Manfaatkan Rooftop Kosong, Warga Lamongan Sukses Raup Cuan Budidaya Melon Sistem Fertigasi Tetes
"Kami kan sebenarnya sudah menanam di greenhouse. Nah, kebetulan kami punya rooftop yang kosong dan mohon maaf, belum bisa membangun ke atas untuk kelanjutan rumahnya. Jadi saya manfaatkan ruang ini untuk menanam melon," ujar Iskandar saat ditemui di kebun atapnya, Minggu (21/6/2026) sore.
Lamongan, (afederasi.com) – Keterbatasan lahan di area perkotaan bukan menjadi penghalang untuk tetap produktif di sektor pertanian. Hal ini dibuktikan oleh Iskandar, pemilik Perdana Farm yang berada di Desa Deketkulon, Kecamatan Deket, Lamongan, yang sukses menyulap atap rumah atau rooftop menjadi lahan budidaya melon hidroponik yang subur dan bernilai ekonomis. Minggu, (21/6/2026).
Langkah kreatif ini berawal dari pemanfaatan ruang kosong di atas rumahnya. Setelah sebelumnya sukses mengelola pertanian di dalam greenhouse, Iskandar melihat potensi lain dari lantai teratas rumahnya yang memiliki luas 13 x 8 meter persegi tersebut.
"Kami kan sebenarnya sudah menanam di greenhouse. Nah, kebetulan kami punya rooftop yang kosong dan mohon maaf, belum bisa membangun ke atas untuk kelanjutan rumahnya. Jadi saya manfaatkan ruang ini untuk menanam melon," ujar Iskandar saat ditemui di kebun atapnya, Minggu (21/6/2026) sore.
Perjalanan budidaya melon di atas awan ini tidak selalu mulus. Pada musim tanam pertama, Iskandar sempat mencoba menanam melon premium jenis Adinda produksi Tunas Agro. Namun akibat faktor cuaca terbuka di atas gedung serta serangan hama, hasilnya belum sepenuhnya optimal. Pada panen perdana tersebut, ia mengantongi omset sebesar Rp3 juta.
Sadar akan tantangan tersebut, pada musim tanam kedua kali ini Iskandar beralih memilih varietas melon lokal yang dinilai lebih adaptif dengan iklim sekitar.
"Untuk kali ini kami mencoba menanam beberapa jenis melon lokal. Ada jenis Gracia, New Cheria, hingga Nobel. Masa panen untuk melon lokal ini relatif singkat, berkisar antara 60 sampai 65 hari," jelasnya.
Dengan evaluasi yang dilakukan dari musim tanam pertama, Iskandar memprediksi hasil yang jauh lebih melimpah pada putaran kedua ini. Di atas lahan terbatasnya tersebut, ia optimistis mampu meraup omset hingga mencapai Rp7 juta rupiah.
Ditanya mengenai hasil panen terjauh yang pernah didapat, Iskandar mengungkapkan bahwa kebun rooftop-nya pernah mencatatkan hasil hingga 2,5 kuintal. Namun, faktor cuaca ekstrem seperti curah hujan tinggi tetap menjadi tantangan terbesar bagi sistem pertanian atap terbuka.
"Kemarin itu kita bisa dapat 2,5 kuintal. Tapi kalau musim hujan, kondisi di rooftop ini memang kurang begitu bersahabat, terutama untuk melon-melon yang jenis premium. Tantangan utamanya ya memang cuma hujan saja," tambahnya.
Menariknya, keahlian Iskandar dalam mengelola pertanian modern ini didapat secara swadaya dan mandiri. Awal ketertarikannya dimulai saat ia mengikuti program ketahanan pangan desa yang didampingi oleh seorang mentor. Dari bekal dasar itulah, ia kemudian memperdalam teknik pengairan modern melalui platform digital.
Untuk mengalirkan nutrisi ke tanaman melonnya, Iskandar menerapkan sistem hidroponik dengan memanfaatkan teknologi irigasi tetes (drip irrigation).
"Sistem penyiramannya kami pakai selang drip dan fertigasi tetes. Kalau teknologi dan cara implementasinya ini, saya belajar mandiri dari YouTube," akunya sembari tersenyum.
Bagi Iskandar, aktivitas merawat melon di pagi hari bukan sekadar urusan ekonomi atau mendukung ketahanan pangan lokal, melainkan juga sarana investasi kesehatan di usia senja.
"Keinginan saja, Mas. Apalagi umur sudah mendekati waktu istirahat (pensiun), jadi sembari menanam melon ya sembari olahraga. Kalau pagi di sini enak sekali, hawanya segar," tuturnya.
Ia berharap apa yang dilakukannya di atas rooftop ini dapat menularkan energi positif dan menjadi pemantik kreativitas bagi masyarakat luas, khususnya generasi muda yang ingin terjun ke dunia pertanian urban (urban farming).
"Harapannya ini bisa menginspirasi yang lain, terutama kawula muda agar tetap bersemangat dan punya inovasi baru untuk memanfaatkan lahan seadanya untuk menanam," pungkasnya. (yan)
What's Your Reaction?

