Santap Menu Berbuka Puasa, Puluhan Santri PP Sholawat Darut Taubah Keracunan

"Beberapa menit setelah makan, ada yang mulai mengeluh mual dan pusing. Bahkan ada yang sampai pingsan," ucap Azza saat dikonfirmasi di RSU PKU Muhammadiyah Mojoagung.

05 Mar 2026 - 15:52
Santap Menu Berbuka Puasa, Puluhan Santri PP Sholawat Darut Taubah Keracunan
Petugas kepolisian saat tiba di RSU PKU Muhammadiyah Mojoagung Jombang Jawa Timur, Kamis (05/03/2026). (Foto: Santoso/afederasi.com)

Jombang, (afederasi.com) – Insiden dugaan keracunan massal terjadi di Pondok Pesantren Sholawat Darut Taubah, Dusun Betek Selatan, Desa Betek, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang pada Kamis (5/3/2026) malam.

Puluhan santri mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap hidangan berbuka puasa yang disajikan di lingkungan pondok pesantren tersebut.

Para korban langsung dilarikan ke RSU PKU Muhammadiyah Mojoagung untuk mendapatkan penanganan medis intensif. Di Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit, puluhan santri terlihat menjalani perawatan dengan pengawasan ketat dari tim medis.

Beberapa ambulans terlihat hilir mudik mengangkut korban dari lokasi pondok ke rumah sakit.

Salah seorang santri, Azza Khoirunisa (17), menuturkan bahwa gejala mulai dirasakan tidak lama setelah para santri menyelesaikan santap buka puasa. Menu yang disajikan saat itu berupa nasi rawon lengkap dengan beberapa lauk pendamping.

"Beberapa menit setelah makan, ada yang mulai mengeluh mual dan pusing. Bahkan ada yang sampai pingsan," ucap Azza saat dikonfirmasi di RSU PKU Muhammadiyah Mojoagung.

Azza mengaku tidak ikut menyantap hidangan karena sedang berada di luar pondok untuk mengikuti kegiatan lain. Ketika kembali, ia mendapati sejumlah temannya sudah dalam kondisi lemas dan tidak sadarkan diri.

"Saya belum sempat makan. Waktu kembali, teman-teman sudah banyak yang merasa mual dan ada yang tidak sadar," katanya.

Melihat kondisi darurat tersebut, para santri yang masih sehat segera mengevakuasi korban ke pendopo pondok sebelum akhirnya pihak pondok memanggil ambulans untuk membawa mereka ke rumah sakit terdekat.

Menurut Azza, jumlah santri putri di pondok tersebut sekitar 34 orang, sedangkan santri putra lebih dari 30 orang. Hampir seluruh santri yang menyantap hidangan berbuka mengalami gejala serupa.

Santri lain yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa menu berbuka terdiri dari nasi dengan kuah rawon, tahu goreng, tahu kering, serta telur asin. Makanan tersebut disajikan dalam satu piring untuk setiap santri.

"Dalam satu piring, satu santri satu porsi," ungkapnya.

Yang menjadi sorotan, santri tersebut menduga telur asin yang dikonsumsi berasal dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun demikian, makanan lain dari paket MBG seperti roti, susu, kacang, dan kurma diketahui belum sempat dimakan oleh para santri.

Sementara itu, rawon dan tahu kering yang dikonsumsi bukan berasal dari MBG, melainkan disediakan oleh pondok pesantren secara mandiri.

"Gejala mulai dirasakan setelah Isya. Yang menyantap hidangan berbuka rata-rata mengalami pusing dan mual beberapa saat setelah makan," tambahnya.

Respons Cepat dan Penyelidikan Aparat

Sejumlah pejabat dan aparat terlihat mendatangi RSU PKU Muhammadiyah Mojoagung untuk memantau kondisi para korban.

 Di antaranya petugas kepolisian, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang, Camat Mojoagung, Kapolsek setempat, Kapolres Jombang serta Kasatreskrim Polres Jombang.

Mereka memantau langsung proses evakuasi dan memastikan seluruh korban mendapatkan pelayanan medis optimal. Hingga saat ini, para santri yang mengalami gejala keracunan masih menjalani observasi dan perawatan medis intensif.

Pihak berwenang tengah melakukan penyelidikan mendalam untuk memastikan sumber penyebab kejadian ini. 

Sampel makanan yang dikonsumsi para santri, termasuk telur asin dari program MBG, akan diperiksa di laboratorium guna mengetahui kemungkinan adanya bakteri atau zat berbahaya.

Kepala Dinas Kesehatan Jombang yang turun langsung ke lokasi belum memberikan keterangan resmi, namun memastikan akan mengusut tuntas insiden ini.

"Kami masih melakukan pendataan dan observasi. Yang terpenting saat ini adalah pemulihan kondisi para santri," ujar salah satu petugas di lokasi.(san)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow