Ratusan Pasangan di Lamongan Serbu KUA di Awal Bulan Syawal
Data kami menunjukkan grafik yang sangat signifikan, terutama pada momen Malam Songo. Bagi masyarakat Lamongan, ini adalah tradisi yang sudah mengakar. Kami di Kemenag, melalui para penghulu di tiap KUA, telah melakukan persiapan ekstra untuk memastikan seluruh pelayanan akad nikah berjalan lancar meski volumenya membludak dalam satu hari," ujar Imam Hambali saat dikonfirmasi afederasi.com, Jumat (27/3/2026) pagi.
Lamongan, (afederasi.com) – Fenomena unik tahunan kembali mewarnai potret sosial masyarakat di Kabupaten Lamongan. Memasuki awal bulan Syawal 1447 Hijriah, ribuan pasangan kekasih di Kota Soto ini memilih untuk mengikat janji suci. Jumat, (27/3/2026). Menariknya, statistik menunjukkan lonjakan tajam terjadi pada tanggal tertentu yang diyakini sebagai hari baik menurut kearifan lokal.
Berdasarkan data yang dihimpun dari Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Lamongan, grafik pernikahan menunjukkan kenaikan drastis pada pertengahan hingga awal bulan Syawal 1447 Hijriah. Puncaknya terjadi pada tanggal 18 Maret 2026, di mana tercatat sebanyak 191 peristiwa nikah dalam satu hari di seluruh kecamatan.
Lonjakan ini tidak lepas dari tradisi "Malam Songo" atau malam kesembilan di bulan Ramadan, yang tahun ini jatuh pada medio Maret menjelang Idul Fitri. Tradisi ini dianggap sebagai waktu paling utama bagi warga Lamongan untuk menggelar akad nikah karena dipercaya membawa keberkahan tanpa perlu menghitung hari baik secara rumit.
Secara terperinci, data peristiwa nikah Malam Songo 1447 H/ 2026 M menunjukkan persebaran di berbagai wilayah. Seperti di Kecamatan Babat mencatatkan angka tertinggi dengan 64 peristiwa, disusul Kedungpring (57), Modo (36), Ngimbang (31), dan Sambeng (25). Wilayah lainnya meliputi Sugio (15), Sukorame (11), Bluluk (10), Brondong (9), Madura (7), Laren (6), Sekaran (5), Paciran (5), Pucuk (4), Tikung (4), Turi (4), Kembangbahu (3), Solokuro (2), Karangbinangun (1), Mantup (1), dan Lamongan (1). Total keseluruhan mencapai 301 peristiwa nikah.
Dari 27 KUA kecamatan yang ada, KUA Kecamatan Kedungpring mencatatkan rekor tertinggi pada puncak Malam Songo dengan melayani 53 pasangan sekaligus dalam satu hari. Disusul kemudian oleh wilayah padat penduduk seperti KUA Babat dan KUA Sugio.
Tidak hanya pada Malam Songo, tren pernikahan tetap tinggi hingga memasuki awal bulan Syawal 1447 Hijriah. Pada tanggal 29 Maret, tercatat masih ada 143 pasangan yang melangsungkan pernikahan di berbagai wilayah Lamongan.
Menanggapi fenomena ini, Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat (Kasi Bimas) Islam Kemenag Lamongan, Imam Hambali, membenarkan bahwa antusiasme warga untuk menikah di momen yang bertepatan dengan perayaan Idul Fitri selalu tinggi.
"Data kami menunjukkan grafik yang sangat signifikan, terutama pada momen Malam Songo. Bagi masyarakat Lamongan, ini adalah tradisi yang sudah mengakar. Kami di Kemenag, melalui para penghulu di tiap KUA, telah melakukan persiapan ekstra untuk memastikan seluruh pelayanan akad nikah berjalan lancar meski volumenya membludak dalam satu hari," ujar Imam Hambali saat dikonfirmasi afederasi.com, Jumat (27/3/2026) pagi.
Imam menambahkan bahwa pihaknya terus mengimbau kepada calon pengantin agar tetap mematuhi prosedur administrasi jauh-jauh hari.
"Meskipun ada lonjakan di hari-hari tertentu seperti tanggal 18 kemarin, pelayanan tetap kita optimalkan. Kami mengapresiasi kerja keras para penghulu di lapangan yang bahkan harus maraton dari satu lokasi ke lokasi lain demi melayani warga," pungkasnya. (yan)
What's Your Reaction?



