Hasil Autopsi Temukan 5 Sayatan di Leher dan Luka Gigitan, Polisi Belum Simpulkan Motif Kasus
Hasil autopsi S (64) menunjukkan lima sayatan fatal di leher yang memutus urat nadi. Meski hasil medis telah keluar, Polsek Boyolangu belum bisa menyimpulkan apakah korban dibunuh atau bunuh diri
Tulungagung, (afederasi.com) – Tim Kedokteran Forensik RSUD dr. Iskak Tulungagung akhirnya merampungkan proses autopsi terhadap jenazah SK (64), lansia asal Desa Gedangsewu, Kecamatan Boyolangu yang ditemukan tewas mengenaskan. Berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan pada Rabu (15/4/2026) malam, ditemukan sejumlah fakta medis yang cukup mengejutkan terkait penyebab kematian korban.
Kanit Reskrim Polsek Boyolangu, Aiptu Wahyudi, mengungkapkan bahwa pemeriksaan luar menunjukkan adanya luka serius yang terpusat di satu titik.
Ia menyebutkan terdapat lima sayatan di bagian leher korban yang berada dalam satu area yang sama. Sayatan tersebut diduga kuat menjadi penyebab utama kematian karena memutus pembuluh darah vital.
“Penyebab kematian sementara diduga kuat akibat terputusnya pembuluh nadi di sisi kiri leher,” ujar Wahyudi saat dikonfirmasi usai proses autopsi.
Selain luka sayatan yang mematikan, tim forensik juga menemukan adanya bekas luka gigitan pada tangan korban. Temuan ini menambah daftar teka-teki dalam kasus ini, mengingat polisi belum bisa menyimpulkan asal maupun jenis luka gigitan tersebut.
Wahyudi menegaskan bahwa seluruh detail medis, termasuk panjang luka secara presisi, baru akan tertuang dalam resume hasil autopsi resmi yang dirilis esok hari.
Mengenai motif di balik peristiwa ini, pihak kepolisian masih bersikap hati-hati dan belum berani menyimpulkan apakah korban murni bunuh diri atau menjadi korban tindak pidana pembunuhan.
Hingga saat ini, penyidik masih terus mengumpulkan data dan menganalisis kesesuaian antara luka pada tubuh korban dengan fakta di lapangan.
“Semua masih dalam proses penyelidikan. Hasil lengkap akan kami sampaikan setelah seluruh data terkumpul,” tegasnya.
Sejauh ini, polisi telah memeriksa empat orang saksi yang merupakan lingkaran terdekat korban, yakni dua anak kandung dan dua menantu.
Meski telah melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) lanjutan, petugas mengaku belum menemukan bukti baru yang signifikan untuk mengarahkan kesimpulan kasus.
Jenazah SK sendiri telah diserahkan kembali kepada pihak keluarga untuk segera dimakamkan setelah proses medis selesai. Di sisi lain, pihak berwenang mengimbau agar masyarakat tidak menyebarkan spekulasi liar yang belum terbukti kebenarannya sebelum rilis resmi dikeluarkan.
“Kami minta masyarakat menunggu hasil resmi untuk menghindari spekulasi yang belum pasti,” pungkas Wahyudi.(riz/dn)
What's Your Reaction?



