Dinas Pertanian Jombang Rekomendasi Teknis Petani Tembakau Hadapi Anomali Cuaca

02 Jun 2026 - 15:58
Dinas Pertanian Jombang Rekomendasi Teknis Petani Tembakau Hadapi Anomali Cuaca
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jombang,Ir. Much Rony saat di temui di ruang kerjanya, Selasa (02/06/2026). (Foto: Santoso/afederasi.com)

Jombang, (afederasi.com) – Cuaca tak menentu yang melanda Kabupaten Jombang sepanjang awal musim kemarau 2026 membuat para petani tembakau merasa was-was.

Kekhawatiran utama para petani adalah masih berpotensinya hujan turun di wilayah Jombang, yang dapat mengganggu kualitas dan hasil panen tembakau, komoditas unggulan daerah tersebut.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jombang, Ir. Moch Rony, mengapresiasi besarnya potensi tembakau di daerahnya. Namun, ia mengakui bahwa dalam tiga tahun terakhir terjadi fluktuasi luas tanam yang signifikan. 

Pada tahun 2025, luas tanam tembakau di Kabupaten Jombang, cenderung menurun drastis akibat fenomena kemarau basah yang dipicu anomali cuaca.

"Tahun 2025, sekitar 1.000 hektare lahan terpaksa beralih ke tanaman padi dan palawija. Mudah-mudahan di tahun 2026 ini, sesuai perkiraan cuaca dari BMKG, kondisinya normal. Ini sangat mendukung pertumbuhan tembakau," terang Moch Rony kepada media afederasi.com pada Selasa (02/06/2026).

Rony menambahkan, jika kondisi cuaca benar-benar normal, luas tanam tembakau di Jombang berpotensi kembali ke angka ideal yaitu 6.000 hingga 6.500 hektare. "Kami berharap musim tanam tembakau 2026 cuacanya normal dan luasan lahan bisa kembali normal," imbuhnya.

Sebagai pembina komoditas tembakau, Dinas Pertanian Kabupaten Jombang terus mengawal sisi budidaya dengan berkolaborasi bersama Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI).

Kabupaten Jombang memiliki dua varietas tembakau unggul yang telah dilepas secara nasional, yakni Jinten Pakpie 1 dan tembakau jenis Manilo.

"Kami berharap Jombang bisa menjadi tuan rumah di negerinya sendiri untuk meningkatkan produksi tembakau," tegas Rony.

Selain pendampingan teknis, sektor pembenihan tembakau di Jombang juga didukung oleh alokasi dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBH CHT) seperti tahun-tahun sebelumnya. 

Dana tersebut dialokasikan untuk penyediaan pupuk non subsidi, alat perajang tembakau, serta pembangunan rumah jamuran untuk proses pengeringan guna meningkatkan produksi dan kualitas hasil panen.

Menyikapi prediksi BMKG yang semula menyebut akan terjadi kemarau panjang namun realitas di lapangan masih turun hujan, Dinas Pertanian memberikan sejumlah rekomendasi teknis. 

Menurut Rony, petani di wilayah Utara Brantas yang sudah memiliki pola pikir (mindset) menanam tembakau saat kemarau karena keuntungannya yang menjanjikan, perlu melakukan dua hal krusial.

"Pertama, saluran drainase di lahan dibuat lebih dalam agar air tidak menggenangi akar. Kedua, tanam tembakau dengan sistem single row (satu baris), jangan double row. 

Satu guludan cukup satu tanaman tembakau saja. Ini lebih mengamankan dan efisien agar pertumbuhan maksimal meskipun masih ada hujan," pungkas Moch Rony.

Dengan langkah adaptif ini, diharapkan produksi tembakau Jombang tetap terjaga meskipun ancaman anomali cuaca masih membayangi para petani. (san)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow