Gus Muwafiq Soroti Konflik Global Dihadapan Warga Nahdliyin Lamongan
Konflik Israel dan Iran bukan sekadar perang fisik, melainkan benturan dua bangsa yang memiliki sejarah panjang dalam mempertahankan eksistensi diri tanpa bergantung pada pihak luar," ujar Gus Muwafiq dalam tausiyahnya.
Lamongan, (afederasi.com) – Eskalasi konflik antara Israel dan Iran yang kian memanas di Timur Tengah bukan sekadar kontak senjata biasa, melainkan sebuah pertarungan ideologi kemandirian dan dominasi pasar global. Fenomena ini menjadi sorotan tajam pendakwah kondang KH Ahmad Muwafiq, atau yang akrab disapa Gus Muwafiq.
Dalam acara Halal Bihalal dan Kupatan yang digelar di Aula LP Ma’arif Dadapan, Kecamatan Solokuro, Lamongan, pada Minggu (29/03/2026) malam, Gus Muwafiq menekankan bahwa menjaga kemandirian bangsa dan merawat tradisi lokal adalah fondasi utama untuk memperkuat Ukhuwah Nahdliyah di tengah ketidakpastian dunia.
Dihadapan ratusan warga Nahdliyin yang memadati lokasi, kiai nyentrik sekaligus orator sejarah ini memaparkan bahwa konflik Israel dan Iran merupakan benturan dua bangsa dengan sejarah panjang dalam mempertahankan eksistensi tanpa bergantung pada pihak luar.
Menurutnya, Israel terbentuk dari sejarah pengusiran masa lalu yang kemudian menjelma menjadi bangsa yang sangat mandiri demi bertahan hidup. Di sisi lain, Iran mampu berdiri tegak karena investasi besar pada Sumber Daya Manusia (SDM) serta penguasaan sains dan teknologi.
"Konflik Israel dan Iran bukan sekadar perang fisik, melainkan benturan dua bangsa yang memiliki sejarah panjang dalam mempertahankan eksistensi diri tanpa bergantung pada pihak luar," ujar Gus Muwafiq dalam tausiyahnya.
Ia menambahkan bahwa kekuatan Iran saat ini merupakan buah dari kepemimpinan yang kuat dan penguasaan teknologi yang membuat mereka tidak bisa diremehkan di kancah internasional.
Gus Muwafiq juga memberikan catatan kritis terhadap posisi Indonesia. Menurutnya, Indonesia masih berada dalam posisi dilematis karena ketergantungan yang tinggi terhadap produk teknologi dan industri global.
"Sebagai negara yang masih sangat bergantung pada produk-produk teknologi dan industri global, Indonesia berada dalam posisi yang dilematis. Ketergantungan terhadap produsen besar seperti Amerika Serikat membuat kita rentan terhadap risiko embargo," tegasnya.
Oleh karena itu, ia mengajak warga Nahdliyin untuk tidak hanya kuat secara jamaah (organisasi), tetapi juga mulai membangun kemandirian di berbagai lini kehidupan agar bangsa Indonesia memiliki daya tawar yang kuat.
Sementara itu, Ketua NU Dadapan, Ainur Rofiq, menjelaskan bahwa kegiatan Halal Bihalal dan Kupatan ini mengusung tema Menebar Maaf, Menyambung Rasa, Memperkuat Ukhuwah Nahdliyah. Acara ini diharapkan menjadi perekat sosial antar lapisan masyarakat.
"Halal Bihalal dan Kupatan ini sebagai upaya menebar maaf serta menyambung silaturahmi antar masyarakat demi memperkuat Ukhuwah Nahdliyah," ungkap Ainur Rofiq di sela-sela acara.
Acara yang berlangsung khidmat tersebut ditutup dengan tradisi makan ketupat bersama. Hidangan khas kupatan ini menjadi simbol kebersamaan dan leburnya segala kesalahan di antara warga. Gus Muwafiq berharap momentum ini menjadi titik balik bagi warga untuk memperkuat persatuan dan mulai memikirkan kemandirian ekonomi serta sosial dari lingkup terkecil. (yan)
What's Your Reaction?



