Hati dan Lisan Penentu Puasa: Gus Fahmi Ingatkan Jangan Sia-siakan Pahala Ramadan

07 Mar 2026 - 08:49
Hati dan Lisan Penentu Puasa: Gus Fahmi Ingatkan Jangan Sia-siakan Pahala Ramadan
Pengasuh Pondok Pesantren Putri Tebuireng, Gus Fahmi, dalam tausiahnya yang mengangkat kisah inspiratif Lukman Al Hakim di Masjid Tebu Ireng Jombang, Jumat (06/03/2026). (Foto: Santoso/afederasi.com)

Jombang, (afederasi.com) - Di bulan suci Ramadan yang penuh berkah, umat Islam tidak hanya dituntut menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga hati dan lisan dari hal-hal yang dapat merusak pahala puasa. Hal ini disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Putri Tebuireng, Gus Fahmi, dalam tausiahnya yang mengangkat kisah inspiratif Lukman Al Hakim di Masjid Tebu Ireng Jombang, Jumat (06/03/2026).

Gus Fahmi memulai tausiahnya dengan menceritakan kisah seorang budak bernama Lukman Al Hakim yang memiliki kebijaksanaan luar biasa. Suatu hari, majikan Lukman memerintahkannya untuk memotong seekor kambing dan mengambil bagian tubuh yang paling baik. Lukman pun melaksanakan perintah itu dan mengambil hati dan lidah kambing untuk diberikan kepada majikannya.

Keesokan harinya, sang majikan kembali memerintahkan Lukman memotong kambing, namun kali ini memintanya mengambil bagian tubuh yang paling buruk. Lagi-lagi Lukman mengambil hati dan lidah kambing. Majikannya pun heran dan bertanya, "Wahai Lukman, kemarin aku minta bagian paling baik, kau bawakan hati dan lidah. Kini aku minta bagian paling buruk, kau bawakan juga hati dan lidah. Apa maksudnya?"

Dengan tenang Lukman menjelaskan, "Wahai tuan, itulah faktanya. Tidak ada bagian tubuh yang lebih bagus dibandingkan hati dan lidah jika keduanya baik. Dan tidak ada bagian tubuh yang lebih buruk dibandingkan hati dan lidah jika keduanya buruk."

Dari kisah ini, Gus Fahmi mengambil hikmah tentang pentingnya menjaga hati dan lisan. Terlebih di bulan Ramadan, keduanya menjadi penentu apakah puasa seseorang mendapatkan pahala atau hanya sekadar menahan lapar dan dahaga.

Gus Fahmi kemudian mengutip sabda Nabi Muhammad SAW tentang pentingnya hati:

*"أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ"*

Artinya: "Ingatlah, di dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ingatlah, segumpal daging itu adalah hati." (HR. Bukhari dan Muslim)

Menurut Gus Fahmi, manusia dianggap baik ketika hatinya baik, dan dianggap rusak ketika hatinya rusak. Demikian pula dengan lisan, betapa pentingnya menjaga ucapan. Ia mengutip pepatah Arab:

*"سَلَامَةُ الْإِنْسَانِ فِي حِفْظِ اللِّسَانِ"*

Artinya: "Keselamatan seseorang itu tergantung pada menjaga lisannya."

Lebih lanjut, Gus Fahmi mengingatkan sabda Nabi yang sangat terkenal:

*"مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ"*

Artinya: "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia berkata yang baik atau lebih baik diam." (HR. Bukhari dan Muslim)

"Di bulan Ramadan ini, hendaknya kita berusaha semaksimal mungkin menjaga hati dan lidah kita. Jangan sampai hati dan lidah kita justru membatalkan pahala puasa," tegas Gus Fahmi.

Ia menjelaskan perbedaan mendasar antara hal yang membatalkan puasa dan hal yang membatalkan pahala puasa. "Hal yang membatalkan puasa adalah apa yang masuk ke mulut kita, seperti makan, minum, rokok, dan lain sebagainya. Tetapi hal yang membatalkan pahala puasa adalah apa yang keluar dari mulut kita, seperti kata-kata buruk, hinaan, dan ghibah," paparnya.

Gus Fahmi kemudian mengutip sabda Nabi yang menjadi peringatan keras bagi umat Islam:

*"رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ"*

Artinya: "Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi ia tidak mendapatkan apa pun dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga." (HR. Ibnu Majah)

Menurut Gus Fahmi, hadits ini menggambarkan orang yang tidak mendapatkan pahala dari puasanya karena tidak mampu menjaga hati dan lisannya. "Ketika lisan ini sudah mengeluarkan kata-kata kotor, kata-kata buruk, apalagi menyinggung perasaan orang lain, itu ibarat anak panah yang telah lepas dari busurnya. Sangat sulit kita cabut kembali," ungkapnya.

Di akhir tausiah, Gus Fahmi menyampaikan pepatah Arab yang sarat makna:

*"جَرْحُ السِّنَانِ لَهُ الْتِئَامُ وَلَا يَلْتَئِمُ مَا جَرَحَ اللِّسَانُ"*

Artinya: "Bila pedang melukai tubuh, masih ada harapan sembuh. Bila lisan melukai hati, ke mana obat hendak dicari?"

"Karena itu, jangan sampai puasa kita ini menjadi puasa yang batal pahalanya hanya gara-gara kita tidak mampu menjaga hati dan lisan kita. Puasa bukan sekadar menahan apa yang masuk ke mulut, tetapi juga menjaga apa yang keluar dari mulut," pungkas Gus Fahmi mengakhiri tausiahnya di bulan suci Ramadan.(san)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow