Ngaji Sejarah dan Rilis Buku Futuhus Sama’, PMII Gresik Jadikan Malik Ibrahim Inspirasi Spirit Pergerakan
“Buku Futuhus Sama’ yang bermakna tersingkapnya cakrawala pemikiran kader PMII merupakan hasil proses belajar dalam Pelatihan Kader Dasar. Harapannya, buku ini menjadi media kaderisasi sekaligus memperdalam literasi kader PMII Atas Langit tentang sejarah lokal Gresik,” ujarnya.
Gresik, (afederasi.com) – Semangat literasi dan penguatan sejarah lokal digaungkan oleh aktivis mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Atas Langit Daruttaqwa. Melalui peluncuran buku Futuhus Sama’: Malik Ibrahim Sang Penguasa Islam, Teladan Sebagai Spirit Pergerakan, mereka mengajak generasi muda meneladani jejak dakwah dan perjuangan Sunan Maulana Malik Ibrahim sebagai fondasi gerakan intelektual dan sosial.
Peluncuran buku karya kolektif kader PMII tersebut dikemas dalam agenda Ngaji Sejarah yang menghadirkan sejumlah budayawan dan sejarawan terkemuka di Kabupaten Gresik. Kegiatan ini menjadi ruang dialog sekaligus refleksi untuk memperkuat pemahaman sejarah lokal di kalangan mahasiswa.
Buku Futuhus Sama’ berawal dari kumpulan materi yang disampaikan dalam Pelatihan Kader Dasar (PKD) V PMII Atas Langit Daruttaqwa. Dari proses kaderisasi itu lahir sebuah karya yang mengupas perjalanan Sunan Maulana Malik Ibrahim sebagai penyebar Islam sekaligus tokoh yang dinilai memiliki nilai-nilai perjuangan relevan bagi gerakan mahasiswa masa kini.
Ketua Pengurus Komisariat PMII Atas Langit Daruttaqwa, M. Hadi Khoirur Roziqin, mengatakan buku tersebut dihadirkan bukan sekadar sebagai dokumentasi sejarah, melainkan menjadi instrumen kaderisasi yang mampu memperkuat tradisi membaca, berpikir, dan berdialektika.
“Buku Futuhus Sama’ yang bermakna tersingkapnya cakrawala pemikiran kader PMII merupakan hasil proses belajar dalam Pelatihan Kader Dasar. Harapannya, buku ini menjadi media kaderisasi sekaligus memperdalam literasi kader PMII Atas Langit tentang sejarah lokal Gresik,” ujarnya.
Menurut Hadi, sosok Sunan Maulana Malik Ibrahim layak dijadikan rujukan karena perjuangannya menyebarkan Islam dilakukan dengan pendekatan yang bijaksana, membangun peradaban, dan dekat dengan masyarakat. Nilai-nilai tersebut dinilai relevan untuk menumbuhkan semangat pergerakan mahasiswa di era sekarang.
“Karena itu, memperdalam literasi tentang sejarah lokal Gresik menjadi hal yang sangat penting,” tegasnya.
Senada dengan itu, Ketua Majelis Pembina Komisariat (Mabinkom) PMII Atas Langit Daruttaqwa, M. Gus Maulana Yasin, berharap buku tersebut menjadi simbol kebangkitan kader dalam memahami sejarah sekaligus momentum untuk terus beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Ia mengibaratkan Futuhus Sama’ sebagai titik balik bagi kader PMII, sebagaimana peristiwa Isra Mikraj dan Hijrah Nabi Muhammad SAW yang sarat makna transformasi dan pembangunan peradaban.
“Melalui buku ini, kami berharap kader PMII memiliki semangat baru untuk terus berbenah, bergerak, dan berkarya sesuai tuntutan zaman dengan berpijak pada nilai-nilai sejarah,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Cabang PMII Gresik, M. Dafa Abie Almadhani, menyebut peluncuran Futuhus Sama’ menjadi bukti komitmen kader PMII dalam merawat tradisi intelektual dan budaya literasi di lingkungan organisasi.
Menurutnya, kehadiran buku ini diharapkan mampu memantik semangat membaca, menulis, dan berpikir kritis, sehingga kader tidak hanya kuat secara keilmuan, tetapi juga mampu menerjemahkan gagasan menjadi aksi nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat.
“Melalui Futuhus Sama’, kami berharap kualitas kader PMII terus meningkat, baik dalam aspek literasi maupun dalam kemampuan menghadirkan solusi dan karya yang berdampak bagi masyarakat,” katanya.
Rangkaian Ngaji Sejarah yang menyertai peluncuran buku juga menjadi wadah membangun kesadaran historis di kalangan kader. Dengan memahami akar sejarah daerahnya sendiri, mahasiswa diharapkan mampu menjaga nilai-nilai lokal sekaligus berkontribusi dalam pembangunan Gresik dengan perspektif yang lebih utuh.
Kegiatan tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya ahli filologi Prof. Menachem Ali, Ketua Umum MAPSINU Nurul Yaqin, budayawan Gresik Kris Adji AW, perwakilan Himpunan Dzuriyah Sunan Giri, pengurus MAPSINU, pelaku usaha batik Khoiri, serta kader PMII dari berbagai komisariat di Kabupaten Gresik.(frd)
What's Your Reaction?

