Bahaya Penyakit Leptospirosis saat Pancaroba, Masyarakat Lamongan Diimbau Jaga Kebersihan
Leptospirosis ini bakteri yang ditularkan dari tikus ke manusia. Kami mendeteksi ada beberapa daerah yang muncul kasus ini. Penularannya biasanya melalui makanan atau air yang terkontaminasi air kencing tikus," ujar dr. Yany saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (7/4/2026) pagi.
Lamongan, (afederasi.com) – Memasuki awal masa pancaroba dan pasca banjir di sejumlah wilayah, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lamongan mengeluarkan peringatan serius bagi masyarakat. Ancaman penyakit Leptospirosis kini menjadi atensi utama di samping tren kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang mulai mereda. Selasa, (7/4/2026).
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Lamongan, dr. Yany Khoirurakhmawati, menekankan bahwa perubahan cuaca dan kondisi lingkungan pasca genangan air menjadi celah bagi bakteri dan virus untuk menyerang warga yang tidak menjaga kebersihan.
Dinkes Lamongan kini tengah memperketat pengawasan terhadap Leptospirosis. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira ini kerap muncul di wilayah pasca banjir dan dinilai sangat fatal karena menyerang organ hati (liver).
"Leptospirosis ini bakteri yang ditularkan dari tikus ke manusia. Kami mendeteksi ada beberapa daerah yang muncul kasus ini. Penularannya biasanya melalui makanan atau air yang terkontaminasi air kencing tikus," ujar dr. Yany saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (7/4/2026) pagi.
Menurutnya, menjaga sanitasi rumah adalah benteng pertahanan utama agar hewan pengerat tersebut tidak bersarang di sekitar pemukiman. Ia mengingatkan bahwa penyakit ini tidak boleh disepelekan karena risiko kematiannya yang tinggi.
"Jika lingkungan dan rumah bersih, insyaallah tidak akan ada tikus. Penyakit ini cukup serius, bahkan ada kasus yang sampai meninggal dunia karena kondisi hatinya yang terus memburuk," tegasnya.
Di sisi lain, tren kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Lamongan pada awal tahun 2026 ini menunjukkan grafik penurunan yang sangat signifikan. Data Dinkes mencatat angka yang jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.
"Alhamdulillah, jika dibandingkan dengan tahun lalu, tahun 2026 ini angka kasusnya menurun tajam. Tahun lalu di bulan yang sama ada sekitar 400 kasus, namun catatan saya menunjukkan bulan ini hanya ada 96 laporan kasus," ungkapnya.
Namun, ia merinci bahwa dari 96 laporan tersebut, tidak semuanya merupakan kasus positif DBD. Setelah melalui uji laboratorium spesifik, hanya sekitar separuhnya yang benar-benar terkonfirmasi.
"Dari 96 kasus tersebut, hanya 48 kasus yang terkonfirmasi real Demam Berdarah setelah melalui pemeriksaan tes darah spesifik," imbuhnya.
Terkait persebaran, dr. Yany menyebutkan hampir seluruh kecamatan di Lamongan melaporkan temuan kasus, termasuk wilayah terdampak banjir seperti Kecamatan Glagah. Ia mengingatkan bahwa tindakan fogging (pengasapan) bukan merupakan solusi absolut untuk memutus rantai penularan.
"Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, sementara telur, larva, dan pupanya tidak mati. Itulah mengapa terkadang setelah fogging masih muncul kasus baru," urainya.
Sebagai langkah preventif di masa pancaroba ini, Dinkes terus menggalakkan program 3M Plus dan penggunaan larvasida (Abate) pada penampungan air bersih. Untuk genangan air yang sulit dikuras, dr. Yany memberikan tips sederhana.
"Di air kotor, kita bisa gunakan air sirih atau minyak untuk mematikan jentiknya. Plus-nya lagi, gunakan kelambu atau lotion antinyamuk sebagai pelindung diri secara personal," pungkasnya. (yan)
What's Your Reaction?



