Mengembalikan Perkara kepada Ahli Ilmu: Gus Bahar Sorot Fenomena "Lipstik Genit" di Tengah Krisis Keteladanan
Jombang, (afederasi.com) – Sebuah kritik tajam namun mendalam dilontarkan oleh Pengasuh Pesantren Salafiyah Seblak, Gus Bahar, terkait pergeseran peran ulama dan para pemegang ilmu di tengah hiruk-pikuk kehidupan berbangsa saat ini. Ia menyoroti fenomena di mana ilmu yang seharusnya menjadi cahaya petunjuk justru kerap dijadikan komoditas dan "lipstik genit" untuk meraih popularitas di hadapan publik, bukan lagi sebagai alat untuk menyelesaikan perkara umat.
Gus Bahar mengingatkan bahwa para ulama adalah pewaris para nabi yang bertugas menggawangi ilmu agar perkara demi perkara bisa terurai dengan solusi jelas. Namun, kepincangan mulai terasa ketika ayat-ayat suci digunakan sebagai perhiasan, dan mereka yang baru setengah belajar sudah berani berdiri paling lantang menghakimi pihak lain.
Ilmu Bukan Komoditas, Bukan Juga Lipstik Kekuasaan
Dalam tulisannya yang dihimpun afederasi.com, Gus Bahar menyoroti ironi bahwa mereka yang seharusnya menjadi benteng moral justru kerap tampil dengan wajah berbeda. Menghormati ulama dengan pemberian nafkah seperti amplopan atau kendaraan adalah wajar dan terpuji sebagai bentuk dukungan agar mereka istiqamah. Namun, itu menjadi tidak wajar ketika berubah menjadi transaksi terselubung yang mengotori kesucian ilmu.
"Ilmu yang semestinya menjadi cahaya, kini sering digunakan sebagai perhiasan agar terlihat menawan. Padahal, ketika ayat suci dijadikan lipstik genit di hadapan khalayak, di situlah kepincangan mulai terasa," tegasnya, Jumat (19/06/2026).
Teladan Pemimpin dalam Sejarah: Dari Umar bin Abdul Aziz hingga Abu Bakar
Gus Bahar mengajak umat untuk menengok sejarah kepemimpinan Islam yang adil. Ia mencontohkan kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz yang tidak pernah menghakimi perbedaan, melainkan duduk bersama ulama untuk mencari solusi atas keluhan rakyatnya, seperti saat harga gandum naik. Hal serupa terjadi di masa Dinasti Abbasiyah, di mana para khalifah seperti Harun al-Rasyid menjadikan agama sebagai landasan memperbaiki masyarakat, bukan tameng untuk melegitimasi kesalahan.
Sikap rendah hati juga dicontohkan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq yang ketika diangkat menjadi khalifah justru meminta rakyatnya untuk mengoreksinya, dan Umar bin Khattab yang menangis karena takut amanahnya tidak sampai kepada rakyat miskin di malam hari.
"Para pemimpin masa lalu tidak menggunakan agama sebagai tameng kekuasaan. Mereka berani menjadi diri sendiri di hadapan kebenaran, bukan menjadi bayangan keinginan penguasa. Itulah yang hilang dari kita hari ini," ungkap Gus Bahar.
Mengembalikan Tata Kelola Ekonomi pada Prinsip Syariah
Tidak hanya soal moral dan kepemimpinan, Gus Bahar juga mengkritisi kebijakan ekonomi yang membebani rakyat. Ia menyebut bahwa salah satu penyebab ekonomi terpuruk adalah ketika negara lebih menggantungkan pendapatan dari pajak dan pinjaman, bukan dari kekayaan alam yang telah Allah karuniakan.
Ia membandingkan dengan masa Rasulullah dan Dinasti Umayyah, Abbasiyah, serta Usmani di mana kewajiban individu terbatas pada zakat yang terstruktur melalui Baitul Mal. Negara tidak memberatkan rakyat dengan pajak tinggi, melainkan membangun infrastruktur dan memakmurkan perdagangan.
"Kita tidak anti-modernisasi. Namun jika modernisasi membawa keburukan, kita harus berani membuangnya. Negara kaya akan minyak, gas, dan emas, namun pengelolaan yang tidak berpihak pada rakyat menjadi bumerang. Ini bukan agenda yang dipertahankan hanya karena takut kehilangan kekuasaan," paparnya.
Kunci Utama: Menguasai Diri Sendiri
Menurut Gus Bahar, tantangan terbesar bukanlah memimpin organisasi atau negara, melainkan memimpin diri sendiri. Ia mengutip perkataan Ali bin Abi Thalib, "Barang siapa mengenali dirinya, ia akan mengenali Tuhannya."
Ia menegaskan bahwa keimanan memang tidak terlihat, tetapi dampaknya terasa dalam setiap langkah kehidupan. Karena itu, mengembalikan perkara kepada para ahli ilmu adalah keniscayaan, dengan syarat mereka adalah ulama yang berani mengoreksi penguasa dan mengajarkan kerendahan hati, bukan yang bersolek dengan gelar.
"Di sinilah ilmu Allah mewujudkan dirinya. Ia hadir dalam ketenangan jiwa, keteguhan hati, dan kebijaksanaan. Semoga kita termasuk orang-orang yang diberikan kemampuan menguasai diri, sehingga mampu menguasai amanah dengan penuh tanggung jawab," pungkas Gus Bahar. (san)
What's Your Reaction?

