Soal Video Viral Sekolah Tolak Paket MBG, Begini Respons Ketua Satgas Lamongan
"Terhadap penolakan sekolah terhadap MBG karena sering terlambat, akan kita cek lapangan baik ke sekolah maupun SPPG-nya," ujar M. Nalikan saat dikonfirmasi, Kamis (4/6/2026) pag.
Lamongan, (afederasi.com) – Menanggapi video viral terkait aksi penolakan puluhan paket Makanan Bergizi Gratis (MBG) oleh seorang guru di salah satu sekolah di Lamongan akibat keterlambatan pengiriman, pihak Satuan Tugas (Satgas) MBG Lamongan bersama Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) langsung memberikan klarifikasi dan mengambil tindakan cepat di lapangan.
Ketua Satgas MBG Lamongan, M. Nalikan, menegaskan bahwa pihaknya tidak tinggal diam mengenai persoalan ini. Langkah pengecekan langsung ke lokasi akan segera dilakukan guna mengevaluasi kinerja dan manajemen waktu dari pihak penyedia maupun respons dari sekolah bersangkutan.
"Terhadap penolakan sekolah terhadap MBG karena sering terlambat, akan kita cek lapangan baik ke sekolah maupun SPPG-nya," ujar M. Nalikan saat dikonfirmasi, Kamis (4/6/2026) pag.
Lebih lanjut, M. Nalikan menekankan pentingnya peran aktif dari pihak sekolah dalam memantau jalannya program nasional ini. Sekolah diharapkan tidak hanya menjadi penerima pasif, melainkan juga instrumen kontrol kualitas demi memastikan para siswa mendapatkan hak gizi mereka secara optimal dan tepat waktu.
"Terima kasih atas informasinya dan kami berharap sekolah harus aktif melaporkan baik masakan, kadar gizi, maupun ketepatan waktunya," tambah M. Nalikan.
Sementara itu, dari pihak pengelola dapur produksi, Kepala SPPG Lebakadi Sugio, Zumrotion Nisa', membenarkan adanya insiden tersebut. Kendati demikian, ia memastikan bahwa situasi saat ini sudah terkendali setelah dilakukan komunikasi intensif dengan pihak sekolah yang bersangkutan.
"Nggeh kak, kemarin itu ada kesalahpahaman dan sudah clear," ungkap Zumrotion Nisa' saat dihubungi terpisah.
Ketika dikonfirmasi mengenai akar penyebab keterlambatan yang memicu aksi protes tersebut, Zumrotion membeberkan tantangan logistik yang sangat berat di lapangan. Luasnya wilayah cakupan distribusi serta kondisi geografis menjadi faktor utama yang menghambat ritme pengiriman di pagi hari.
"Nggeh kak, karena banyaknya jumlah lembaga yaitu 51 dan rutenya jauh-jauh dan medannya curam. Jadi kita kendalanya di medan dan banyaknya jumlah lembaga, dan itu rata-rata semuanya porsi kecil mintanya pagi semua sebelum jam 9," bebernya merinci kendala operasional yang dihadapi timnya. (yan)
What's Your Reaction?



