Sebut Demokrasi Dibajak Oligarki, Aliansi BEM Madiun Gelar Deklarasi di Kampus Unmer

Gerakan ini mendapat dukungan kuat dengan dihadiri oleh perwakilan fungsionaris BEM dari delapan kampus di Madiun, yaitu Universitas PGRI Madiun, Universitas Muhammadiyah Jawa Timur, Universitas Merdeka Madiun, Universitas Bhakti Hasta Mulya, Politeknik Negeri Madiun, STAI-NU, Universitas Widya Mandala, dan Universitas Widya Yuwana.

21 May 2026 - 21:53
Sebut Demokrasi Dibajak Oligarki, Aliansi BEM Madiun Gelar Deklarasi di Kampus Unmer
Aliansi BEM Madiun (ABM) saat membacakan pernyataan sikap pada Kongres I & Deklarasi di Unmer Madiun, Rabu (20/5/2026). (Ist/guntur)

Madiun, (afederasi.com) – Momentum 28 tahun Hari Reformasi diwarnai aksi protes keras Aliansi BEM Madiun (ABM) melalui Kongres dan Deklarasi di Auditorium Kampus Universitas Merdeka Madiun pada Rabu (20/5/2026). Agenda ini menjadi wadah awal untuk mempersatukan kembali pergerakan mahasiswa Madiun demi kemaslahatan masyarakat, sekaligus menyatakan sikap atas merosotnya demokrasi dengan mengusung tema "Menagih Janji Reformasi".

Koordinator Aliansi BEM Madiun yang juga Ketua BEM Universitas Bhakti Hasta Mulya (UBHM), Ismail Hamdan, menegaskan bahwa cita-cita luhur Reformasi 1998 kini berada dalam kondisi darurat. Menurutnya, pemberantasan KKN, penegakan HAM, dan supremasi sipil telah melenceng akibat manipulasi hukum, restorasi nepotisme, serta kekuatan oligarki yang membajak institusi negara.

Gerakan ini mendapat dukungan kuat dengan dihadiri oleh perwakilan fungsionaris BEM dari delapan kampus di Madiun, yaitu Universitas PGRI Madiun, Universitas Muhammadiyah Jawa Timur, Universitas Merdeka Madiun, Universitas Bhakti Hasta Mulya, Politeknik Negeri Madiun, STAI-NU, Universitas Widya Mandala, dan Universitas Widya Yuwana.

Sebagai bentuk evaluasi total, ABM menyuarakan lima tuntutan pokok. Mereka mendesak negara menuntaskan pelanggaran HAM Tragedi 1998, mengecam suburnya politik dinasti, serta menuntut penghentian komersialisasi pendidikan tinggi. Selain itu, mereka juga meminta aparat menghentikan tindakan represif di ruang sipil dan menolak keras kembalinya dwifungsi aparat dalam tubuh ASN.

Melalui momentum ini, aliansi menegaskan komitmennya untuk tetap menjadi benteng pertahanan nalar kritis. "Kemerdekaan tidak pernah diberikan secara cuma-cuma oleh penguasa, ia harus direbut dan dipertahankan. Selama ketidakadilan dilembagakan, maka perlawanan adalah kewajiban!" pungkas Ismail. (gun/hen)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow