Ratusan Warga Padati Pertunjukan Tayub,  ASB: Mari Lestarikan Budaya

10 May 2026 - 11:41
Ratusan Warga Padati Pertunjukan Tayub,  ASB: Mari Lestarikan Budaya
Pagelaran Langen Tayub di halaman Kantor Kecamatan Kebonagung, Pacitan, Sabtu, (9/5/2026). (Feri Irawan/afederasi.com)

Pacitan, (afederasi.com) - Pelestarian kesenian tradisional tayub terus mendapat ruang di tengah masyarakat Kabupaten Pacitan. 

Pengukuhan sekaligus pagelaran Langen Tayub digelar di halaman Kantor Kecamatan Kebonagung pada Sabtu malam, (9/5/2026), dan dihadiri ratusan warga dari 19 desa di wilayah Kecamatan Kebonagung maupun dari luar daerah.

Kegiatan yang berlangsung meriah itu menjadi ajang silaturahmi para pelaku seni tradisional sekaligus bentuk komitmen masyarakat dalam menjaga warisan budaya Jawa yang masih hidup di tengah perkembangan zaman modern.

Iringan gamelan khas tayub berpadu dengan tembang-tembang Jawa menghidupkan suasana malam di sekitar Kantor Kecamatan Kebonagung. Warga tampak antusias menyaksikan pertunjukan sejak awal acara hingga larut malam.

Sejumlah tokoh masyarakat, pegiat seni, hingga perwakilan desa turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Dewan Pembina Langen Tayub Kecamatan Kebonagung, Udin Wahyudi mengatakan, tayub bukan sekadar hiburan rakyat, melainkan bagian dari identitas budaya masyarakat pedesaan yang sarat nilai kebersamaan dan gotong royong.

Menurut Camat Kebonagung itu, keberadaan kelompok-kelompok tayub di desa harus terus dijaga agar kesenian tradisional tidak hilang tergerus budaya modern.

“Kami berharap desa-desa bisa terus melestarikan kesenian ini. Tayub merupakan warisan budaya yang sudah lama hidup di tengah masyarakat dan harus dijaga bersama,” ujarnya.

Dalam tradisi masyarakat Jawa, tayub dikenal sebagai kesenian rakyat yang identik dengan pertunjukan tari dan gamelan serta menjadi bagian dari hajatan maupun kegiatan budaya desa.

Di sejumlah daerah di Jawa Timur, tayub juga dimaknai sebagai ruang mempererat hubungan sosial antarwarga.

Sementara itu, Ketua Dewan Pembina Langen Tayub Kabupaten Pacitan, Arif Setyo Budi menilai tantangan pelestarian budaya saat ini semakin berat di tengah perubahan sosial masyarakat.

ASB sapaan akrabnya menyebut kemajuan teknologi dan modernisasi tidak selalu berjalan seiring dengan kemajuan nilai-nilai budaya.

“Zaman modern rasanya masyarakat malah semakin susah? betul nggeh? Bukan berarti ketika zaman semakin modern peradaban semakin maju, tapi ternyata bisa jadi malah semakin mundur,” katanya dalam sambutan di hadapan para tamu undangan dan masyarakat.

Dalam kesempatan itu, ASB juga menyampaikan lima pesan kehidupan yang menurutnya perlu dijaga masyarakat agar tetap harmonis dan sejahtera.

Pertama, memiliki keyakinan dalam menjalani kehidupan. Kedua, mampu menempatkan diri demi menjaga kerukunan dan kebersamaan. Ketiga, mau berikhtiar dan bekerja keras. 

Keempat, tidak meninggalkan doa dalam setiap usaha. 

Kelima, menjaga harapan agar kehidupan masyarakat tetap gemah ripah loh jinawi.

Suasana semakin hangat ketika ia menutup sambutannya dengan doa dan harapan bagi seluruh masyarakat yang hadir.

“Semoga yang hadir dan pulang dari sini diberikan keselamatan, kesehatan, rezeki yang lancar, dan bagi yang punya hutang bisa segera lunas,” ucapnya yang langsung disambut tepuk tangan warga.

Pagelaran tersebut juga menjadi bukti bahwa kesenian tradisional masih memiliki tempat di tengah masyarakat Kabupaten Pacitan. 

Selain menjadi hiburan rakyat, tayub dinilai mampu menjadi media pemersatu masyarakat desa di tengah arus budaya modern yang terus berkembang.

Sejumlah warga berharap kegiatan serupa bisa terus rutin digelar di berbagai desa agar generasi muda semakin mengenal kesenian tradisional daerahnya sendiri dan tidak kehilangan akar budaya lokal.

“Seneng jika bisa terus dilestarikan,” ungkap Sularno, warga Desa Kalipelus, Kecamatan Kebonagung. (Feri) 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow