Festival Nasi Krawu Vol. 4 Gresik Jadi Ajang Edukasi Budaya, Ratusan Anak Ikuti Lomba Mewarnai dan Story Telling
Melalui kegiatan seperti ini, anak-anak tidak hanya belajar mengenal budaya Gresik, tetapi juga diajak untuk mencintai dan melestarikannya. Ini merupakan investasi budaya yang sangat penting bagi generasi penerus," tambahnya.
Gresik, (afederasi.com) – Suara riang anak-anak memenuhi area Gresik Universal Science (GUS), Balongpanggang, Sabtu (27/06/2026). Ratusan peserta dari jenjang Taman Kanak-kanak (TK) hingga Sekolah Dasar (SD) antusias mengikuti lomba mewarnai dan story telling Bahasa Gresikan yang digelar dalam rangkaian Festival Nasi Krawu Vol. 4.
Tak sekadar perlombaan, kegiatan yang diinisiasi Komunitas Wartawan Grissee (KWGe) bersama Pemerintah Kabupaten Gresik ini menjadi upaya nyata menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal sejak usia dini. Di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan teknologi digital, anak-anak diajak mengenal kembali identitas daerah melalui cara yang kreatif dan menyenangkan.
Kegiatan dibuka Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik, S. Hariyanto. Ia mengapresiasi konsistensi KWGe yang tidak hanya berperan dalam menyebarluaskan informasi pembangunan daerah, tetapi juga aktif mengambil bagian dalam pelestarian budaya Gresik.
Menurut Hariyanto, posisi Gresik yang berbatasan langsung dengan Surabaya membuat perkembangan budaya berlangsung sangat dinamis. Di sisi lain, derasnya arus informasi digital juga membawa berbagai pengaruh baru yang berpotensi menggeser budaya lokal jika tidak dikenalkan sejak dini kepada generasi muda.
"Perkembangan budaya Gresik sangat dinamis. Hal itu tidak lepas dari letaknya yang berbatasan langsung dengan Kota Surabaya, ditambah derasnya arus informasi melalui dunia digital. Kendati demikian, kemajuan teknologi tidak boleh membuat anak-anak kita melupakan budaya lokal," ujarnya.
Hariyanto menegaskan, Gresik memiliki kekayaan warisan budaya yang sangat beragam, baik berupa benda maupun tak benda, yang harus terus diwariskan kepada generasi penerus.
"Melalui kegiatan seperti ini, anak-anak tidak hanya belajar mengenal budaya Gresik, tetapi juga diajak untuk mencintai dan melestarikannya. Ini merupakan investasi budaya yang sangat penting bagi generasi penerus," tambahnya.
Pada lomba mewarnai, sebanyak 80 peserta menuangkan kreativitas mereka dengan menghias gambar tumpeng nasi krawu, kuliner khas yang telah menjadi ikon Kabupaten Gresik. Beragam kombinasi warna dan imajinasi anak-anak membuat gambar sederhana berubah menjadi karya yang menarik perhatian para juri dan pengunjung.
Sementara itu, suasana tak kalah meriah terlihat pada lomba story telling Bahasa Gresikan. Sebanyak 25 peserta tampil percaya diri membawakan berbagai kisah lokal menggunakan bahasa daerah khas Gresik. Mulai dari sejarah Sunan Giri, asal-usul Balongpanggang, cerita tentang nasi krawu, hingga berbagai cerita rakyat yang diwariskan turun-temurun.
Selain menjadi wadah mengembangkan kreativitas dan kemampuan berbahasa daerah, perlombaan ini juga memberikan nilai tambah bagi peserta. Para pemenang akan menerima sertifikat yang ditandatangani langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik, yang dapat dimanfaatkan sebagai dokumen pendukung dalam pendaftaran sekolah melalui jalur prestasi nonakademik sesuai ketentuan yang berlaku.
Ketua Komunitas Wartawan Grissee (KWGe), Miftahul Arif, mengatakan Festival Nasi Krawu tahun ini merupakan penyelenggaraan keempat. Selain menjadi bagian dari upaya pemecahan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) melalui penyajian tumpeng nasi krawu raksasa, festival juga dirancang sebagai ruang edukasi budaya yang melibatkan generasi muda.
"Nasi krawu merupakan identitas kuliner Gresik yang harus terus kita lestarikan. Karena itu, kami ingin Festival Nasi Krawu tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran. Anak-anak kami ajak mengenal budaya Gresik melalui kegiatan yang dekat dengan dunia mereka, yakni mewarnai dan story telling," kata Miftahul.
Mifta menilai pelestarian budaya tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
"Kalau sejak kecil mereka sudah mengenal nasi krawu, sejarah Sunan Giri, cerita rakyat, hingga terbiasa menggunakan Bahasa Gresikan, maka rasa memiliki terhadap budaya daerah akan tumbuh dengan sendirinya. Itulah yang ingin kami tanamkan melalui festival ini," pungkasnya.
Festival Nasi Krawu Vol. 4 menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan dengan cara yang inovatif, edukatif, dan menyenangkan. Melalui perpaduan kreativitas, pembelajaran, serta penguatan identitas lokal, festival ini diharapkan mampu melahirkan generasi muda yang bangga terhadap budaya Gresik dan siap menjaga warisan daerah agar tetap hidup sepanjang masa.(frd)
What's Your Reaction?

