Tuntut Keadilan, Orang Tua Siswa SMPN di Gresik Korban Insiden Peluru Nyasar Mengadu ke Dewan
“Saya sudah menunggu peran dari pihak sekolah dan Dinas Pendidikan, tapi belum ada kejelasan. Karena itu saya mengadu ke DPRD,” ujar Dewi, Senin (06/04/2026).
Gresik, (afederasi.com) – Kasus dugaan peluru nyasar yang melukai dua siswa SMPN 33 Gresik akhirnya berbuntut pengaduan ke DPRD Gresik. Orang tua korban, Dewi Murniati, mendatangi kantor dewan untuk menuntut keadilan dan pertanggungjawaban atas insiden yang menimpa putranya.
Korban, Darrell Fausta Hamdani (14), mengalami luka serius setelah peluru menembus lengan kiri hingga meremukkan tulang dan bersarang di punggung tangan. Sementara rekannya, Reinheart Okto Hanaya, terluka di bagian punggung.
“Saya sudah menunggu peran dari pihak sekolah dan Dinas Pendidikan, tapi belum ada kejelasan. Karena itu saya mengadu ke DPRD,” ujar Dewi, Senin (06/04/2026).
Insiden nahas tersebut terjadi pada 17 Desember 2025 lalu saat kedua siswa mengikuti kegiatan di mushala sekolah. Secara tiba-tiba, proyektil menghantam tangan kiri Darrell hingga ia harus dilarikan ke UKS.
Hasil pemeriksaan medis menunjukkan luka yang cukup parah. Tulang punggung tangan kiri Darrell remuk dan harus dipasang pen. Sementara peluru yang mengenai Reinheart hanya bersarang di lapisan lemak punggung.
Dewi mengungkapkan, dugaan sementara peluru berasal dari aktivitas lapangan tembak milik kesatuan yang berjarak sekitar 2,5 kilometer dari sekolah.
“Awalnya mereka tidak mengakui karena jaraknya jauh. Tapi setelah ditunjukkan hasil rontgen, terlihat jelas ada peluru tajam di tubuh anak saya,” jelasnya.
Pihak kesatuan, sebut Dewi, akhirnya mengakui dan memberikan tanggung jawab awal berupa biaya perawatan sebesar Rp32 juta. Namun, biaya lanjutan seperti kontrol medis, pemeriksaan psikologi forensik, hingga terapi harus ditanggung keluarga.
“Kontrol anak saya itu enam kali, tapi baru satu yang ditanggung. Sisanya saya bayar sendiri. Termasuk terapi dan pemeriksaan psikologi,” tambahnya.
Dewi pun mendesak agar pihak terkait bertanggung jawab penuh, tidak hanya untuk pengobatan fisik, tetapi juga pemulihan psikis korban hingga tuntas. Selain itu, ia juga meminta adanya kompensasi jangka panjang atas dampak cedera yang berpotensi menetap.
Menanggapi hal tersebut, Ketua DPRD Gresik, Muhammad Syahrul Munir, menyatakan pihaknya akan segera menyurati kesatuan terkait, khususnya menyangkut aspek keselamatan di sekitar lapangan tembak.
“Kami akan dorong adanya mediasi konkret antara kedua belah pihak agar ada penyelesaian yang adil. Keselamatan warga, terutama siswa, harus menjadi prioritas,” tegasnya.
Syahrul juga mengingatkan pentingnya evaluasi serius terhadap aktivitas lapangan tembak yang berada dekat dengan permukiman dan sekolah.
“Kami tidak ingin ada korban berikutnya, apalagi anak-anak yang sedang belajar,” pungkasnya.(frd)
What's Your Reaction?



