Sanggar Wayang Topeng Tri Purwo Budoyo Jombang Produksi Topeng Duplikat dan Merchandise Khas

19 Apr 2026 - 10:18
Sanggar Wayang Topeng Tri Purwo Budoyo Jombang Produksi Topeng Duplikat dan Merchandise Khas
Proses pembuatan duplikat topeng Jatiduwur Kecamatan Kesamben Kabupaten Jombang, Minggu (19/04/2026). (Foto: Istimewa)

Jombang, (afedeasi.com) – Pelestarian seni budaya tradisional di Kabupaten Jombang terus mendapat angin segar. Salah satunya ditunjukkan oleh Sanggar Wayang Topeng Tri Purwo Budoyo yang berlokasi di Desa Jatiduwur, Kecamatan Kesamben. Kini, sanggar tersebut tengah mengembangkan proses pembuatan topeng dengan mengambil sampling beberapa karakter khas yang dimiliki, sebagai langkah strategis membangkitkan ekonomi kreatif berbasis seni budaya.Pemandangan menarik terlihat pada Minggu (19/04/2026).

 Seorang perajin yang akrab disapa Kopral tampak fokus menyelesaikan sebuah topeng kayu di sela-sela kesibukan sanggar. Dengan peralatan sederhana namun penuh ketelitian, Kopral tengah menduplikasi topeng menggunakan bahan baku kayu Waru pilihan yang diperoleh langsung dari kawasan sekitar Jombang.

Pelestarian Wayang Topeng Jatiduwur
Pengelola Sanggar Tri Purwo Budoyo Jatiduwur, Isma Hakim, menjelaskan bahwa pengembangan pembuatan topeng ini merupakan bagian integral dari program pelestarian Wayang Topeng Jatiduwur. Tidak hanya berhenti pada pembuatan topeng, sanggar juga aktif melatih generasi muda untuk menari.

"Kita kembangkan pembuatan topeng dan melatih anak-anak untuk menari," ujar Isma Hakim kepada afedeasi.com.

Menurut Isma, produk topeng yang diproduksi tidak hanya dimaksudkan untuk duplikasi sarana pementasan. Lebih dari itu, topeng-topeng ini nantinya akan menjadi merchandise atau cendera mata eksklusif bagi wisatawan yang berkunjung ke Sanggar Tri Purwo Budoyo.

"Ke depan kami juga akan membuat edukasi untuk anak-anak agar dapat membuat topeng, dan juga bisa menari," tambahnya.

Bahkan, tidak hanya topeng, seluruh ornamen khas Wayang Topeng Jatiduwur seperti selendang, koncer (perhiasan kepala), dan perlengkapan tari lainnya juga akan diproduksi secara mandiri oleh sanggar.

Kolaborasi Akademisi untuk Ekonomi Kreatif
Sementara itu, Akademisi Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Setyo Yanuartuti, memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah inovatif sanggar. Ia menilai Wayang Topeng Jatiduwur sebagai modal seni luar biasa yang dapat dijadikan media kreatif.

"Awalnya dari sebuah visual topeng dengan berbagai bentuk karakter. Berawal dari sana kemudian menjadi sebuah pertunjukan yang dilengkapi dengan perangkat-perangkat. Kami berupaya agar kesenian ini tidak hanya difungsikan sebagai seni ritual, namun bisa menjadi seni pertunjukan di event apa pun," jelas Setyo.

Ia menambahkan bahwa seni pertunjukan bisa menjadi sumber kreatif yang tak terbatas. Pengembangan topeng hingga busana Wayang Topeng Jatiduwur masih sangat mungkin dilakukan untuk menghasilkan produk-produk ekonomi kreatif.

"Kami pada tahun ini punya program untuk membuat merchandise. Artinya, berawal dari karakter yang dimiliki pertunjukan wayang topeng ini, baik topengnya, busananya, maupun musiknya, bagaimana ini bisa dijadikan sumber awal untuk merchandise yang dikembangkan dalam seni kriya," beber Setyo.

"Untuk membangunkan ekonomi kreatif, kami akan mengembangkan itu bersama-sama dengan Sanggar Tari Tri Purwo Budoyo," pungkasnya.

Dengan sinergi antara pelaku seni dan akademisi, Wayang Topeng Jatiduwur tidak hanya lestari sebagai warisan budaya, tetapi juga siap menjadi motor penggerak ekonomi lokal yang menjanjikan bagi masyarakat Desa Jatiduwur dan sekitarnya. (san)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow