Strategi Wabendum DPP Amphuri Jaga Bisnis Umrah di Lamongan Tetap Eksis Saat Dolar Naik

Dolar yang mestinya di kisaran Rp16.800, per hari ini bisa melambung hingga Rp18.100. Artinya, dari kenaikan dolar saja, selisih biaya per jemaah (per pax) sudah berkisar antara Rp2,8 juta hingga Rp3 juta per orang," ungkapnya kepada afederasi.com, Minggu (7/6/2026) pagi.

07 Jun 2026 - 07:30
Strategi Wabendum DPP Amphuri Jaga Bisnis Umrah di Lamongan Tetap Eksis Saat Dolar Naik
Direktur Utama Elaf Travel sekaligus Wabendum DPP AMPHURI, Rizky Amelia, saat berbincang hangat mengenai dampak lonjakan dolar terhadap industri travel umrah. (Iyan Farikh/afederasi.com)

Lamongan, (afederasi.com) – Gejolak ekonomi global yang memicu lonjakan mata uang Dolar Amerika Serikat (AS) serta kenaikan harga avtur (bahan bakar pesawat) secara nasional mulai berdampak nyata pada industri travel umrah dan haji di daerah. Para pelaku usaha biro perjalanan ibadah kini harus memutar otak guna menyiasati pembengkakan biaya operasional yang nilainya mencapai jutaan rupiah per jemaah. Minggu, (7/6/2026).

Kondisi tersebut diakui langsung oleh Direktur Utama (Dirut) Elaf Travel, Rizky Amelia. Saat ditemui di sela-sela kegiatannya, perempuan yang juga menjabat sebagai Wakil Bendahara Umum (Wabendum) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI) ini menjelaskan bahwa lonjakan dolar saat ini sangat memengaruhi harga pasar.

"Dolar yang mestinya di kisaran Rp16.800, per hari ini bisa melambung hingga Rp18.100. Artinya, dari kenaikan dolar saja, selisih biaya per jemaah (per pax) sudah berkisar antara Rp2,8 juta hingga Rp3 juta per orang," ungkapnya kepada afederasi.com, Minggu (7/6/2026) pagi.

Tidak hanya persoalan kurs mata uang, Amelia yang merupakan pengusaha muslimah asal Lamongan dan aktif sebagai Wabendum Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (IPEMI) DPD Lamongan ini menambahkan, kenaikan harga avtur pada maskapai penerbangan juga memperparah beban biaya. Terlebih lagi, penerbangan umrah dari Surabaya umumnya menggunakan sistem charter langsung menuju Jeddah atau Madinah tanpa transit, sehingga biayanya relatif lebih tinggi dibanding keberangkatan via Jakarta.

"Kenaikan avtur ini sifatnya nasional. Untuk maskapai Lion berkisar Rp5 juta, Garuda Rp7 juta, dan Saudi Airlines bisa mencapai Rp7,5 hingga Rp8 juta. Akibatnya, penyesuaian harga tidak bisa dihindari. Di Elaf sendiri, kami terpaksa memberlakukan kenaikan harga paket menjadi Rp4,9 juta dari harga normal," terangnya.

Meski terjadi kenaikan harga, Amelia bersyukur bahwa animo masyarakat Lamongan dan sekitarnya untuk berangkat ibadah ke Tanah Suci tergolong masih stabil. Berdasarkan data manifest keberangkatan untuk bulan Juli, penurunan jumlah jemaah hanya berada di angka sekitar 10 persen.

"Alhamdulillah, jemaah yang mendaftar untuk keberangkatan Juli nanti tetap stabil dan tidak ada yang mengundurkan diri. Mereka memahami situasi ekonomi global ini, apalagi kami di Elaf berkomitmen untuk sama sekali tidak mengurangi fasilitas pelayanan yang ada," imbuh tokoh pengusaha wanita tersebut.

Ditanya mengenai strategi bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi, pengurus DPP AMPHURI ini memaparkan bahwa pihak travel biasanya menawarkan opsi fleksibel kepada jemaah jika ingin menekan komponen biaya, seperti pengurangan durasi tur lokal atau opsi penggunaan fasilitas kereta cepat di Arab Saudi. Namun sejauh ini, mayoritas jemaah lebih memilih membayar biaya penyesuaian demi mempertahankan fasilitas penuh demi kenyamanan beribadah.

"Semua kembali ke kualitas. Jemaah di Elaf sejauh ini tetap menghendaki fasilitas yang prima dan mereka siap dengan penyesuaian tersebut karena nilainya dirasa masih cukup rasional dan terjangkau," pungkasnya. (yan)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow