Banjir Driyorejo Gresik Belum Teratasi, Infrastruktur Perusahaan Raksasa di Atas Sungai Jadi Sorotan
Gresik, (afederasi.com) – Banjir yang melanda wilayah Gresik Selatan, khususnya di Kecamatan Driyorejo, kembali menjadi persoalan tahunan setiap musim hujan. Salah satu penyebab yang disorot adalah deretan jembatan milik perusahaan yang dibangun melintasi sungai dan diduga menghambat aliran air.
Dari pantauan di sejumlah titik lokasi menunjukkan kondisi sungai yang melintasi sejumlah desa di Kecamatan Driyorejo terlihat memprihatinkan. Selain dipenuhi bangunan jembatan penghubung milik perusahaan, buruknya pengelolaan sampah di sekitar aliran sungai turut memperparah potensi luapan air saat debit meningkat.
Salah satu wilayah yang paling terdampak adalah Desa Sumput. Ketika hujan turun selama beberapa hari berturut-turut, banjir kerap menggenangi Jalan Raya Sumput dengan ketinggian air mencapai 30 hingga 90 sentimeter.
Kondisi tersebut membuat aktivitas warga terganggu. Pengendara yang melintas di jalur tersebut juga harus ekstra waspada untuk menghindari kendaraan mogok akibat genangan air yang cukup tinggi.
Ironisnya, sejumlah jembatan milik perusahaan yang dibangun di atas sungai diduga tidak seluruhnya mengantongi izin resmi. Keberadaan konstruksi yang terlalu rendah dinilai berpotensi memperlambat aliran air, sehingga meningkatkan risiko banjir saat curah hujan tinggi.
Camat Driyorejo, Muhammad Amri, mengatakan pemerintah kecamatan telah berupaya melakukan penanganan untuk meminimalisir banjir di wilayah tersebut.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah berkoordinasi dengan perusahaan-perusahaan di sekitar sungai agar melakukan peninggian jembatan penghubung yang dinilai terlalu rendah.
“Kami telah berkoordinasi dengan Pemerintah Desa Sumput untuk mengajak perusahaan-perusahaan melakukan peninggian jembatan penghubung di atas sungai wilayah mereka masing-masing. Kami juga menggandeng Dinas PU untuk membuat desain konstruksi yang ideal,” ujar Amri.
Amri menegaskan pihak kecamatan juga telah meminta perusahaan untuk membongkar konstruksi jembatan yang dinilai terlalu rendah dan berpotensi menghambat aliran air sungai.
Menurut Amri, dari tujuh perusahaan yang memiliki jembatan di sepanjang aliran sungai tersebut, baru tiga perusahaan yang telah melakukan peninggian konstruksi jembatan.
“Ini merupakan langkah penanganan jangka pendek. Dari tujuh perusahaan, baru tiga yang melakukan peninggian jembatan. Masih diperlukan koordinasi lebih lanjut dengan berbagai pihak agar solusi penanggulangan banjir bisa dilakukan secara komprehensif,” jelasnya.
Sementara itu, Wakil Ketua III DPRD Gresik, Abdullah Hamdi, mengakui terdapat sejumlah faktor yang memicu banjir tahunan di wilayah Driyorejo, terutama di Desa Sumput.
Menurutnya, selain persoalan konektivitas aliran sungai, keberadaan jembatan milik perusahaan yang dibangun terlalu rendah juga menjadi salah satu penyebab utama.
“Banjir tahunan di Kecamatan Driyorejo khususnya di Desa Sumput sudah menjadi perhatian serius kami. Berdasarkan pembahasan dengan Dinas PUTR, salah satu faktor utama memang jembatan perusahaan yang terlalu rendah di atas sungai,” kata Hamdi.
Ia menambahkan, pemerintah sebenarnya telah melakukan peninggian jalan di kawasan tersebut. Namun upaya tersebut belum mampu mengatasi banjir secara signifikan.
“Sebenarnya jalan sudah ditinggikan, tapi banjir masih tetap terjadi,” ujarnya.
Karena itu, pihak DPRD mendesak langkah konkret dari berbagai pihak untuk mengatasi persoalan banjir yang terus berulang di wilayah tersebut.
Beberapa langkah yang diusulkan antara lain peninggian jembatan milik perusahaan, pengembalian fungsi saluran air yang mengalami penyempitan akibat alih fungsi lahan, serta penataan konektivitas saluran air agar terhubung dengan saluran induk.
“Kami mendesak perusahaan melakukan peninggian jembatan di atas sungai. Selain itu, fungsi saluran air harus dikembalikan karena banyak yang beralih fungsi menjadi tempat usaha sehingga terjadi penyempitan. Penataan konektivitas saluran juga penting agar aliran air bisa mengalir dengan baik,” jelasnya.
Sebagai informasi, sejumlah industri besar yang beroperasi di sekitar aliran sungai di wilayah Kecamatan Driyorejo antara lain PT Daesang Ingredients Indonesia (Daesang Miwon), PT Irafon, serta beberapa perusahaan besar lainnya.(frd)
What's Your Reaction?



