Gus Bahar Sampaikan Bukan Beban, Tapi Jalan Pulang: Senang Dulu Sebelum Iman
Jombang, (afederasi.com) – Ada fenomena menarik yang sering luput dari perhatian. Banyak orang mengira iman itu dimulai dari beban. Shalat lima waktu dijalani dengan ekspresi seperti sedang memikul gunung. Mengaji setiap malam, tetapi emosi masih mudah meledak. Rajin menghadiri majelis ilmu, namun hati terasa sempit dan penuh kecurigaan.
Di sisi lain, kita saksikan sosok sederhana yang hatinya langsung tenang saat mendengar lantunan adzan. Bukan karena hidupnya bebas masalah, melainkan karena ia telah menemukan rasa nyaman saat mendekat kepada Allah.
Menurut Pengasuh Pesantren Salafiyah Seblak, Jombang, Gus Bahar, inilah titik balik yang sering terbalik dalam cara berpikir kita.
“Kebahagiaan bukan hadiah akhir setelah beriman. Justru kebahagiaan hati adalah pintu agar iman terasa hidup dan syariat terasa nikmat,” ujar Gus Bahar dalam kajiannya Jumat, (29/05/2026)
Kenali Allah, Dapatkan Keamanan Sejati
Dalam ilmu kalam, iman berkaitan erat dengan ketenangan jiwa saat mengenal hakikat Tuhan. Ketika manusia mengenal Allah dengan benar, yang lahir pertama kali bukan tekanan, melainkan rasa aman yang mendalam.
“Inti tauhid bukan sekadar meyakini ‘Allah itu ada’. Iblis pun tahu Allah ada. Tauhid sejati adalah ketika hati merasa bahwa Allah adalah tempat kembali paling aman,” jelas Gus Bahar.
Dengan pemahaman ini, syariat berubah wajah. Shalat tidak lagi terasa seperti absensi kantor yang melelahkan. Dzikir bukan hukuman bagi lisan. Sedekah tidak membuat hati berasa kehilangan harta. Semua bergeser menjadi kebutuhan hati.
Logika Cinta vs Logika Beban
Gus Bahar memberikan analogi sederhana. Manusia bergerak oleh rasa. Perhatikan orang yang sedang jatuh cinta. Ia rela begadang, rela menempuh jarak jauh, rela lelah, semua demi orang yang dicintainya. Secara logika, itu melelahkan. Namun karena cinta, semuanya terasa ringan.
“Begitulah iman. Kalau iman hanya dipahami sebagai daftar kewajiban, manusia cepat lelah. Tetapi jika iman tumbuh menjadi rasa nyaman kepada Allah, syariat berubah menjadi kenikmatan,” tegasnya.
Hal ini menjelaskan fenomena modern: banyak orang kaya dengan harta berlimpah, mobil mewah, dan rumah besar, namun tetap gelisah. Sebaliknya, ada tukang becak yang tidur di pinggir jalan dengan dengkuran nyenyak. Kebahagiaan ternyata bukan soal keadaan luar, melainkan kualitas hubungan hati dengan Sang Pencipta.
Rahasia Iman Antara Takut dan Harap
Para ulama ilmu kalam menjelaskan bahwa iman yang sehat berdiri di antara khauf (takut) dan raja’ (harap). Jika hanya takut, manusia menjadi keras dan putus asa. Jika hanya harap tanpa takut, manusia mudah meremehkan dosa.
Namun, Gus Bahar menekankan satu poin penting: harapan dan rasa aman kepada rahmat Allah adalah tenaga terbesar dalam istiqamah.
“Kenapa banyak orang berat shalat? Karena hatinya belum menemukan ketenangan saat bertemu Allah. Shalat masih dianggap aktivitas tambahan, bukan tempat pulang,” ungkapnya.
Sebaliknya, seseorang bisa meninggalkan maksiat bukan semata karena takut neraka, tetapi karena ia sudah merasakan manisnya kedekatan dengan Allah. Maksiat terasa mengganggu ketenangan batinnya. Inilah rahasia mengapa syariat menjadi jalan menjaga kesehatan ruhani, layaknya olahraga yang membuat tubuh terasa enak.
Hati yang Pulang, Iman yang Hidup
Gus Bahar mengingatkan bahwa tugas dakwah saat ini bukan hanya mengajarkan halal-haram. Lebih dari itu, dakwah harus membuat manusia merasakan indahnya dekat kepada Allah. Karena banyak orang tidak lari dari agama. Mereka hanya lelah dengan cara agama disampaikan tanpa kasih sayang.
“Rasulullah diutus sebagai rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam). Bahkan kepada orang berdosa, Nabi masih membuka pintu harapan. Islam ingin membawa manusia menuju keselamatan batin terlebih dahulu, sebelum kesempurnaan amal,” pesan Gus Bahar.
Maka jangan heran jika ada orang sederhana, mungkin ilmunya tidak tinggi, tetapi matanya berkaca-kaca saat adzan berkumandang. Itu bukan sekadar gerakan fisik. Itulah ruh yang sedang merasa pulang kepada-Nya.
“Kalau hati sudah merasa pulang kepada Allah, syariat tidak lagi terasa sebagai rantai. Ia berubah menjadi jalan pulang yang paling menenangkan,” pungkas Gus Bahar.
Berbahagialah terlebih dahulu dengan mengenal Allah. Jadikan iman sebagai tempat bersandar, bukan beban yang menyesakkan. Karena senang sebelum iman bukanlah pelarian, melainkan fondasi agar ibadah terasa nikmat dan istiqamah terasa ringan. (san)
What's Your Reaction?



