Bandeng 18 Tahun, Milik Sandi Pangkah Wetan, Siap Getarkan Panggung Kontes Bandeng Kawak Gresik

"Bandeng saya ini diperkirakan usianya sudah 18 tahun. Untuk merawat sampai sebesar ini tentu butuh perhatian khusus,” tuturnya. Syaifullah mengaku telah mengikuti kontes bandeng kawak sejak puluhan tahun lalu, bahkan sejak tradisi Pasar Bandeng masih digelar secara sederhana di pasar krempyeng.

15 Mar 2026 - 23:53
Bandeng 18 Tahun, Milik Sandi Pangkah Wetan, Siap Getarkan Panggung Kontes Bandeng Kawak Gresik
Petambak Pangkah wetan Syaifullah Mahdi (Sandi) memamerkan bandeng peliharaanya seberat 18 kg bersama Kadis Pertanian Eko Annindhito (Fahrudin/afederasi.com)

Gresik, (afederasi.com) – Kontes Bandeng Kawak yang menjadi bagian dari tradisi Pasar Bandeng di Kabupaten Gresik kembali menyita perhatian masyarakat. Salah satu peserta yang mencuri perhatian datang dari Pengusaha Tambak sekaligus Kepala Desa Pangkahwetan, Kecamatan Ujung Pangkah, Syaifullah Mahdi, yang membawa bandeng raksasa berusia sekitar 18 tahun.

Ikan bandeng berukuran jumbo tersebut dipelihara secara khusus di tambak miliknya sejak masih kecil hingga tumbuh menjadi bandeng kawak yang siap diikutkan dalam kontes tahunan khas Gresik tersebut.

Menurut Syaifullah, merawat bandeng kawak membutuhkan ketelatenan dan perhatian ekstra karena ikan tersebut sangat sensitif terhadap kondisi lingkungan tambak.

“Bandeng kawak itu sensitif, jadi air tambaknya harus sering diganti. Kalau airnya sudah tua harus diganti supaya tetap sehat. Selain itu bandeng ditempatkan di tambak khusus yang dibuat mendekati kondisi alami,” ujarnya, Minggu (15/03/2026).

Ia menjelaskan, dalam satu tambak biasanya bandeng kawak tidak dipelihara sendirian. Beberapa bandeng lain dengan ukuran lebih kecil, sekitar satu hingga dua kilogram, juga ditempatkan di dalam tambak sebagai pendamping.

Cara tersebut dilakukan untuk menjaga keseimbangan ekosistem tambak sekaligus membantu pertumbuhan bandeng utama agar tetap sehat hingga bertahun-tahun.

Dalam kontes bandeng kawak sendiri terdapat sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi peserta. Salah satunya ikan yang diikutkan minimal memiliki bobot sekitar 5 kilogram dan berasal dari pembudidaya di wilayah Gresik.

“Bandeng saya ini diperkirakan usianya sudah 18 tahun. Untuk merawat sampai sebesar ini tentu butuh perhatian khusus,” tuturnya.

Syaifullah mengaku telah mengikuti kontes bandeng kawak sejak puluhan tahun lalu, bahkan sejak tradisi Pasar Bandeng masih digelar secara sederhana di pasar krempyeng.

“Kalau dihitung sudah puluhan tahun saya ikut. Saya sudah mengalami tiga bupati, mulai dari Pak Robbah, Pak Sambari, sampai Gus Yani. Ini bagian dari upaya kami melestarikan tradisi Gresik yang sudah ada sejak zaman Sunan Giri,” katanya.

Ia menegaskan, mengikuti kontes bandeng kawak bukan semata-mata untuk keuntungan ekonomi. Meski hadiah juara pertama biasanya mencapai sekitar Rp30 juta, biaya perawatan ikan selama belasan tahun dinilai jauh lebih besar.

“Kalau dilihat dari sisi bisnis sebenarnya tidak menguntungkan. Merawat bandeng sampai belasan tahun butuh biaya besar, mulai dari pakan hingga pupuk tambak. Tapi ini lebih kepada prestise dan kecintaan kami terhadap Gresik,” jelasnya.

Sebagai wilayah pesisir, Desa Pangkah Wetan dikenal sebagai salah satu sentra budidaya bandeng di Kabupaten Gresik. Menurut Syaifullah, permintaan bandeng dari daerah tersebut cukup tinggi bahkan hingga pasar luar daerah dan ekspor.

“Bandeng dari Pangkah Wetan pemasarannya tidak sulit, malah sering kurang. Kalau orang mencari bandeng untuk ekspor biasanya datang ke Gresik karena kita salah satu sentra budidaya terbesar di Jawa Timur,” terangnya.

Ia berharap pemerintah terus memberikan dukungan kepada para petambak, terutama dalam menjaga stabilitas harga bandeng serta menyediakan fasilitas penyimpanan seperti cold storage agar hasil panen dapat disimpan ketika harga pasar sedang turun.

Selain itu, ia juga berharap nilai hadiah dalam kontes bandeng kawak dapat ditingkatkan agar semakin banyak petambak yang tertarik mengikuti tradisi tersebut.

“Harapannya pemerintah terus mendukung petani tambak dan hadiah kontes bisa ditambah supaya lebih banyak yang semangat ikut. Karena ini bukan hanya lomba, tapi juga bagian dari budaya Gresik yang harus kita jaga bersama,” pungkasnya.(frd)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow