesabaran, dan keyakinan mampu mengubah mimpi menjadi kenyataan.

Selamat berangkat haji, Pak Mukti Ali dan Bu Anik. Semoga menjadi haji yang mabrur dan keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. (san)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow